Mayat Pendaki Tanpa Identitas Ditemukan di Puncak Gunung Salak

Sukabumi (ANTARA News) - Mayat pendaki wanita berumur sekitar 30 tahun tanpa identitas ditemukan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Sukabumi.

"Sebelumnya kami menduga mayat yang ditemukan di puncak Gunung Salak I dengan ketinggian 2.080 meter dari permukaan laut (dpl) itu seorang laki-laki, namun setelah diotopsi oleh dokter di PMI Bogor Rabu dinihari tenyata seorang wanita berusia 30 tahunan," kata Kepala Balai TNGHS, Bambang Supriyanto di Sukabumi, Rabu.

Dikatakannya, mayat tak dikenal itu ditemukan oleh salah seorang pendaki lainnya yang akan menghabiskan malam tahun baru di Gunung Salak, Dimas (21), Senin (31/12/07) pukul 12.45 WIB. Ia langsung melaporkan penemuan mayat itu kepada petugas yang berada di pos penjagaan.

"Namun karena dari puncak Gunung Salak membutuhkan waktu selama lima hingga enam jam, penemu mayat itu baru bisa melaporkannya pada Senin sorenya," katanya.

Kemudian pada Selasa (1/1) dinihari sekira pukul 00.00 WIB sebanyak 21 orang petugas Tim SAR dari kepolisian dan petugas Balai TNGHS melakukan evakuasi, namun karena ada kabut tebal dan hujan evakuasi jenazah ditangguhkan dan petugas baru ke puncak gunung pada Selasa pagi (1/1) pukul 09.30 WIB dan tiba di lokasi mayat sekitar 16.00 WIB.

"Mayat pun langsung dibawa ke ke pos panjagaan Balai TNGHS dan tiba pada Selasa malam sekira pukul 21.45 WIB, dan pada pukul 22.00 WIB langsung dibawa ke PMI Bogor untuk diotopsi," katanya seraya menduga kematian korban itu disebabkan kekurangan makanan karena tidak ada luka dibagian tubuh korban.

Ciri-ciri mayat itu sendiri, kata dia, berambut lurus hitam, berkulit sawo matang berbadan kurus dan tingginya sekitar 160 cm.

Korban mengenakan kaos berwarna biru putih dan coklat serta ditubuhnya juga dibalut jaket parasut yang dibagian punggung bertuliskan "Black" bermerk OP dan juga mengenakan celana jeans biru dan sandal jepit.

Dalam ransel berwarna putih milik korban terdapat lipstik dan celana dalam perempuan, tambahnya.

Ia menduga korban itu naik ke puncak Gunungg Salak melalui "jalan tikus" karena sejak Idulfiti (Lebaran) lalu, jalur pendakian Gunung Salak ditutup untuk umuum.

Menurut dia, "jalan tikus" yang ada di Gunung Salak yang biasa dilewat para pendaki antara lain jalur Kuta Jaya yang hanya menempuh jarak sekiar 5-6 jam. "Saya menduga korban menggunakan jalan pendakian tradisional lainnya, yakni jalur Citaman, Cimalati, atau Curugnangka," katanya.

Ia menyebutkan, tim dari Balai TNGHS tengah melakukan penyisiran di puncak Gunung Salak karena dikhawatirkan terjadi hal yang sama, terlebih sejak enam siswa SMP meninggal akibat keracunan gas di Kawah Ratu, jalur pendakian Gunung Salak ditutup untuk sementara, tapi tetap saja ada yang menyelinap untuk mendaki.

Di Gunung Salak tengah dilakukan perbaikan dan "jalan-jalan tikus" untuk pendakian ditutup, namun ke depannya pendaki hanya bisa melewati dua jalan, yakni jalur Cidahu dan Gunung Bunder, demikian Bambang Supriyanto.(*)