Longsor Cikangkareng, Bukan Sekadar Gempa Bumi

Cianjur (ANTARA News) - Apa jadinya jika batu-batu raksasa seukuran kulkas dua pintu atau minubus yang beratnya berton-ton jatuh dari bukit setinggi 200an meter dan berjarak sekitar 300 meter dari Anda, mengejar dengan kecepatan yang lebih cepat dari kemampuan Anda berlari?

Tak perlu dijawab memang.

Tetapi bagi warga kampung Babakan Caringin, Desa Cikangkareng, Kecamatan Cibinong, Cianjur, peristiwa itu bukanlah gambaran khayali pikiran. Merekalah yang menjadi korban keberingasan bencana alam Rabu pekan lalu.

Batu-batu raksasa yang semula terbenam dan direkatkan satu sama lain dalam sebuah rangkaian bukit itu ambrol, begitu gempa bumi 2 September berkekuatan 7,3 skala richter mengguncang paruh selatan Jawa Barat. Cikangkareng dan Cibinong berada di pinggir selatan terjauh provinsi itu.

Bagaikan hasil ledakan sebuah dinamit, bukit di pinggir kampung itu memuntahkan batu-batu besar dalam hitungan detik, berhamburan menghujam, meratakan dan mengubur puluhan rumah, sekaligus membenamkan hidup-hidup puluhan orang yang kebanyakan orang tua, anak-anak, dan wanita.

Padahal, tidak seperti bencana Situ Gintung dan Longsor Girimukti yang terjadi malam hari beberapa bulan sebelumnya, longsor hebat di Cikangkareng itu terjadi siang hari, beberapa detik setelah gempa Jabar mengguncang bumi, Rabu pukul 14.55 WIB pekan lalu.

"Suaranya bagaikan guntur, saya lihat batu besar-besar `racleng`. Saya berlari sekencang mungkin ke arah selatan," kata Samsudin, 45 tahun, warga Kampung Pamoyanan, yang rumahnya hanya berjarak 200 meter dari berhentinya gerakan masif batu-batu raksasa itu.

"Racleng" merupakan kata bahasa sunda yang berarti bergerak sporadis dalam kecepatan tinggi.

Sampai Minggu (6/9) malam, 40an orang warga dua desa yang berbatasan itu terkubur oleh ribuan ton batu raksasa yang diperkirakan menutupi areal seluas lima hektare.

"41 orang masih terkubur, sedangkan 29 orang meninggal dunia," kata Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah Cianjur Supardan mengonfirmasikan statistik terakhir longsor batu cadas akibat gempa bumi di daerah itu, Minggu.

Korban tewas terbaru yang ditemukan hari Minggu itu adalah perempuan berusia 35 tahun bernama Nuryani, warga Kampung Babakan Caringin, setelah sehari sebelumnya tim penyelamat menemukan dua mayat sekaligus, yaitu seorang ibu dalam kondisi memeluk bayi berusia tiga bulanan.

Tebing

Korban tertimbun memang terus dicari sampai tujuh hari setelah bencana, sesuai ketentuan UU penanganan bencana, namun tim penyelamat mengaku sulit menemukan lagi korban, mengingat batu-batu raksasa menutupi situs bencana dengan ketinggian hampir enam meter. Kalau pun ditemukan, kondisi mayat sudah tidak utuh lagi.

"Ada yang cuma hidungnya, tangannya, kakinya. Saya bahkan tidak kuat melihatnya lama-lama," kata Supardan.

Pencarian difokuskan di sebuah rawa, yang diyakini tempat sebagian korban terkubur, karena mencari di bawah tumpukan batu sangatlah kecil kemungkinannya, kendati alat-alat berat dikerahkan ke sana.

"Kebanyakan korban ditemukan di sini, tadi pagi saja satu korban lagi ditemukan di sini," kata Isfar Marja, seorang relawan dari tim yang dikoordinasi sebuah parpol besar di Cianjur.

Kampung Babakan Caringin dan sekitarnya berada di barat rangkaian bukit berbentuk segitiga siku-siku. Bagian timur bukit itu selamat dari reruntuhan batu karena reliefnya landai 45 derajat, tidak seperti di sisi barat.

