Rusia Ujicoba Bom Vakum Terkuat di Dunia

Moskow (ANTARA News) - Rusia telah melakukan uji coba bom vakum yang diyakini sebagai bom terkuat di dunia pada malam peringatan tahun keenam serangan teroris, 9 September di New York dan Washington.

Uji coba bom vakum itu, merupakan peringatan bagi semua musuh potensial Rusia. "Dunia sudah membuat sangat banyak senjata yang harus mereka gunakan pada abad ke-20, tidak peduli alasannya," kata Anton Chekhov, penulis terkenal Rusia.

Sebanyak 34 perang berskala besar dan kecil terjadi pada era 1990-an termasuk "operasi badai gurun" di Timur Tengah, perang di Chechnya, republik yang memerdekakan diri di Kaukasia Utara, dan konflik kekerasan di Yugoslavia.

Usaha-usaha memerangi terorisme, sebuah ancaman global, telah menjadi prioritas utama.

Ujicoba bom vakum juga menjadi penanda bahwa era perang terbuka yang melibatkan pasukan, hanya tinggal sejarah.

Sebuah penelitian atas konflik yang terjadi saat ini dan di masa depan menunjukkan bahwa strateginya telah berubah menjadi operasi serangan cepat di wilayah yang kecil dengan batas-batas yang tidak jelas.

Sudah tidak penting lagi untuk menempatkan armada tank dan ratusan artileri di setiap kilometer wilayah pertempuran.

Serangan massif menjadi pembuka jalan bagi senjata berteknologi tinggi untuk menyerang unit-unit kecil dan instalasi musuh.

Senjata nuklir memang akan terus memainkan peran penentu. Tapi senjata konvensional yang juga sama mematikannya, juga dikembangkan untuk mencapai tujuan-tujuan strategis.

AS dan Rusia sekarang ini sedang bergerak untuk meningkatkan kemampuan senjata konvensional. Dua tahun lalu, Washington memutuskan untuk memasang hulu ledak konvensional pada rudal kapal selam "Trident-2", tapi Pentagon mengalami masalah politik serius dan akhirnya terpaksa menghentikan program ini.

Sekarang, militer AS sedang mengembangkan bom penetrasi tinggi yang mampu menghancurkan bunker bawah tanah yang kuat. Sementara Moskow lebih memfokuskan diri pada bom vakum eksotis.

AS pernah menggunakan bom vakum pada era 1960-an selama perang Vietnam. Sistem "TOS-1 heavy flame" buatan Rusia membakar hulu ledak dalam perang di Afghanistan pada tahun 1980-an, dan juga pernah digunakan untuk menyerang pejuang Chechnya pada tahun 1990-an dan awal 2000.

Bom vakum juga dikenal sebagai hulu ledak panas, mengandung campuran hidrokarbon. Mereka dilepaskan ketika bom meledak 10 meter di atas permukaan tanah, bercampur dengan oksigen di atmosfer dan membentuk ledakan aerosol yang keras menghasilkan awan berdiameter 20 meter dan tinggi 3 meter. Awan ini terbentuk sekitar 100-140 milidetik kemudian.

Ledakan ini mengakibatkan gelombang supersonik yang bergerak dengan kecepatan tiga kilometer per detik dan menyebabkan tekanan luar biasa hingga 30 kilogram per sentimeter persegi.

Daya hisap yang kuat terbentuk setelah awan ledakan menghancurkan udara dan partikel solid.

Ledakan ini membentuk awan jamur yang sama dengan ledakan nuklir. Ketika AS memakai bom vakum di Irak selama 'Operasi Badai Gurun', wartawan menyebut sebuah hulu ledak nuklir taktis telah diledakkan.

Walaupun komponen bom panas tidak dapat secara efektif menghancurkan berbagai hambatan, mereka digunakan untuk mendapatkan hasil yang menghancurkan bagi personel militer.

Pada beberapa kasus, awan aerosol ini tidak meledak akibat hujan dan angin kencang, tapi dapat menjadi racun bagi makhluk hidup.

Setelah ledakan, orang-orang yang selamat tetap terkena dampak gelombang ledakan yang kuat. Menurut dokter, ledakan semacam itu menghasilkan cacat fisik, seperti tuli dan kebutaan, kerusakan jantung dan alat pernapasan, pendarahan dalam dan kerusakan organ internal lainnya.

Senjata nuklir juga dapat menciptakan efek vakum yang sama. Sebagai contoh, dua hulu ledak nuklir dapat meledak dengan cepat, dan ledakan kedua akan terjadi pada lingkungan padat dan menyebabkan kerusakan yang luar biasa dibandingkan yang diperkirakan, demikian laporan Ria Novosti. (*)