counter

Artikel

Membendung pemanasan global dari Benteng Van den Bosch

Oleh Andi Jauhary

Membendung pemanasan global dari Benteng Van den Bosch

Vice President Director Djarum Foundation F.X. Supanji (dua kiri) bersama Dandim Dandim 0805/Ngawi Letkol (Arh) Hany Mahmudhi mewakili Pagdam V Brawijaya (paling kanan) menanmak pohon dan semak berbunga di Benteng Van Den Bosch (Benteng Pendem) di Kabupaten Ngawi, Jatim, Rabu (14/8/2019). (FOTO ANTARA/Humas DTFL).

Ngawi, Jatim (ANTARA) - Sebuah kolaborasi digagas para pihak sebagai upaya "membendung" pemanasan global, yang salah satu titiknya dilakukan di kawasan Benteng Van den Bosch", di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Diusung atas kerja sama Bakti Lingkungan Djarum Foundation, Kodam V Brawijaya, dan Pemkab Ngawi, pada Rabu (14/8) kegitan tersebut juga melibatkan sebanyak 250 mahasiswa yang berasal dari sejumlah perguruan tinggi di Kabupaten Ngawi, dan Kabupaten Madiun, dan bahkan dari Yogyakarta, di antaranya STKIP Modern Ngawi, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Unversitas Soerjo Ngawi, dan Institut Agama Islam (IAI) Ngawi.

Kemudian, Universitas Merdeka Madiun, Politeknik Negeri Madiun, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Madiun, STISIP Muhammadiyah Madiun, Unika Widya Mandala, dan Universitas PGRI Madiun.

Para mahasiswa itu menurut Direktur Komunikasi Djarum Foundation Mutiara Diah Asmara adalah wakil dari generasi milenial yang akan menjadi duta-duta lingkungan di masa depan untuk menyelamatkan bumi.

Para pihak tersebut melakukan penghijauan melalui program gerakan "Siap Sadar Lingkungan" (Siap Darling), yang dipusatkan di benteng yang berada di Komplek Angicipi Batalyon Artileri Medan (Armed) 12, di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, Kabupatan Ngawi.

Program Siap Darling sendiri sudah dimulai pertama kali di kawasan Candi Prambanan di perbatasan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Rabu (26/6) 2019.

Saat itu, Vice President Djarum Foundation F.X. Supanji, General Manajer Taman Wisata Candi (TWC) Prambanan Aryono Hendro Malyanto, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY Dra Zaimul Azzah, M.Hum, juga disertai pejabat yang mewakili Bupati Sleman DIY Sri Purnomo dan Bupati Klaten Sri Mulyani bersama 500 mahasiswa di Yogyakarta dan Jateng, menanam ratusan pohon dan ribuan semak berbunga.

Benteng "Van Den Bosch" atau populer dengan sebutan "Benteng Pendem" di Kabupaten Ngawi itu adalah bangunan cagar budaya peninggalan era kolonial Belanda pada masa 1839-1845, yang kini juga dikenal sebagai objek wisata sejarah

Di kawasan seluas lebih kurang 15 hektare itu -- pada area depan pintu benteng -- dihijaukan dengan penanaman ratusan pohon dan semak berbunga oleh mahasiswa, yang juga diikuti Vice President Director Djarum Foundation FX Supanji dan Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI R Wisnoe Prasetja Boedi -- yang diwakili Dandim 0805/Ngawi Letkol (Arh) Hany Mahmudhi, SE.

Benteng Pendem yang pada awal Februari 2019 sempat dikunjungi Presiden Joko Widodo itu hingga kini masuk dalam area pengawasan Batalyon Artileri Medan (Yon Armed) 12 di bawah Resimen Artileri Medan 1/Putera Yudha Divisi Infanteri (Divif) 2 Kostrad.

Saat berkunjung di Benteng Pendem itu, Kepala Negara telah menginstruksikan kepada Kementerian PUPR untuk melakukan pemugaran benteng tersebut.

Ekosistem pelestarian lingkungan

Bagi Mutiara Diah Asmara, Direktur Komunikasi Djarum Foundation, gerakan "Siap Darling" adalah upaya memfasilitasi semangat generasi milenial, khususnya mahasiswa yang ingin bergerak bersama-sama dalam memelihara, melestarikan serta memperbaiki keadaan lingkungan sekitar dengan cara yang paling dekat, mudah dan disenangi.

"Kami melihat bahwa generasi milenial memiliki semangat besar untuk menjaga dan merawat lingkungan. Semangat dan motivasi inilah yang kemudian diimplementasikan melalui gerakan 'Siap Darling'," katanya.

Tujuannya adalah menciptakan ekosistem pelestarian lingkungan yang berkelanjutan dan menularkan kebiasaan baik itu di masyarakat luas.

