Birute Mary Galdikas, sahabat sejati orangutan

Tempus fugit. Waktu terbang. Demikian Prof Birute Mary Galdikas menyebut waktu 42 tahun yang dia habiskan untuk meneliti dan menjaga orangutan di Kalimantan.

"Perjalanan panjang yang tidak mudah telah saya lewati untuk mengabdikan diri di Pulau Kalimantan ini, tapi tidak merasa...," katanya sebelum pelepasliaran 10 orangutan di Camp Pelepasliaran Orangutan Seluang Mas di kawasan hutan Seruyan, Kalimantan Tengah, Jumat (21/6).

Perempuan berkacamata kelahiran Jerman yang besar di Kanada dan Kalifornia itu memutuskan untuk mempelajari orangutan pada usia 21 tahun, saat menjadi mahasiswa pascasarjana bidang antropologi di University of California at Los Angeles (UCLA), setelah mendapat gelar sarjana bidang psikologi dan zoologi.

Dengan bantuan antropolog legendaris yang menemukan peninggalan moyang manusia paling awal, Dr. Louis Leakey, tahun 1971 Birute muda meninggalkan negaranya untuk memulai petualangan di Kalimantan, yang kala itu belum memiliki jalan beraspal, listrik, telepon, televisi dan hotel-hotel berbintang seperti sekarang.

Bersama lelaki yang kemudian menjadi suaminya, Rod Brindamour, ia mengawali perjalanan yang menurut sebagian orang "tidak bisa dilakukan", mempelajari orangutan liar di hutan Tanjung Puting yang sebagian besar terdiri atas rawa-rawa dalam.

Dia menghabiskan tahun-tahun selanjutnya untuk mengikuti orangutan, berusaha memahami sifat alami dan ekologi orangutan di kawasan hutan tropis tempat tinggal harimau, kancil, beruang, buaya, ular berbisa mematikan dan nyamuk-nyamuk pembawa malaria.

Waktu bertahun-tahun yang dia lewatkan dengan mengikuti orangutan menjelajahi hutan berawa dan mengakhiri hari dengan lintah-lintah hitam gemuk berjatuhan dari tubuh membuat dia memahami banyak hal tentang orangutan.

Dia mengumpulkan data-data rinci tentang hidup orangutan, mencatat 400 jenis makanan orangutan serta melihat orangutan tumbuh, kawin, melahirkan, dan bertarung.

Artikel-artikel ilmiah dan buku-buku yang dia tulis tentang orangutan membantu banyak orang memahami kera besar yang suka menyendiri dan sukar dipahami itu.

Pengetahuan dan keahliannya mendapat pengakuan internasional. Puluhan tahun kerja risetnya membuahkan banyak penghargaan dari masyarakat internasional.

Namun dia juga harus membayar mahal untuk semua itu. Berulang kali dia menderita karena serangan malaria dan suami pertamanya memilih kembali ke peradaban tahun 1978.

"Saya bertahan karena saya sangat menyukai orangutan," katanya dalam artikel Jack Friedman dan Doris Bacon di terbitan People edisi 16 Januari 1989.

Sebenarnya suami pertama dan orangtuanya ingin Birute kembali ke negara asal dan menikmati hasil kerja kerasnya. Tapi perempuan yang sejak kecil ingin menjadi penjelajah itu memilih tetap tinggal sampai sekarang.

"Karena di sini ada orangutan," katanya.

Putri imigran Lithuania itu lalu menikah lagi dengan orang asli Kalimantan, Bohap bin Jalan, dan kini tinggal di Pasir Panjang, lima kilometer dari Pangkalan Bun, Ibu Kota Kotawaringin Barat.

"Kami sudah 34 tahun menikah," kata Birute yang pernah menjadi sasaran intimidasi pembalak kayu ilegal sehingga selama 1991-1994 selalu ditemani polisi saat melakukan penelitian.

Sementara satu anak dari suami pertama dan dua anak dari suaminya yang sekarang belajar dan bekerja di Amerika Serikat.

"Mereka punya karir lain, yang bungsu mau jadi dokter kesehatan, yang pertama jadi webmaster dan yang kedua kerja di film dan realstate. Tapi mereka sering pulang," katanya sambil mengelap keringat yang mengalir di wajahnya pada siang hari yang panas di Camp Seluang Mas.

"Sekarang lebih panas. Iklim sudah berubah. Dia juga sering omel-omel, sekarang terlalu panas, lain dulu," kata Birute, yang kini berusia 67 tahun, tentang suaminya.


