Seandainya Saya Bisa ke Indonesia

Bagi sebagian masyarakat yang tinggal di Eropa, nama Indonesia mungkin agak asing, namun bukan berarti tidak mengenal sama sekali, beberapa diantara mereka bahkan ingin ke Indonesia walaupun ongkos yang dikeluarkan menurut mereka tidak sedikit.

"Saya ingin ke Indonesia, hmm...tapi tentu saya perlu mengumpulkan uang untuk ke sana," kata Klaus (24) seorang mahasiswa Jerman yang sedang membuat sebuah tugas akhir periklanan tak jauh dari Gerbang Bradenburg, Berlin, Rabu (16/12).

Klaus beserta empat temannya sedang membuat sebuah tugas akhir di bidang periklanan dengan produk kue coklat. Sejumlah orang yang mereka temui diminta untuk berpose dengan kue coklat untuk dibuat semacam video klip.

"Anda dari mana," kata Claus saat menyapa ANTARA News yang tengah berada di lokasi tersebut, bersamaan dengan kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di ibukota Jerman itu.

Ketika mendengar nama Indonesia, spontan Klaus mengenal dimana Indonesia dan bertanya apa yang dilakukan warga di negeri ribuan pulau itu saat natal.

"Menarik sekali, ya di sana," katanya setelah mendengar apa yang dilakukan umat Kristiani Indonesia saat natal, lengkap dengan makanan khas di masing-masing daerah.

Tak hanya Klaus yang tertarik ingin ke Indonesia, Aline (14) seorang anak pegawai Istana Kepresidenan Jerman yang ikut menyambut kedatangan Presiden Yudhoyono saat bertemu Presiden Horst Kohler di Istana Schloss Bellevue, Berlin.

"Saya ingin ke Indonesia, ingin tahu apa yang ada di sana," katanya.

Aline mengaku senang bisa berjabat tangan langsung dengan Presiden Yudhoyono, meski belum pernah ke Indonesia dan ia berharap suatu hari nanti bersama keluarganya bisa berkunjung ke negara yang sepanjang musim diterpa sinar matahari itu.

Keinganan yang wajar. Saat Presiden Yudhoyono tiba di Berlin, musim dingin mulai mencapai puncaknya ditandai dengan mulai turun salju. Beruntung saat rombongan berada di Berlin suhu udara hanya sampai minus dua derajat celcius, sementara saat rombongan sudah di Kopenhagen, di Berlin bahkan suhu mencapai minus 16 derajat celsius.

Presiden Yudhoyono didampingi oleh Ibu negara Ani Yudhoyono beserta sejumlah menteri dan gubernur melakukan kunjungan kerja ke Eropa selama hampir sepekan.

Kunjungan utama Presiden adalah menghadiri KTT Iklim di Kopenhagen, Denmark yang dihadiri oleh 25 kepala negara dan kepala pemerintahan.

Bila Klaus dan Aline masih bermimpi untuk ke Indonesia, berbeda dengan Jeff (50) staf lokal KBRI di Paris. Bukan hanya pernah ke Indonesia, pria tersebut bahkan bisa menguasai bahasa Jawa sehalus penutur asli bahasa tersebut.

Paimin, demikian Jeff menyebut nama Indonesianya, lama tinggal di Wonogiri, Yogyakarta. Ia berada di sana selama 14 tahun sebelum kembali ke Perancis. Sesekali, Paimin masih suka datang ke negeri yang sarat dengan budaya lokal itu.

Sama dengan Jeff, warga Perancis lainnya, Herse Brohan (54) bahkan beristrikan orang Indonesia.

"Di sini dingin ya," kata Brohan menyapa wartawan Indonesia saat menunggu iring-iringan mobil Presiden Yudhoyono berangkat di Bandara Orly, Paris.

Brohan, yang bertugas sebagai salah satu liason officer lokal dalam kunjungan Presiden kali ini mengatakan istrinya berasal dari etnis Betawi dan rumah mertuanya berada di Ciputat, Tangerang.

