Rumput laut Indonesia berkhasiat jadi antitumor

Jakarta (ANTARA News) - Angka penderita kanker di dunia terus menunjukkan peningkatan, kematian akibat kanker pun seakan merambat pasti dan membuat kanker sebagai salah satu persoalan terbesar di bidang kesehatan saat ini.

Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia, diperkirakan 11-12 juta orang di dunia tengah menderita kanker dan lebih dari separuhnya tinggal di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Di Indonesia, sedikitnya terdapat 200.000 orang penderita kanker baru per tahunnya. Dua jenis kanker dengan angka kejadian yang sangat tinggi adalah kanker mulut rahim (serviks) dan kanker payudara.

Tingkat kematian akibat kanker mulut rahim di Indonesia sangat mengerikan, di mana sekitar satu orang meninggal dunia setiap jamnya.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Faktor pertama terletak di keterlambatan diagnosa. Banyak penderita kanker tidak benar-benar sadar bahwa dirinya tengah menderita kanker hingga tahapan di mana kondisi sudah demikian kritis.

Alasan lain adalah obat kanker yang ada sekarang ini memang memiliki efektivitas yang tidak maksimal membunuh sel-sel kanker. Di sinilah upaya pencarian obat antitumor baru sangat diperlukan.

Di Tanah Air, para peneliti bergiat mencari peluang-peluang obat antitumor ini ke berbagai penjuru. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan kekayaan hayati laut.

Riset yang menelusuri potensi manfaat kandungan dalam biota laut sebagai bahan baku obat disebut juga dengan istilah bioprospeksi.

Salah satu hasil riset bioprospeksi kelautan dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi (BBRP2B) Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) adalah potensi rumput laut coklat Turbinaria decurrens sebagai antitumor.

Dalam uji hayati yang telah dilakukan di BBRP2B, terbukti bahwa ekstrak rumput laut coklat bisa membunuh sel tumor mulut rahim. Selain rumput laut coklat, ada pula rumput laut hijau Ulva fasciata dan rumput laut merah Rhodymenia palmata yang punya khasiat membunuh sel tumor payudara.

"Rumput laut kaya akan senyawa flavonoids yang banyak dilaporkan mempunyai efek sebagai antitumor," kata Nurrahmi Dewi Fajarningsih, salah satu peneliti yang terlibat riset ini.

Menurut dia, Indonesia merupakan negeri dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brasil. Ini merupakan peluang yang sangat besar bagi upaya bioprospeksi kelautan.

Senada dengan itu, Kepala Badan Litbang Kementerian Kelautan dan Perikanan Prof. Rizald M. Rompas menegaskan, "Balitbang KP memang mendorong agar pemanfaatan rumput laut tidak hanya terbatas kepada kariginannya."

"Kalau kita berhasil menciptakan industri obat-obatan berbasis rumput laut, hasilnya bisa 5-6 kali lebih besar daripada nilai hasil budidaya ikan di Indonesia setahun," ujar dia.
(E012)