Anak Krakatau Masih Semburkan Lava Pijar

Serang (ANTARA News) - Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda terus beraktivitas dan hingga kini masih mengeluarkan lava pijar dari kawahnya, dengan asap kelabu yang membumbung bisa mencapai ketinggian 700 meteran.

Informasi dari petugas pemantau Gunung Anak Krakatau itu, di Pasauran, Kecamatan Cinangka (Serang), Kamis, menyebutkan semburan lava terjadi akibat tingginya frekuensi letusan dan kegempaaan vulkanik serta tremor maupun gempa hembusan yang terjadi di gunung api di tengah laut itu.

Data petugas pemantauan GAK pada Kamis (8/11), sekitar pukul 00.00 sd. 06.00 WIB menyebutkan sepanjang dini hari hingga pagi menunjukkan jumlah titik letusan sebanyak 77 kali, kegempaan disertai vulkanik A (dalam) tiga kali, vulkanik B (dangkal) 42 kali, tremor 7 kali, dan gempa hembusan delapan kali.

Interval kemunculan letusan dan kegempaan vulkanik dalam dan dangkal setiap 3-6 menit, sehingga status Anak Krakatau masih dinyatakan koridor "siaga" (level III).

"Selama 18 hari aktivitas Anak Krakatau sampai saat ini masih siaga dan belum dicabut oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Bandung, Jawa Barat," kata Patra Cahya, dari tim Pemantau GAK di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang.

Letusan dan kegempaan disertai aktivitas vulkanik Anak Krakatau itu hingga kini terus mengeluarkan lava pijar dari titik letusan gunung, sehingga dapat membahayakan keselamatan pengunjung maupun petugas pemantau yang berada di dekatnya.

Lontaran batu panas disertai abu sepanjang malam, terlihat jelas dari titik letusan gunung, namun tidak sampai ke daratan Pantai Anyer-Carita.

Karena itu, diminta kepada masyarakat yang tinggal di sepanjang Pantai Anyer-Carita tidak perlu panik panik terjadap aktivitas keluarnya lava Gunung Anak Krakatau itu, mengingat sampai saat ini tidak mengakibatkan semburan besar hingga mencapai daratan.

"Letusan Anak Krakatau ini tidak begitu membahayakan bagi masyarakat dan tidak akan terjadi gelombang tsunami yang kemungkinannya sangat kecil," ujar Patra Cahya.

Ia menyebutkan, frekuensi letusan dan kegempaan vulkanik, tremor serta hembusan setiap enam jam tercatat masih mengalami fluktuasi.

Artinya, setiap enam jam jumlah letusan dan kegempaan berubah-ubah.

Letusan dan kegempaan vulkanik, Kamis (8/11), tidak begitu besar dibandingkan Rabu (7/11), terjadi sekitar pukul 12.00 sd. 18.00 WIB yang tercatat letusan 118 kali, vulknaik A (dalam) tiga kali, vulkanik B (dangkal) 31 kali, dan tremor sepuluh kali serta gempa hembusan empat kali.

Letusan dan kegempaan vulkanik itu masih relatif kecil dan diperkirakan tidak akan menimbulkan gelombang tsunami, seperti pernah terjadi pada letusan dahsyat "induk" Gunung Krakatau pada Agustus 1883 yang menewaskan 36.000 orang.

Secara geografis, kawasan Anak Gunung Krakatau di Selat Sunda yang merupakan areal cagar alam laut (CAL) yang dilindungi itu berada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan (Lampung).

Namun sampai saat ini akses ke sana lebih mudah dicapai dari wilayah Banten dibandingkan Provinsi Lampung. Kawasan itu menjadi salah satu objek wisata dunia yang terkenal dan kebanyakan wisatawan masuk melalui Banten, bukan Lampung.

Peningkatan aktivitas Anak Gunung Krakatau itu dalam beberapa pekan terakhir, menimbulkan kecemasan bagi sejumlah warga pesisir di Selat Sunda di wilayah Lampung maupun Banten. Tapi aktivitas para nelayan maupun warga relatif masih normal. (*)