Gus Dur Minta PBNU Tak Campuri PKB

Jakarta (ANTARA News) - Ketua Umum Dewan Syuro DPP PKB KH.Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengingatkan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) agar tidak mencampuri urusan internal DPP PKB.

Gus Dur di Jakarta, Rabu menyebutkan dua alasan PBNU tidak dapat mencampuri urusan internal PKB.

Pertama, PBNU tidak memiliki yuridiksi (wewenang) atas langkah-langkah DPP PKB, yakni secara organisatoris PBNU tidak dapat memaksakan kehendak DPP PKB.

"Kedua, PBNU juga harus memeriksa anggotanya sendiri, apakah mereka melakukan kecurangan seperti itu, atau tidak," katanya.

Pernyataan Gus Dur tersebut terkait permintaan sejumlah pengurus DPW dan DPC PKB yang mengadu ke Ketua PBNU di Jakarta, Selasa (6/11).

Gus Dur mengatakan, mereka yang mengadu adalah, yang terkena tindakan-tindakan DPP PKB (dibekukan), karena mereka terlibat kecurangan ketika menerima alokasi dana yang melanggar ketentuan organisasi.

Ia menjelaskan, tindakan DPP (pembekuan sejumlah pengurus partai) tersebut dilakukan, agar PKB bersih dari praktik-praktik keuangan yang curang.

"Atas dasar inilah, misi perjuangan PKB diletakkan," katanya.

Sejumlah anggota dan pengurus PKB di Pulau Jawa (telah dibekukan DPP PKB) yang menemui Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi antara lain, Abdul Aziz Mansur yang sebelumnya menjabat Ketua Umum Dewan Syuro DPW PKB Jawa Timur, Abdul Salam (Sekretaris Dewan Syuro DPW PKB Jatim).

Turut dalam rombongan, Mas Nidzomudin Haq (Ketua Dewan Syuro DPW PKB Jatim), H Churriyah Imron Hamzah (Ketua Dewan Syuro DPW PKB Jatim), Mas Sais(Ketua Dewan Syuro DPC PKB Surabaya).

Kemudian Effendi Nuruddin (Ketua Dewan Syuro DPW PKB Jabar), KH Muhallili (Sekretaris pribadi ketua Dewan Syuro DPW PKB Banten), Wahid Umar (Ketua Dewan Syuro DPC PKB Cirebon), Garut Muchlis Badruzzaman (pengasuh pesantren Al Falah), dan M Ayub (Ketua Dewan Tanfidz DPC PKB Cirebon).

Menanggapi kedatangan rombongan tersebut, Ketua PBNU Hasyim Muzadi hanya menyatakan bahwa pihaknya tidak dapat ikut turut campur dengan persoalan PKB.

"Ibarat ayam, NU induk ayamnya `mengengkrami` telur itik PKB. Setelah menetas dan bisa berlari, komunitas NU dan PKB lain. Induk ayam sukanya `nangkring` dan tempat kering, tapi itik sukanya tempat yang basah," kata Hasyim.

Keadaan ini terjadi karena NU dan PKB bermain di arena yang berbeda meski lahir dari sangkar yang sama.

Meskipun begitu, menurut Hasyim, memang ada sejumlah keprihatinan terhadap PKB dan ia, berharap persoalan di PKB segera dapat diselesaikan.

Salah satu alternatif yang ditawarkan adalah dengan pendekatan ukhuwah, saling pengertian, dan ada upaya untuk memperbaiki. (*)