counter

Resensi film

"The Divine Fury", tentang juara seni bela diri dan pengusiran iblis

"The Divine Fury", tentang juara seni bela diri dan pengusiran iblis

Poster film "The Divine Fury" (Instagram.com/keyeastofficial)

Jakarta (ANTARA) - Park Yong-hu (Park Seo-jun) tumbuh besar dalam kondisi amat kecewa karena menganggap Tuhan telah merenggut ayah (Lee Seung-joon) yang amat dia sayangi.

Dia menolak keberadaan Tuhan dan memutuskan percaya pada diri sendiri.

Hingga suatu saat, dia yang berprofesi sebagai atlet bela diri Mixed Martial Arts mendapatkan luka di telapak tangan kanannya. Luka ini menurut kepercayaan umat Kristiani, sama seperti yang diderita Yesus saat disalib.

Setiap malam, Yong-hu mengalami kejadian mistis yang tak kasat mata. Dia selalu kesakitan dan berakhir dengan kondisi telapak tangan yang selalu mengeluarkan darah.

Atas rekomendasi seorang cenayang, dia mencari pendeta Ahn (Ahn Sung-ki), seorang pendeta asal Vatikan yang sering melakukan ritual pengusiran iblis. Dia berharap kejadian mistis tak lagi menimpanya setelah dibantu pendeta Ahn.

Namun, Yong-hu justru terlibat dalam ritual sang pendeta, yang sempat kehilangan asisten, pendeta Choi (Choi Woo-sik) karena alasan pribadi. Tanpa terduga, ada kekuatan yang membantu Yong-hu mengusir iblis.

Apa alasan Yong-hu ikut dalam ritual dan apakah kekuatan yang dia miliki?

Di sisi lain, ada musuh yang harus Yong-hu dan pendeta Ahn hadapi, seorang uskup hitam bernama Jisin (Woo Do-hwan). Jisin mengambil keuntungan dari kelemahan manusia dan melepaskan kekuatan jahat pada manusia.
 
Salah satu adegan Park Seo-jun dalam film "The Divine Fury" (Instagram.com/keyeastofficial)
Salah satu adegan Woo Do-hwan dalam film "The Divine Fury" (Instagram.com/keyeastofficial)


Sutradara Jason Kim menggabungkan khayalan kegelapan dengan unsur aksi dalam film berdurasi sekitar 129 menit itu. Unsur kekerasan, darah dan gerakan manusia super mewarnai sebagian scene film. Aksi laga Park Seo-jun dan Do-hwan juga menjadi suguhan tersendiri yang memikat penonton terutama kaum hawa.

Tak melulu rasa tegang, "The Divine Fury" juga menyelipkan sedikit unsur komedi kendati samar.

Bagi pecinta film bertema pengusiran iblis, mungkin sepintas akan mengingat sejumlah film Hollywood, salah satunya "Constantine" yang tayang pada tahun 2015.

Bedanya, tokoh utama film itu, John Constantine (Keanu Reeves) memang berprofesi sebagai pemburu iblis dan tentunya ada sejumlah perbedaan lain anrara kedua film ini.

Sayang sekali, sutradara tak begitu menggambarkan kisah tokoh Yong-hu usai melawan Jisin, kembali menjadi atlet atau justru pendeta pengusir iblis. Jason justru memberikan teaser akan mengeluarkan karya terbaru, yang menampilkan pendeta Choi sebagai tokoh utama.

"The Divine Fury" produksi KEYEAST sudah tayang di negeri asalnya, Korea Selatan pada 31 Juli 2019 dan di bioskop Indonesia pada 14 Agustus 2019.

Baca juga: "Crawl", teror aligator di tengah badai mematikan

Baca juga: Resensi Film - Membayangkan dunia tanpa The Beatles dalam "Yesterday"

Baca juga: "Toy Story 4", nostalgia dan petualangan tanpa akhir

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar