Kejujuran Jadikan Engkos Hidup Bahagia

Garut (ANTARA News) - Kejujuran selama mengabdikan diri kepada negara untuk memberikan jasa layanan kepada masyarakat, menjadikan Engkos hidup bahagia meski dijalaninya dengan kondisi sangat sederhana.

Lelaki berusia 90 tahun itu, mengaku mulai pensiun dari pegawai Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) pada 1973 ketika berusia 56 tahun, yang hingga kini hidup hanya dengan gaji pensiunannya setiap bulan Rp800 ribu.

Sempat memiliki rumah sederhana di kampung, namun terpaksa dijual untuk modal usaha empat anaknya di Bandung, sehingga terpaksa kembali mendiami rumah dinas berbentuk bedeng di depan Stasiun KA Kadungora, katanya kemarin.

Rumah kusam yang ditempati tersebut, berukuran sekitar 12 m2 merupakan salah-satu bagian bangunan bedeng, yang dikontraknya dari pegawai aktif sebesar Rp200 ribu setiap tahun.

Dia menyebutkan, pegawai Kereta Api (KA) sekarang jauh lebih sejahtera dibandingkan ketika Engkos menjalani pekerjaan teknisi yang mengikuti setiap perjalanan KA kemanapun.

Meski pada 1961 mulai beroperasi lokomotif Diesel, namun kerap diguyur hujan melakukan perbaikan kerusakan rem di bawah kolong KA yang mogok diatas jembatan.

Bahkan perjalanan KA sering terganggu sergapan pasukan DI/TII, sehingga terpaksa berhenti selama beberapa jam sambil menunggu anggota Mobil Brigade (MOBRIG), yang sekarang bernama BRIMOB melakukan perlawanan.

Malahan rumah bedeng di depan Stasiun Kelas III Kadungora itupun bekas asrama MOBRIG, yang kerap melakukan pengawalan perjalanan KA dari depan dengan kendaraan panser, katanya.

Kondisi tersebut diperparah sering mogoknya KA diperjalanan, mengakibatkan waktu tempuh Surabaya - Jakarta tidak bisa secepat sekarang, malahan acap berlangsung hingga mencapai 24 jam lebih.

Selama menjadi pegawai-pun, yang terpikirkan hanya berkerja dan terus bekerja tanpa memiliki keberanian untuk macam- macam menelikung uang dinas, ujar Engkos dengan tutur katanya yang terbata-bata.

Dia mengaku takut ketahuan kemudian dipecat dari pegawai, sehingga keluarganya tidak bisa diberi makan sedangkan rekannya yang lain selain sering mangkir kerja juga bekerja sambil berbisnis macam-macam.

Maka dirinyapun tidak heran, jika rekannya dahulu selain kini umumnya memiliki rumah "gedong" (permanen) juga banyak yang bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi.(*)