"Mungkin Februari nanti saya ingin pulang ke Jakarta untuk berlibur, saya merindukan suasana di sana," katanya diikuti dengan senyum.

Hubungan ekonomi

Meski sempat menurun akibat krisis yang melanda Indonesia, dalam tahun-tahun terakhir ini pendekatan dan peningkatan hubungan ekonomi antara Indonesia dan sejumlah negara di Eropa khususnya yang tergabung dalam Uni Eropa terus ditingkatkan.

Belum lama ini, Indonesia dan Uni Eropa telah menandatangani kerja sama kemitraan strategis.

Perjanjian kerja sama kemitraan merupakan kesepakatan kerja sama komprehensif yang terdiri dari 7 bab dan 50 pasal mengenai kesepakatan Uni Eropa dan Indonesia untuk meningkatkan hubungan bilateral dalam bidang politik dan kerja sama teknis seperti ekonomi, perdagangan, investasi dan sebagainya.

Perjanjian itu merupakan kesepakatan komprehensif pertama antara Uni Eropa dengan negara di kawasan Asia Timur. walaupun perjanjian itu secara de jure belum dapat dilaksanakan karena harus melalui ratifikasi oleh masing-masing pihak namun eksplorasi kerja sama bidang perdagangan, investasi, perubahan iklim, pemberantasan teroris dan pendidikan serta kebudayaan juga energi sudah dirancang.

Kerja sama dengan Uni Eropa juga berbentuk dialog hak asasi manusia antara Indonesia dan Uni Eropa yang disepakati berlangsung setiap tahun secara bergantian dan diawali pada kuartal pertama 2010.

Hubungan dengan Uni Eropa memang dipandang menarik dan masih menyimpan banyak potensi untuk dikembangkan. data resmi dari Kedutaan besar RI di Belgia, pada 2008 total perdagangan kedua pihak mencapai 20 miliar Euro.

Sementara dengan Jerman, Kanselir Angela Merkel saat bertemu dengan Presiden Yudhoyono mengatakan dalam tahun-tahun ke depan akan dijajaki peningkatan kerja sama.

Dalam kesempatan itu Angela Merkel juga mengatakan pada 2011 mendatang ia akan mengunjungi Indonesia sebagai salah satu upaya peningkatan kerja sama kedua negara yang terus berkembang.

Kanselir mengatakan hubungan baik dengan Indonesia juga diwujudkan dalam sejumlah bantuan kemanusiaan saat Indonesia dilanda bencana alam serta bantuan proyek clean development mechanism.

"Meski situasi ekonomi saat ini dalam krisis keuangan namun Jerman tetap memiliki komitmen untuk membantu negara berkembang," katanya.

Sementara di Perancis, Presiden Nicolas Sarkozy mengatakan pihaknya ingin kemitraan strategis tanpa batas antara Indonesia dengan Perancis.

"Prancis sangat lugas menekankan Indonesia sebagai negara yang berpengaruh secara global dan ingin adanya kemitraan strategis tanpa batas," kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa.

Marty menambahkan, potensi kerjasama strategis itu sangat terbuka di berbagai bidang seperti ekonomi, pendidikan, teknik, sosial budaya dan juga politik.

"Tahun depan (2010) adalah peringatan 60 tahun hubungan diplomatik kedua negara dan itu merupakan momen yang tepat untuk mencanangkan kerjasama strategis itu. Presiden Sarkozy direncanakan mengunjungi Indonesia pada 2010 atas undangan Presiden Yudhoyono," kata Marty.

Indonesia dengan segala peluang dan potensi yang dimilikinya memang masih menjadi daya tarik bagi bangsa Eropa, tak hanya Klaus dan Aline saja ternyata yang ingin ke Indonesia, Sarkozy dan Merkel pun tak ingin kalah untuk bisa mengunjungi negeri seribu pulau ini. (*)