counter

Deputi BUMN ingatkan PLN tinggalkan energi fosil, maksimalkan EBT

Deputi BUMN ingatkan PLN tinggalkan energi fosil, maksimalkan EBT

PEMBANGUNAN PLTB SIDRAP Sebuah kendaraan alat berat beroperasi di area pembangunan Pembangkit Listirk Tenaga Bayu (PLTB) di Desa Mattirotasi, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan.( ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/foc/17).

Kalau saja minyak mentah Indonesia naik walau hanya 1 dolar AS, pasti biaya produksi akan terasa naik juga
Jakarta (ANTARA) - Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN Edwin Hidayat Abdullah mengatakan bahwa PLN harus beranjak meninggalkan energi berbasis fosil atau konvensional.

"Di negara lain konsep energi fosil sudah mulai ditinggalkan, nah ini harapan saya, PLN harus memiliki bahan bakar yang berasal dari Energi Baru dan Terbarukan (EBT)," kata Edwin di JCC, Jakarta, Rabu.

Menurutnya, jika PLN masih belum memikirkan konsep bahan bakar yang terbarukan, akan selamanya PLN sulit mengendalikan biaya produksi. Sebab hingga saat ini bahan bakar yang digunakan adalah fosil atau berbasis minyak.

Sedangkan, minyak saat ini juga masih banyak yang impor, sehingga harga jualnya ditentukan oleh pasar global di mana kendali bukan berada di PLN.

"Kalau saja minyak mentah Indonesia naik walau hanya 1 dolar AS, pasti biaya produksi akan terasa naik juga, belum lagi kurs mata uang juga turut mempengaruhi," kata Edwin.

Oleh karena itu, Edwin menjelaskan bahwa potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) bisa diperoleh dari pembangkit listrik tenaga, air, angin, arus laut atau bahkan tenaga surya.

Jika konsep tersebut mulai dikembangkan secara serius, maka PLN bisa menekan biaya produksi dan dampaknya adalah harga listrik juga bisa lebih murah untuk dapat dialirkan kepada masyarakat ataupun industri.

Ia juga berharap bahwa target bauran energi khususnya di energi baru terbarukan pada tahun 2025 dapat dicapai secara 100 persen sesuai target awal. Sebelumnya, pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama PLN Djoko Abumanan mengatakan, PLN menargetkan akan mengurangi penggunaan batu bara sebagai upaya memangkas ketergantungan energi fosil pada sektor kelistrikan nasional.

"Terus terang (sumber energi terbesar) ada dari batu bara yang mulai kita reduce terus sampai nanti 2023, harus 50 persen batu bara," kata Djoko.

Tingginya konsumsi batu bara tersebut akibat bertambahnya pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang telah selesai dibangun PLN dan beberapa perusahaan listrik swasta. Djoko menjelaskan bahwa masa depan energi fosil di Indonesia terkait durasi kontrak.


Baca juga: PLN bakal kurangi penggunaan batu bara hingga 50 persen pada 2023
Baca juga: Pemerintah targetkan 7.200 MW dari panas bumi pada 2025
Baca juga: Belajar ke China dan India, kelola listrik dari energi baru terbarukan

Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menteri BUMN resmikan PLTS Pulau Messa

Komentar