counter

Orang tua wajib pantau tumbuh kembang anak untuk cegah stunting

Orang tua wajib pantau tumbuh kembang anak untuk cegah stunting

Ilustrasi. Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) menimbang berat badan balita saat kegiatan Posyandu balita di Solo, Jawa Tengah, Selasa (13/8/2019). Sebagai upaya peningkatan investasi di bidang Sumber Daya Manusia (SDM), pemerintah mengoptimalkan kegiatan Posyandu dalam upaya penurunan jumlah penduduk stunting atau gagal tumbuh, sekaligus mendukung pencapaian pembangunan kesehatan ibu dan anak terutama penurunan angka kematian bayi, anak balita serta angka kelahiran. ANTARA FOTO/Maulana Surya/hp.

Saat aktif memantau di pusat kesehatan, ayah juga harus ikut serta dalam memantau hal ini,
Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis anak dari RSUP Fatmawati dr Purnama Fitri, Sp A(K) mengatakan orang tua, baik ibu dan ayah, keduanya wajib memantau tumbuh kembang anak untuk memastikan kesehatan dan juga sebagai langkah pencegahan penyakit sekaligus menghindarkan anak dari stunting atau kekerdilan.

"Aktiflah dalam memonitor berat badan bayi, tinggi badan dan juga lingkar kepala bayi dari grafik yang dilihat di buku kesehatan bayi. Aktif memeriksakan sekaligus imunisasi di Posyandu, Puskesmas, maupun rumah sakit," kata dr Purnama Fitri, Sp.A(K) dalam bincang-bincang di Kementerian Kesehatan Jakarta, Rabu.

Purnama mengatakan pemantauan kesehatan bayi secara rutin dapat mencegah kemungkinan terjadinya stunting atau kekerdilan pada anak dengan upaya penanganan yang tepat dan sesegera mungkin.

Dokter Purnama menekankan orang tua harus memantau perkembangan berat badan bayi di usia tiga bulan pertama yakni penambahan berat badan sekitar 800-1000 gram, tiga bulan kedua 500-550 gram dan seterusnya yang bisa dilihat di buku perkembangan bayi.

Baca juga: Pemerintah kampanye lintas sektor cegah stunting

"Saat aktif memantau di pusat kesehatan, ayah juga harus ikut serta dalam memantau hal ini," jelas Purnama. Dia menjelaskan peran ayah sangat penting dalam mendukung upaya pemenuhan ASI eksklusif selama enam bulan dan dilanjutkan hingga 24 bulan.

Purnama menyebut ayah juga harus aktif dalam mengambil keputusan, di mana pasangan usia muda pasti mengalami kehidupan dengan mertua. Ayah harus membantu ibu mengambil keputusan dan terlibat dalam pola pengasuhan anak, terlebih di saat ibu masih lelah pascapersalinan.

"Misal anak masih menangis setelah mendapatkan ASI, akhirnya mertua ikut memberikan saran untuk memberikan sufor (susu formula, red) agar anak tidak rewel. Di sinilah peran si ayah aktif dan memberikan pengertian kepada mertua. Ayah harus memiliki sikap dan kalimat yang positif. Bantu ibu untuk tetap positif dan percaya diri dalam memberikan asi, berikan dukungan sebaik-baiknya, memiliki pengetahuan yang luas tentang ASI ekslusif," katanya.

Seorang ayah juga harus memastikan pemberian ASI eksklusif dilakukan selama enam bulan dan dilanjutkan 24 bulan. Purnama menganjurkan agar ayah tetap menjaga suasana hati ibu tetap bahagia dan tidak stres agar produksi ASI lancar demi tumbuh kembang anak dan mencegah terjadinya stunting.

Baca juga: Dokter paparkan pentingnya ASI untuk cegah bayi kerdil

Baca juga: Tekan stunting dan dongkrak konsumsi, KKP gencar kampanye Gemarikan

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemprov Babel kampanyekan diversifikasi pangan cegah stunting

Komentar