counter

Peluang usaha petani anggrek masih luas, termasuk ekspor

Peluang usaha petani anggrek masih luas, termasuk ekspor

Petani anggrek asal Kota Batu Dede Setia Santoso saat acara pameran anggrek di Desa Kedungmalang, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Kamis (8/8/2019). (Foto Antara Jatim/ Asmaul Chusna)

Ada pembeli dari Rusia, Thailand, Singapura, Malaysia, Belanda. Kami memang belum ekspor, namun orangnya yang datang sendiri
Kediri (ANTARA) - Petani anggrek yang tergabung dalam Kelompok Tani Sanderiana, Kota Batu, Jawa Timur, menilai potensi usaha bunga hias anggrek masih terbuka lebar, termasuk potensi ekspor.

"Ada pembeli dari Rusia, Thailand, Singapura, Malaysia, Belanda. Kami memang belum ekspor, namun orangnya yang datang sendiri," kata salah seorang petani anggrek asal Kota Batu Dede Setia Santoso saat pameran anggrek di Desa Kedungmalang, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, Kamis.

Ia menilai, potensi usaha tanaman ini masih terbuka luas. Bahkan, pasar juga masih terbuka luas. Untuk itu, ia turut serta menggerakkan petani di daerahnya untuk menjadi mitra dalam budi daya tanaman anggrek.

Ia mempunyai laboratorium untuk mengembangkan tanaman anggrek dengan berbagai jenis. Mulai dari laboratorium untuk pengembangan kultur jaringan, pembesaran anggrek, dan tempat untuk penyilangan. Para mitranya bisa merawat anggrek sesuai dengan kemauan mereka.

Untuk mempermudah dalam usahanya, dirinya dengan beberapa rekan membentuk kelompok tani, yakni Kelompok Tani Sanderiana, Kelurahan Dadaprejo, Kota Batu. Dirinya saat ini menjabat sebagai wakil ketua. Dengan adanya kelompok itu juga lebih memudahkan untuk penjualan tanaman anggrek.

Saat ini, kelompoknya mempunyai 40 mitra yang tergabung. Sejumlah dari mereka ada yang ikut serta menjadi anggota kelompok, namun ada juga yang tidak. Mereka memanfaatkan lahannya sendiri untuk budi daya tanaman ini, lalu jika sudah berkembang dijual dikirim ke kelompok tani.

"Jadi, petani kami beri bibit gratis, pot gratis. Dia tinggal tanam lalu kami beli dan kami pasarkan," kata dia.

Ia mengatakan, usaha budi daya anggrek ini berawal dari hobi yang kemudian ditekuninya. Ia mulai kenal dengan dunia anggrek sejak 2005. Lambat laun usahanya ini berkembang dan ia mengajak serta warga di sekitar yang juga berminat budi daya anggrek.

Kini, omzetnya antara Rp200 juta sampai Rp300 juta per bulan dengan berbagai jenis tanaman anggrek. Bahkan, kini sudah ada 60 jenis anggrek yang diproduksinya yang sudah teregister di London.

Bahkan, pihaknya baru melakukan register untuk anggrek yang diberi nama harmoni, yakni persilangan Dendronium Ken Arok dengan Lasianthera. Hingga kini, proses persilangan juga terus dilakukan uji coba demi mendapatkan bunga terbaik.

Sementara itu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa yang juga hadir dalam acara itu memberikan apresiasi dengan hasil budi daya tersebut.

Ia mengajak serta agar para petani terus melakukan inovasi teknologi dan selalu berinovasi terhadap berbagai tanaman baik pangan, hortikultura maupun tanaman lainnya.

Ia juga sempat menceritakan tentang budi daya bunga. Ia pernah membawa bunga dari Kalimantan Timur, yang ternyata ketika dibawa ke Jakarta, bisa tumbuh dengan baik dan berbunga.

"Dengan teknologi kita siapkan area budi daya, sehingga yang memiliki hobi koleksi anggrek bisa dapatkan legal karena tersertifikasi," katanya.

Baca juga: Anggrek dan tanaman hias lainnya masih jadi buruan

Baca juga: Peneliti temukan 160 spesies anggrek di Bengkulu

Baca juga: Anggrek Asli Jawa Barat Hilang dari Pasar

 

Pewarta: Asmaul Chusna
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar