ASEAN Cetak Sejarah Dengan Ditandatanganinya Piagam ASEAN

Singapura (ANTARA News) - Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), Selasa, mencatat sejarah baru dengan ditandatanganinya Piagam ASEAN (ASEAN Charter) sebagai hasil penyelenggaraan KTT ke-13 ASEAN yang berlangsung di Singapura.

KTT ASEAN yang berlangsung bersamaan dengan peringatan 40 tahun ASEAN ini juga menghasilkan tiga deklarasi, yaitu cetak biru ASEAN Economic Community (AEC), ASEAN Declaration on the 13th Session of the Conference on Climate Change (UNFCCC) and the 3rd Conference of Parties Serving as the Meeting of the Parties (CMP) to the Protocol Kyoto Protocol.

Penandatangan Piagam Charter dijadwalkan pukul 13.30 waktu Singapura, yang terlebih dahulu dilakukan pertemuan 10 kepala negara dan kepala pemerintahan ASEAN serta delegasi.

KTT ASEAN yang digelar di Hotel Shangri-La, Singapura, ini mulai digelar pukul 09.15 waktu setempat, diawali dengan foto bersama.

Pada pukul 12.35, para pemimpin ASEAN akan menerima ASEAN Business Advisory Council (ABAC) guna mendapatkan laporan dari ASEAN Business and Investment Summit (BIS), yang dilanjutkan acara puncak penandatanganan Piagam ASEAN.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan menyambut baik dan mendukung penandatanganan Piagam ASEAN.

"Piagam ASEAN ini penting karena akan meningkatkan kerjasama ASEAN secara fundamental, dan terintegrasi," kata Juru bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal.

Kehadiran Piagam ASEAN tidak terlepas dari semangat membentuk kerja sama bidang ekonomi (ASEAN Economic Community), kerja sama keamanan (ASEAN Security Community) dan kerja sama di bidang sosial dan budaya (ASEAN Socio-Cultural Community).

Piagam yang bertujuan melahirkan semacam konstitusi ASEAN itu akan menjadi titik tolak perumusan perjanjian regional dan sejumlah dokumen, termasuk konstitusi yang mengikat negara-negara anggota ASEAN untuk mengimplementasikan perjanjian.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu sebelum mengikuti KTT dan pertemuan ABAC menjelaskan Piagam ASEAN diharapkan bisa menjadi payung hukum bagi negara-negara di kawasan itu menuju ASEAN Economic Community (EAC), sehingga kerja sama ekonomi bisa lebih terintegrasi, dan target pelaksanaannya bisa dipenuhi pada 2015.

Di usianya yang ke-40, atau sejak berdiri 8 Agustus 1967, ASEAN yang terdiri atas Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand dan Vietnam diharapkan bangkit bangkit, dan bisa sejajar dengan organisasi di kawasan ekonomi lainnya di dunia. (*)