Dengan penanaman pohon itu diharapkan Benteng Van den Bosch semakin nyaman dan menarik bagi wisatawan sehingga bisa menjadi unggulan tujuan wisata di Ngawi dan memiliki dampak positif, baik dari sisi lingkungan hingga menggerakkan roda ekonomi masyarakat sekitar.

Sedangkan Dandim 0805/Ngawi Letkol (Arh) Hany Mahmudhi menyatakan gerakan penghijauan tentu bernilai positif untuk memelihara ekosistem lingkungan hidup, termasuk di Kabupaten Ngawi.

"Pohon yang ditanam selain bisa membantu keteduhan, juga menyerap air sehingga kandungan air juga akan lebih banyak, sehingga kita mendukung upaya-upaya semacam ini," katanya.

Sedangkan FX Supanji menambahkan bahwa upaya penanaman pohon dan penghijauan harus dimulai kapan saja tanpa harus menunggu.

"Jika kita mulai hari ini, maka 20 tahun ke depan akan bertambah kandungan air di lingkungan sekitar pohon yang ditanam itu," katanya.

Mengenai lokasi penanaman pohon dan semak berbunga di Benteng Pendem, ia menyatakan bahwa bangunan itu adalah salah satu cagar budaya.

"Itu peninggalan sejarah yang harus kita hargai, jaga dan rawat sehingga akan bisa diketahui generasi penerus," katanya.


Edukasi sejarah perjuangan

Dalam perspektif lain, karena benteng itu memiliki riwayat sejarah perjuangan, Danyon Armed 12 Mayor (Arm) Ronald F Siwabessy mengharapkan keberadaan Benteng Pendem itu bisa dijadikan museum untuk edukasi masyarakat, khususnya generasi muda.

"Sehingga mereka mengetahui sejarah perjuangan pendahulu kita dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia," katanya.

Sedangkan Dandim 0805/Ngawi Hany Mahmudhi menyambut baik upaya Djarum Foundation melestarikan situs sejarah melalui program Siap Darling.

Dengan hadirnya gerakan ini, diyakini dapat mendorong generasi muda untuk semakin mencintai dan menghargai jasa-jasa para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Benteng Van Den Bosch yang kini menjelma sebagai objek wisata perlu dijaga dan dilestarikan keberadaannya karena tempat ini merekam perjuangan yang dilakukan bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Benteng bergaya Romawi ini dibangun Belanda pada tahun 1839 hingga 1845 untuk meredam pergolakan rakyat melawan penjajah hingga satu abad lamanya.

"Benteng ini merupakan sebuah tempat yang sangat penuh nilai sejarah yang tentunya harus dilestarikan. Apa yang dilakukan bersama mahasiswa hari ini adalah upaya untuk menjaga dan terus mengenang perjuangan para pahlawan," katanya.

 


Dalam catatan sejarah yang ditulis dalam laman Dinas Pariwisata Kabupaten Ngawi www.ngawitourism.com disebutkan pada abad 19 Kota Ngawi menjadi salah satu pusat perdagangan dan pelayaran di Jawa Timur dan dijadikan pusat pertahanan Belanda di wilayah Madiun dan sekitarnya.

Dalam perang Diponegoro (1825-1830 ) perlawanan melawan Belanda yang berkobar di daerah itu dipimpin oleh kepala daerah setempat seperti di Madiun dipimpin oleh Bupati Kerto Dirjo dan di Ngawi dipimpin oleh Adipati Judodiningrat dan Raden Tumenggung Surodirjo, serta salah satu pengikut pangeran Diponegoro bernama Wirotani.

Pada tahun 1825 Ngawi berhasil direbut dan diduduki oleh Belanda. Untuk mempertahankan kedudukan dan fungsi strategis Ngawi serta menguasai jalur perdagangan, Pemerintah Hindia-Belanda membangun sebuah benteng yang selesai pada tahun 1845 yaitu Benteng Van Den Bosch.

Benteng ini dihuni tentara Belanda 250 orang bersenjatakan bedil, 6 meriam api dan 60 orang kavaleri dipimpin oleh Van Den Bosch.

Di dalam benteng ini sendiri terdapat makam K.H Muhammad Nursalim, yaitu salah satu pengikut Pangeran Diponegoro yang ditangkap oleh Belanda dan dibawa ke benteng ini.

KH Muhammad Nursalim ini adalah orang yang menyebarkan agama Islam pertama di Ngawi, dan memiliki kesaktian yang tinggi, yaitu tidak mempan ditembak, oleh karena itu maka ia dikubur hidup-hidup.

Makam KH Muhammad Nursalim hingga kini masih terawat baik di benteng tersebut.

Baca juga: Benteng "Van den Bosch" Ngawi dihijaukan pohon dan bunga

Baca juga: Presiden "ngopi" santai di Benteng Pendem Ngawi

 

Oleh Andi Jauhary
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar