Empat Tokoh Yahudi Hadiri Konferensi Palestina di Indonesia

Jakarta (ANTARA News) - "Anaa Yahudi, Laa Zionis (saya orang Yahudi tapi bukan Zionis)", begitu tertulis dalam bahasa Arab di tanda pengenal dua Pendeta Yahudi, Rabi Aharon Cohen dan Rabi Yisroel David Weiss, saat menghadiri Konferensi Internasional Palestina di Universitan Indonesia.

Seperti pendeta Yahudi lainnya, Cohen dan Weiss juga selalu memakai baju gamis panjang serba hitam dan topi khas imam penganut agama Nabi Musa itu.

Cohen adalah jurubicara Neturai Karta di Inggris dan Weiss merupakan jurubicara Neturai Karta Internasional, Amerika Serikat.

Selain Cohen dan Weiss, terdapat pula dua tokoh Yahudi lagi yang dikenal sebagai cendekiawan, yaitu Prof Dr Stephen Sizer, pendiri Lembaga Studi Kristen Zionisme, dan Prof Dr Alex Awad, dosen Bethlehem Bible College di Jerusalem.

Setiap para tokoh Yahudi itu tampil berbicara dalam konferensi Palestina tersebut, mereka disambut antusias dari 600 peserta dan tepukan tangan riuh pun menggema di ruang pertemuan Wisma Makara, Universitas Indonesia, Depok, Jabar.

Konferensi dua hari, 14-15 Mei, yang bertema "Kemerdekaan dan Hak Kembali Pengungsi Palestina dan 60 Tahun Pembersihan Etnis itu diprakarsai oleh Universitas Indonesia dan "Voice of Palestine: Indonesian Society of Palestine Freedom" di UI Depok, Jawa Barat.

Konferensi yang menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan internasional itu diadakan untuk memperingati 60 tahun kekejian Israel di Palestina.

Saat berbicara di konferensi itu, keempat pemuka Yahudi menekankan bahwa terdapat garis perbedaan tegas antara Yahudi dan Zionisme.

"Banyak kalangan internasional mengira bahwa Yahudi adalah Zinonisme dan Zionisme adalah Yahudi. Ini pemahaman yang sangat keliru," kata Pendeta Weiss.

Menurut dia, Yahudi adalah sebuah agama seperti Islam dan Kristen, sementara Zionisme adalah gerakan politik yang bertentangan dengan ajaran Tawrat (Kitab Suci yang diturunkan kepada Nabi Musa).

Pernyataan senada diutarakan Pendeta Cohen, "Kamus politik Zionisme adalah membunuh dan mengusir orang-orang tak bersalah. Sesungguhnya ini bertolak belakang dengan ajaran Yahudi yang mengajarkan kebaikan, kedamaian dan keadilan."


Bertemu Qardhawi

Menjelang berkunjung ke Indonesia, kedua pendeta Yahudi anti-Zionis ini menyempatkan diri bersilaturrahim dengan ulama kharismatik, Syeikh Yusuf Qardhawi, di Doha, Qatar, pada awal Mei ini.

Seperti diberitakan Kantor Berita Islam Internasional (IINA), Syeikh Qardhawi dalam pertemuan muhibah dengan kedua pendeta Yahudi itu, membantah ada permusuhan antara Muslim dan Yahudi, dan menegaskan Islam hanya menentang gerakan permusuhan dan ekspansionisme Zionis.

"Tidak ada permusuhan antara Islam dan Yahudi," tegas Syeikh Qardhawi, yang mengetuai Uni Internasional untuk Cendekiawan Muslim (IUMS) itu.

Pakar kebudayaan Islam alumnus Universitas Al-Azhar Mesir itu mengungkapkan bahwa selama berabad-abad warga Yahudi telah hidup dalam kedamaian di negara-negara Muslim.

"Warga Yahudi adalah orang-orang terkaya di Mesir dan di sejumlah negara Muslim lainnya," kata Qardhawi.