Demi sahabat

Sampai sekarang Prof Birute, masih berusaha menjaga orangutan dan habitatnya melalui Orangutan Foundation International (OFI), yang dibentuk tahun 1986 di Los Angeles. Orangutan masih menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Saat mengunjungi Jakarta pekan lalu, dia menyempatkan diri membeli beberapa puluh kilo rambutan dan mangga gedong untuk orangutan-orangutan Kalimantan.

"Kalau musim kita beli satu atau dua ton karena orangutan tidak pernah bosan rambutan dan mangga, kalau pisang kadang-kadang (bosan)," katanya.

Menurut pewakilan OFI di Jakarta, Renie Djojoasmoro, sampai sekarang Prof Birute juga masih sering turun langsung dalam berbagai kegiatan OFI, mulai dari penggalangan dana, sosialisasi penyelamatan orangutan dan hutan, sampai pelepasliaran orangutan yang sudah menjalani rehabilitasi ke habitat alami mereka.

"Setelah pelepasliaran Jumat (21/6) kemarin, hari berikutnya Ibu Birute ke sana lagi untuk monitoring," kata Renie merujuk pada pelepasliaran 10 orangutan di kawasan hutan Seruyan, yang bisa dijangkau dengan perjalanan menggunakan mobil selama tiga jam menembus areal perkebunan sawit dari Pangkalan Bun.

Demi orangutan, Prof Birute juga menepikan ketidaksukaannya pada perkebunan kelapa sawit, yang telah merampas habitat alami orangutan.  

Ia membuka sedikit celah untuk menjalin hubungan dengan pengelola perkebunan kelapa sawit, sesuatu yang mungkin tidak terhindarkan karena sekarang aktivitas perkebunan membuat kawasan hutan terfragmentasi sehingga sebagian habitat alami orangutan berbatasan langsung dengan lahan perkebunan.

"Kami kasih pelatihan sukarela selama dua hari kepada pekerja kebun tentang orangutan dan tampaknya mereka paham bahwa kita jaga orangutan, kalau ada orangutan yang ke kebun, mereka lapor. Kita juga kasih kita punya majalah ke warga," katanya.

Setelah perundingan intensif selama 10 bulan, OFI juga menjalin kerja sama dengan produsen minyak kelapa sawit PT SMART Tbk dan pabrik kertas Asia Pulp and Paper (APP).

Menurut Renie, perusahaan dalam kelompok Sinar Mas itu sejak tahun 2011 membantu OFI menjaga kawasan penyangga Taman Nasional Tanjung Puting di Seruyan tidak dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit supaya tetap bisa digunakan untuk melepasliarkan orangutan.  

"Syaratnya, kami mau Sinar Mas terapkan zero tolerance policy untuk margasatwa yang dilindungi, tanpa itu kami tidak akan ada hubungan," kata Prof Birute.

"Kalau ada karyawan yang ganggu, bunuh, atau pelihara binatang yang dilindungi mereka harus langsung pecat dan kasih kasus itu ke polisi. Sekarang mereka bikin policy itu, pertama mereka tidak mau karena itu tidak sesuai dengan kondisi karyawan di lapangan, terlalu keras," tuturnya.

Dia juga mengatakan bahwa tahun ini merupakan tahun yang paling berat bagi upaya perlindungan orangutan. "Karena (perkebunan) kelapa sawit punya banyak kuasa," kata dia.

Namun semua itu tak menghentikan usahanya melindungi orangutan, primata yang menurut dia 97 persen mirip manusia dan mempunyai nenek moyang yang sama dengan manusia 10 juta tahun sampai 14 juta tahun yang lalu.

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengaku sangat menghargai dedikasi Prof Birute bagi upaya penyelamatan orangutan.

"Coba bayangkan, dia ini orang yang hidup enak di negara maju, pendidikannya tinggi, cantik lagi, dulu... Kalau bukan karena hati nurani, kalau bukan karena kecintaan..., enggak mungkin dia ngumpet ke sini ngurus orangutan," katanya.

"Dan waktu ditanya apa yang dia inginkan, jawabannya sederhana, 'kalau boleh mau menjadi anggota kehormatan atau apapun di Taman Nasional Tanjung Puting dan kalau meninggal minta dikebumikan di sini karena di sini tempat kami melepaslilarkan orangutan'," demikian Zulkifli Hasan.