counter

Rahmawati ingatkan Pancasila tidak hanya sebagai slogan belaka

Rahmawati ingatkan Pancasila tidak hanya sebagai slogan belaka

Menhan Ryamizard Ryacudu bersama Wakil Presiden ke-6 Try Sutrisno, putri proklamator Rahmawati Soekarnoputri saat membaca Petisi "Rekat Anak Bangsa" dalam acara silahturahmi dan dialog tokoh bangsa dengan tema "Pancasila Perekat Kita, Satu Nusa Satu Bangsa" yang digelar oleh Kemhan RI dan Forum Rekat Indonesia, di Jakarta, Senin (12/8/2019). (ANTARA News/Syaiful Hakim)

Jakarta (ANTARA) - Putri Presiden Soekarno, Rahmawati Soekarnoputri mengingatkan Pancasila sebagai landasan filosofi bangsa dan landasan negara dalam merekatkan masyarakat Indonesia, tidak hanya dijadikan slogan belaka.

"Kita harus tahu bahwa Pancasila punya dua fungsi. Fungsi pertama, sebagai bintang pemimpin dimana kita mengarah, menciptakan dan membangun masyarakat adil makmur dan sejahtera," kata Rahmawati pada silahturahmi dan dialog tokoh bangsa dengan tema "Pancasila Perekat Kita, Satu Nusa Satu Bangsa" yang digelar oleh Kemhan RI dan Forum Rekat Indonesia di Jakarta, Senin.

Fungsi yang kedua, lanjut dia, sebagai meja statis yang tidak bisa diubah. Artinya, Pancasila itu harga mati.

Menurut dia, dua fungsi ini hanya bisa diciptakan untuk membangun Indonesia merdeka, yaitu dengan UUD 1945.

"Ini tidak bisa lain bahwa UUD 1945 sebagai landasan struktural untuk kita menjalankan Indonesia sebagaimana yang dicita-citakan. Artinya, Pancasila dan UUD 45 tak bisa dipisahkan. Saya harap agar Pancasila digandeng kembali dengan UUD 1945," kata Rahmawati.

Baca juga: Kongres V PDIP tegaskan Pancasila final dan berbudaya
Baca juga: Nasir: boleh bahas paham marxisme di kampus sebatas ilmu pengetahuan


Di tempat yang sama, Wakil Presiden ke-6, Try Sutrisno menyebutkan dalam memperingati HUT Ke-74 Kemerdekaan RI, masyarakat Indonesia harus senantiasa bertafakur, damai, muhasabah, muqorobah dan interospeksi diri.

"Kita juga harus mengevaluasi diri agar bangsa ini semakin maju, semakin kuat dan semakin kokoh bersatu dalam mencapai cita-cita bangsa dalam wujudkan cita proklamasi 17 Agustus 1945," kata Try Sutrisno.

Dalam acara itu, Menhan RI Ryamizard Ryacudu, bersama tokoh nasional dan tokoh agama seperti Solahudin Wahid (Gus Solah), Habib Luthfi, politisi Demokrat Dede Yusuf, Try Sutrisno, Rahmawati Soekarnoputri dan lainnya membacakan petisi "Rekat Anak Bangsa" secara bersama-sama.

Petisi dibacakan oleh Ketua Forum Rekat Anak Bangsa Eka Gumilar serta diikuti oleh hadirin.

"Petisi rekat anak bangsa, kami bersepakat untuk menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia," ujar Eka.

Eka mengatakan Forum Rekat Anak Bangsa sepakat untuk menciptakan Indonesia damai serta menghargai perbedaan.

"Kami bersepakat bersama-sama menciptakan Indonesia yang damai, sejuk tenteram dan aman. Kami bersepakat untuk menghormati dan menghargai perbedaan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika," ujarnya.

Pewarta: Syaiful Hakim
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mendikbud berencana pisahkan pelajaran Pancasila dari PKn pada 2020

Komentar