Pendeta Cohen mengamini pernyataan Syeikh Qardhawi, "Warga Yahudi tidak menemui masalah ketika hidup di negara-negara Muslim."

Syeikh Qardhawi menegaskan Muslim dan Yahudi memiliki latar belakang sama sebagai pengikut dua agama syamawi (langit).

"Kaum Yahudi yang percaya kepada Kitab Taurat yang asli adalah sangat dekat dengan Islam," ujar ulama cendekia yang buku-bukunya telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia itu.

"Para pengikut kedua agama itu memiliki kesamaan dalam sejumlah ritual dan praktek ibadah seperti khitan bagi lelaki, penyembelihan hewan halal, haram daging babi dan pelarangan patung apa pun di dalam masjid dan sinagog (gereja Yahudi)," ujarnya.

Syeikh Qardhawi mengemukakan warga Muslim dan Yahudi sama-sama mengalami penyiksaan setelah jatuhnya kekuasaan Islam di Andalusia, kini Spanyol.

Ia mengimbau umat Islam dan Yahudi, yang percaya kepada satu Tuhan, sepatutnya bergandengan tangan untuk memberantas atheisme, pornografi, perkawinan sejenis, dan ketidakadilan.

Syeikh Qardhawi pada 25 Februari lalu memprakarsai suatu perhimpunan Cendikiawan Islam dan para pakar antar-iman, menerbitkan surat terbuka bagi masyarakat Yahudi dunia yang menyerukan suatu dialog untuk mempererat hubungan antara Muslim dan Yahudi.

Syeikh Qardhawi menegaskan hubungan antara Muslim dan Yahudi terkendala munculnya Zionisme dan pembentukan negara Israel di atas puing-puing Palestina.

"Islam menentang ekspansionis dan gerakan Zionisme yang menindas, dan bukan memusuhi kaum Yahudi," katanya.

Seperti tampak dalam konferensi di Indonesia, para pendeta Yahudi yang berkunjung ke Rumah Syeikh Qardhawi, juga mengenakan lencana di dada baju mereka bertulis "Saya orang Yahudi bukan Zionis dan berbagi keyakinan yang sama".

Zionisme adalah suatu gerakan politik internasional yang didirikan oleh Yahudi Hongaria, Theodor Herzl, pada 1897, dan berlanjut hingga memproklamirkan kemerdekaan negara Israel di tanah Palestina pada 14 Mei 1948.

Gerakan Zionis Hezl itu disebarkan kepada warga Yahudi yang tertindas di Eropa dengan mengiming-iming mereka untuk kembali ke Palestina, yang diklaimnya sebagai tanah leluhur.


Tragedi kemanusiaan

Pendeta Cohen menilai berdirinya negara Israel adalah sebuah tragedi kemanusiaan, karena mereka (kaum Zionis) melakukan pembantaian dan berlaku sewenang-wenang terhadap orang-orang yang mereka tidak sukai.

Pembantaian yang dilakukan Zionis itu bukan saja warga Palestina, tapi juga warga Yahudi, seperti dialami keluarga Alex Awad, dekan Bethlehem Bible College.

Prof Awad dalam konferensi itu menayangkan gambar-gambar keluarganya di Desa Misrara di Jerusalem yang menderita akibat ulah Zionis.

"Ayah saya yang berprofesi sebagai dokter ditembak mati di depan rumahnya di Misrara oleh Hagana (kelompok teroris Yahudi)," katanya dengan nada sedih.

Kejadian mengenaskan itu terjadi beberapa saat setelah kemedekaan Israel, ketika Awad berusia 11 tahun.

Alhasil, konflik Israel-Palestina sejatinya bukan perselisihan antar agama.

Buktinya, umat Islam dan Kristiani di Palestina sama-sama berjuang melawan penjajah Zionis untuk merebut kemerdekaan. (*)