Namibia tertarik kembangkan SRI

Yogyakarta (ANTARA News) - Namibia tertarik untuk menerapkan dan mengembangkan pertanian dengan System of Rice Intensification yang telah dikembangkan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta sejak 2003.

"Konsep padi System of Rice Intensification (SRI) sangat potensial diterapkan di Namibia," kata Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Universitas Namibia Osmud Wandemele di Yogyakarta, Rabu.

Apalagi, menurut dia, Universitas Namibia telah bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) sejak 2008 untuk proyek pengembangan padi dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan. Bahkan, pihaknya sudah beberapa kali mendatangkan pakar dari UGM untuk datang ke Namibia. Namibia memiliki sekitar 2,1 juta penduduk dan lebih dari setengahnya adalah petani.

Ia mengatakan, pihaknya bangga dan senang sekali kerja sama itu sudah berjalan dengan baik. Sebelum adanya kerja sama itu beras merupakan komoditas pangan yang sangat langka di Namibia, karena untuk mendapatkan beras, masyarakat harus membelinya dari negara tetangga, Angola.

"Jadi, masyarakat Namibia tidak bisa jika makan tiga kali dengan nasi. Biasanya nasi dihidangkan jika ada acara pesta keluarga saja," kata Osmud.

Peneliti budi daya padi SRI, Benito Heru Purwanto mengatakan, pengembangan konsep tanam padi SRI sudah diterapkan di Kabupaten Sleman dan Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sejak 2003 dengan menggandeng ribuan petani.

Pada awalnya, menurut dia, untuk memperkenalkan sistem budaya tanam padi SRI di kalangan petani tidak mudah. Petani terbiasa dengan sistem konvensional di mana mereka lebih mudah mendapatkan pupuk, benih, dan sistem tanam secara instan.

Namun, seiring peningkatan produksi, konsep tanam padi SRI mulai bisa diterima oleh kalangan petani. Dengan konsep tersebut produksi padi menjadi meningkat.

Benito yang juga dosen Fakultas Pertanian UGM itu mengatakan, produksi padi meningkat hingga 3--5 ton per hektare dan lebih hemat air. Rata-rata satu hektar bisa panen minimal 9--12 ton.

"SRI terbukti mampu meningkatkan produksi hasil pertanian. Dibandingkan dengan sistem konvensional, konsep tanam padi SRI menggunakan air yang jauh lebih sedikit, jarak tanam lebih lebar, dan hanya menggunakan bibit satu lubang untuk satu tanaman," katanya.

(ANT)