BKPM Pasang Iklan Tarik Minat Investasi Jepang

Tokyo (ANTARA News) - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia telah memasang iklan di salah satu harian terkenal Jepang guna mendorong minat pengusaha negeri Matahari Terbit itu.

Harian The Asahi Shimbun terbitan hari Senin (26/11), di Tokyo, memuat iklan BKPM itu satu halaman penuh dengan judul besar "Investing Indonesia", yang berisi upaya pemerintah Indonesia mendorong masuknya modal asing ke tanah air.

Upaya yang ditampilkan antara lain mulai dari penerbitan UU Penanaman Modal yang baru yang berisi perlindungan bagi investor asing, target penanaman modal baru sebesar 11 miliar dolar di tahun 2008, hingga pembentukan kawasan ekonomi khusus (free trade zone).

"Pembentukan kawasan perdagangan bebas itu untuk membuat investor tertarik menanamkan modalnya ke Indonesia," kata ketua BKPM M Lutfi dalam "iklan berita" itu.

Disebutkan, saat ini kawasan Batam telah betul-betul menjadi free trade zone, sedangkan dua wilayah lainnya, yakni Pulau Karimun dan Pulau Bintan sebagai kawasan enclave. Status khusus itu diberikan untuk jangka waktu 70 tahun.

Sementara itu, menurut data terakhir Japan Bank for International Cooperation (JBIC), Indonesia kini hanya menempati urutan sembilan dari daftar sepuluh negara tujuan investasi Jepang, dari sebelumnya di posisi kedua atau ketiga.

Tercoretnya Indonesia dari daftar lima besar tujuan investasi Jepang, menurut kalangan pengusaha Jepang, karena Indonesia tidak memiliki sense of speed dalam mengimplementasikan reformasi kebijakan ekonominya.

Meski demikian, kedua negara Indonesia-Jepang sama-sama sepakat untuk meningkatkan hubungan ekonomi, termasuk dalam urusan investasi. Hal itu dibuktikan dengan dilakukannya penandatanganan kerjasama ekonomi dalam format Economic Partnership Agreement (EPA) yang mendorong percepatan kegiatan ekonomi keduanya.

Baik Presiden Susilo Bambang Yudhyono maupun Wapres Jusuf Kalla sama-sama sudah berkunjung ke Jepang beberapa kali, namun hingga saat ini, menurut pengamat ekonomi Faisal Basri, belum menunjukkan hasil yang nyata.

Sikap wait and see masih saja berlangsung hingga akhir tahun 2007, meski PM Jepang saat itu Shinzo Abe juga memboyong sekitar 200 pengusaha kelas kakap Jepang yang dipimpin langsung oleh Fujio Mitarai, Ketua Niipon Keidanren (Kadin-nya Jepang).

Jepang sendiri telah sekian lama menjadi mitra ekonomi penting dan strategis bagi Indonesia. Negeri Sakura itu merupakan tujuan ekspor utama, sekaligus pengimpor terbesar. Bahkan Jepang juga menjadi penanam modal asing nomor satu sekaligus pemberi utang nomor wahid bagi Indonesia. (*)