Tokoh masyarakat tolak intervensi asing pada proyek Batangtoru

Tokoh masyarakat tolak intervensi asing pada proyek Batangtoru

Para tokoh adat dan masyarakat Tapsel melakukan aksi damai di depan Kantor Kedutaan Belanda di Jakarta, Kamis (15/8/8/2019) (ANTARA/HO)

kami siap membela percepatan pembangunan PLTA Batangtoru
Jakarta (ANTARA) - Tokoh masyarakat dan tokoh adat Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara, melakukan aksi simpatik di depan kantor Kedutaan Besar Inggris dan Kedutaan Besar Belanda di Jakarta, Kamis pagi, untuk menolak intervensi asing terhadap proyek strategis nasional (PSN) PLTA Batangtoru.

Para tokoh masyarakat tersebut menyebutkan dalam orasinya, bahwa sejumlah orang asing yang merupakan warga negara Inggris dan Belanda dari beberapa LSM telah melakukan provokasi masyarakat di Sipirok, Marancar dan Batangtoru (Simarboru), dengan tujuan untuk menggagalkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru, yang merupakan bagian dari proyek strategis nasional (PSN).

"Kami mendukung penuh kebijakan Bapak Presiden RI, Joko Widodo, dalam membangun proyek-proyek infrastruktur, termasuk proyek energi terbarukan berupa PLTA yang ada di kampung kami. Tapi pembangunan ini mendapat provokasi orang-orang asing yang tergabung di LSM, yang berupaya untuk menggagalkan proyek ini," kata Koordinator Aksi,  Abdul Gani Batubara.

Tokoh adat dan masyarakat yang melakaukan aksi tersebut berasal dari Kecamatan Sipirok, Kecamatan Marancar dan Kecamatan Batangtoru.

Sementara itu, Raja Luat Sipirok gelar Sutan Parlindungan Suangkupon, Edward Siregar, mengatakan, orang-orang yang telah melakukan provokasi kepada masyarakat, seperti Ian Singleton (dari PanEco) dan Garbriella Fredicson dari Sumatran Orangutan Conservation Programme dan teman-temannya, harus ditegur oleh pihak kedutaan.

"Perbuatan mereka sudah mengganggu warga kami di Simarboru,” kata Edwrd Siregar.

Edward Siregar juga dengan tegas mengatakan, masyarakat akan mengusir orang-orang asing dan LSM asing tersebut bila terus melakukan provokasi kepada warga dan mengganggu ketenteraman masyarakat.

"Kami saja kalau melakukan keributan di kampung kami, kami mendapat sanksi adat. Apalagi mereka itu orang-orang asing, harus ditindak tegas," lanjut Edward Siregar.

Baik Abdul Gani Batubara mau pun Edward Siregar, mengatakan masyarakat Simarboru mendukung penuh pembangunan proyek PLTA Batangtoru, karena keberadaan proyek energi terbarukan yang ramah lingkungan tersebut akan memberi manfaat besar bagi masyarakat banyak, baik di Simarboru mau pun untuk kepentingan nasional.

Begitu juga, keberadaan PLTA Batangtoru nantinya diharapkan mampu membantu perbaikan ekonomi masyarakat di sekitar Sipirok, Marancar dan Batangtoru.
"Jadi kami warga masyarakat, siap membela dan mendukung percepatan pembangunan PLTA Batangtoru," ujar Abdul Gani.

Para tokoh masyarakat yang turut melakukan aksi di Kedutaan Besar Belanda dan Inggris, antara lain Abdul Gani Batubara (tokoh masyarakat), Edward Sirega (Raja Luat Sipirok gelar Sutan Parlindungan Suangkupon), Yusuf Siregar (Raja Adat Marancar), Mara Iman Nasution (Tokoh Masyarakat), Tawari Siregar (Mangaraja Tenggar) dan Khoirullah Harahap (Tokoh Masyarakat).

Setelah melakukan aksinya, para tokoh masyarakat tersebut menyerahkan surat terbuka yang disampaikan kepada Duta Besar Inggris dan Duta Besar Belanda, yang diterima oleh staf kedutaan masing-masing.


Baca juga: Walhi: Selamatkan orangutan Tapanuli
Baca juga: KLHK: orangutan tidak terganggu pembangunan PLTA Batangtoru

 

Pewarta: Heru Dwi Suryatmojo
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemerintah Tajikistan kebut pembangunan PLTA Rogun

Komentar