GP Anshor Usul Bung Tomo Dapat Gelar Pahlawan Nasional

Jakarta (ANTARA News) - Gerakan Pemuda (GP) Anshor dan Fraksi Partai Golongan Karya (Golkar) meminta pemerintah menganugerahi gelar pahlawan nasional kepada Soetomo (Bung Tomo), tokoh pejuang pada pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan.

"Kita sangat terkejut ketika tahu, ternyata Bung Tomo tidak pernah diakui sebagai pahlawan oleh pemerintah selama ini," kata Ketua Umum GP Anshor, Saifullah Yusuf, di Jakarta, Jumat, saat memberikan penghargaan kepada Bung Tomo yang diterima anaknya, Bambang Sulistomo.

Saat Bambang Sulistomo menerima piagam, ia mengatakan bahwa orangtuanya belum mendapat gelar pahlawan nasional, padahal pada piagam tersebut disebutkan bahwa diberikan kepada pahlawan nasional Bung Tomo.

Saifullah mengatakan, peristiwa 10 November 1945 identik dengan perjuangan arek-arek Surabaya, dan peristiwa tersebut tidak dapat dipisahkan dari sosok Bung Tomo. "Bagi Anshor, Bung Tomo adalah pahlawan nasional, kita berharap pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional kepada beliau," katanya.

Sementara itu Ketua Fraksi Partai Golkar, Priyo Budisantoso, yang hadir pada acara tersebut akan mengetuk hati Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, agar menganugerahi gelar pahlawan nasional kepada Bung Tomo seperti pejuang yang lain.

"Ada dosa kolektif yang harus kita tanggung, jika kita melupakan jasa besar Bung Tomo," katanya.

Priyo mengatakan bahwa Fraksi Partai Golkar akan memperjuangkan, agar Bung Tomo diakui sebagai pahlawan nasional.

Priyo mengatakan, jika selama ini tidak ada pihak yang mengusulkan hal tersebut maka Presiden sebaiknya mengambil alih inisiatif itu. Priyo juga akan menggalang dukungan dari fraksi lain, agar usul tersebut bisa tercapai.

Priyo sebelumnya juga mengira Bung Tomo sudah diakui sebagai pahlawan nasional. "Ternyata, saya salah. Kalau alasannya keluarga tidak mengusulkan, maka itu bukan alasan yang tepat," katanya.

Sedangkan, Bambang Sulistomo mengatakan, selama ini keluarganya memang tidak pernah berupaya mengusulkan kepada pemerintah, agar orang tuanya diakui sebagai pahlawan nasional.

Menurut Bambang, sebelum meninggal pada 1981, Bung Tomo berwasiat, agar tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP). Alasannya, Bung Tomo menilai banyak tokoh yang ketika zaman kemerdekaan tidak ikut berjuang dan baru menampilkan diri setelah negara aman, dimakamkan di TMP.

Bung Tomo juga mengatakan, menjadi pahlawan di mata rakyat jauh lebih berarti daripada gelar formal. Berangkat dari wasiat itu keluarga tidak mengusulkan Bung Tomo dianugerahi gelar pahlawan.

Bung Tomo, adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945.

Ia berusaha membangkitkan semangat rakyat sementara Surabaya diserang habis-habisan oleh tentara-tentara NICA. Sutomo terutama sekali dikenang karena seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radionya yang penuh dengan emosi.

Meskipun Indonesia kalah dalam pertempuran 10 November 1945 itu, kejadian ini tetap dicatat sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Indonesia.

Pada 7 Oktober 1981, ia meninggal dunia di Makkah, ketika sedang menunaikan ibadah haji. Berbeda dengan tradisi untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ziarah ke tanah suci, jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngagel di Surabaya, Jawa Timur. (*)