Karena menempati kawasan bertebing, maka desa itu disebut Cikangkareng yang diambil dari kata "kangkareng" yang berarti tebing batu.

Di punggung dan puncak bukit merentang jalan berkelok yang tampaknya hanya truk-truk pengangkut kayu dan hasil-hasil perkebunan rakyat yang sering lewat sehingga jalan beraspal seadanya itu rusak, tinggal bebatuan.

Hanya beberapa depa dari puncak bukit yang ambrol itu, berdiri sebuah bukit lain yang kondisinya gundul, seperti banyak ditemui di kawasan selatan Cianjur.

Namun, mengutip Kepala Dinas Kehutanan dan Konservasi Tanah Kabupaten Cianjur Ma`mun Ibrahim, lahan sekitar situs bencana bukan lahan kritis.

Ma`mun enggan mengomentari keluhan sejumlah kalangan, termasuk warga sekitar bencana, bahwa longsor bebatuan raksasa itu ada hubungannya dengan kondisi bukit yang memang sudah rentan. "Itu akibat gempa bumi kok, tidak ada hubungannya dengan kondisi lahan," katanya berkilah.

Labil

Boleh jadi Ma`mun benar. Gempa bumi memang kuat mengguncang Cianjur dan sekitarnya, tetapi getaran gempa bumi sangat mungkin adalah puncak dari ketidakmampuan bukit segitiga siku-siku itu dalam menyangga bebannya karena tumpukan batu raksasa di dalamnya sudah tidak bisa lagi direkat oleh tanah, akibat berkurangnya resapan air.

"Kondisi tanah di daerah situ memang labil. Kami sudah lama memperkirakan bukti itu akan ambruk, sebelum gempa bumi terjadi," kata Bahrudin Ali, Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Pertambangan (PSDAP) Kabupaten Cianjur atau dulu dikenal Bina Marga.

Ironisnya, posisi bukit runtuh itu terdapat pada hampir semua daerah di Jawa Barat, sementara kawasan mukim seperti Desa Cikangkareng bukanlah satu-satunya di provinsi ini, atau bahkan di seluruh Indonesia. Kawasan-kawasan seperti ini umum rawan bencana.

Mungkin karena alasan itu, pemerintah Provinsi Jawa Barat enggan menyetujui eksploitasi masif daerah selatan Jawa Barat, karena di samping mengancam keselamatan budaya setempat, juga dikhawatirkan merusak lingkungan, mengingat eksploitasi bisnis di daerah kerap tanpa kendali, tanpa mempertimbangkan harmoni alam.

Lebih jauh, gempa disusul longsor cadas di Cikangkareng mengajarkan orang mengenai kewajiban untuk berhati-hati mengelola alam, karena aktivitas ekonomi yang hanya hirau pada untung, laba dan pencapaian materil, telah berulangkali menyengsarakan masyarakat.

Tanah merah yang sudah renggang makin keropos ikatannya karena serapan air merenggang akibat hutan-hutan digunduli, dan saat bersamaan truk-truk menggetarkan tanah yang sudah keropos itu, sehingga gempa bumi mungkin bukan satu-satunya faktor pemicu tragedi di Cikangkareng.

Buktinya, gempa Rabu itu memang besar, tetapi rumah-rumah di selatan Cianjur, dari Sindang Barang sampai Sukanagara, kokoh berdiri. Bahkan, sebagian besar rumah di Desa Pamoyanan yang hanya sepelemparan batu dari Kampung Babakan Caringin, Desa Cikangkareng, umumnya tegak berdiri, karena ada di dataran landai dan agak jauh dari bukit runtuh.

Cikangkareng mungkin merupakan satu dari ratusan longsor hebat yang acap dianggap mululu bencana alam tetapi sesungguhnya ada andil tangan kotor manusia di dalamnya.

Maka kemudian, bencana itu seolah mengajarkan pada kita bahwa elok-eloklah mengelola alam, berhati-hatilah beradministrasi lingkungan, dan pahamilah alam laksana anatomi tubuh.

"Satu bagian sakit, sakitlah seluruh tubuh," kata enviromentalis James Lovelock yang kesohor dengan Hipotesis Gaia-nya.
(*)