Lahan pertanian produktif di DIY terus berkurang

Bantul (ANTARA News) - Pakar pertanian dari Universitas Gadjah Mada Jamhari mengatakan luas lahan pertanian produktif di Daerah Istimewa Yogyakarta dalam beberapa tahun terakhir terus berkurang rata-rata 0,58 persen per tahun.

"Berkurangnya lahan pertanian di DIY akibat alih fungsi menjadi perumahan atau permukiman, serta bencana alam," katanya dalam workshop Raperda DPRD tentang Pengaturan Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan di Kabupaten Bantul, Rabu.

Dosen sekaligus Dekan Fakultas Pertanian UGM ini mengatakan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan selama kurun waktu lima tahun terakhir alih fungsi lahan berkisar antara 200 hingga 250 hektare per tahun.

Sementara itu, menurut dia, penggunaan sawah produktif di DIY pada 2006 seluas 57.661 hektare, dan terus menyusut setiap tahun menjadi seluas 56.538 hektare pada 2010.

"Itu artinya, empat kabupaten di DIY lahan pertaniannya berkurang sekitar 50 hektare per tahun. Meski produktivitas pertanian berhasil ditingkatkan, namun tidak sebanding dengan tingginya alih fungsi lahan," katanya.

Menurut dia, kerena alih fungsi lahan pertanian ke nonpertanian tersebut, jika dihitung produktivitas padi per hektarenya mencapai enam ton, maka dalam setahun DIY setidaknya kehilangan sebanyak 1.200 ton padi.

"Mestinya bisa untuk mencukupi kebutuhan pangan penduduk, tapi itu tidak terjadi karena ada alih fungsi lahan pertanian ke nonpertanian.

Pada 2010 saja, kata dia, produktivitas tanaman pangan menunjukkan kecenderungan negatif, atau minus 0,58 persen.

Ia mengatakan akibat makin berkurangnya lahan pertanian yang bisa berdampak pada ketersediaan pangan terutama beras, sehingga tidak bisa mengimbangi pertumbuhan penduduk, maka pihaknya mendukung regulasi untuk mengendalikan alih fungsi sawah.

"Upaya menciptakan ketahanan pangan dari pemerintah pusat juga diturunkan ke pemerintah daerah hingga ke kabupaten. Untuk itu, Peraturan Daerah (Perda) Bantul ini nanti diharapkan dapat diimplementasikan dengan baik," katanya. (KR-HRI/M008)