counter

Helikopter BNPB sudah siram air 500 ton lebih dari udara di Aceh

Helikopter BNPB sudah siram air 500 ton lebih dari udara di Aceh

Satu unit Helikopter milik BNPB yang didatangkan ke Aceh guna memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Aceh Barat dari udara, saat mendarat di Bandar Udara Cut Nyak Dhien Nagan Raya, Provinsi Aceh, Sabtu (10/8/2019). (ANTARA/Teuku Dedi Iskandar)

Meulaboh (ANTARA) - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) Teuku Ahmad Dadek menegaskan upaya pemadaman api dari udara menggunakan satu unit helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Kabupaten Aceh Barat dan sekitarnya di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah mencapai 500 ton lebih.

Hal ini berlangsung sejak Sabtu (10/8) lalu hingga Selasa (13/8) untuk memadamkan api di sejumlah lokasi karhutla di daerah ini.

"Karena dibantu dengan tingginya curah hujan, kebakaran lahan di Aceh Barat dan sekitarnya dapat lebih mudah dipadamkan," kata Teuku Ahmad Dadek kepada wartawan di Meulaboh.

Menurutnya, helikopter jenis Kamov dengan nomor registrasi RA-31009 tersebut lebih lincah dan pergerakannya sangat cepat untuk mengangkut air dari sumber air ke lokasi kebakaran hutan melalui udara.

Bahkan, daya angkutnya juga lebih besar untuk sekali terbang dengan berat air yang diangkut mencapai 5 ton.

"Kami berterima kasih kepada penyedia jasa helikopter dan BNPB pusar yang sudah berkenan mengirimkan satu unit helikopter ke Aceh untuk membantu mengatasi karhutla khususnya di Kabupaten Aceh Barat," kata Dadek menambahkan.

Pihaknya, juga mengapresiasi gerak cepat dari Pemkab Aceh Barat melalui BPBD, TNI, Polri dan relawan lainnya yang telah melakukan upaya pemadaman api siang dan malam guna memadamkan titik api di sejumlah lokasi di kabupaten tersebut selama beberapa pekan lalu, katanya.
Baca juga: KLHK peringatkan 11 perusahaan di Riau terkait Karhutla
Baca juga: Panglima TNI tinjau lokasi Karhutla di Riau

Pewarta: Teuku Dedi Iskandar
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jarak pandang di Bandara Palembang terganggu hingga akhir Oktober

Komentar