counter

Sampah plastik di perairan Ternate kian menghawatirkan

Sampah plastik di perairan Ternate kian menghawatirkan

Sejumlah warga mengangkat sampah saat melakukan Aksi Bersih Pantai di Desa Passo, Ambon, Maluku, Sabtu (20/7/2019). (ANTARAFOTO/Izaac Mulyawan)

Saya sering menyelam di Pantai Ternate dan melihat sampah plastik bertebaran dimana-mana, termasuk di atas permukaan terumbu karang.
Ternate (ANTARA) - Keberadaan sampah plastik di perairan Pantai Ternate, Maluku Utara (Malut), dinilai kian mengkhawatirkan dan kalau tidak segera diatasi dapat mengancam kelestarian lingkungan perairan yang memiliki keindahan panorama bawah laut itu.

"Saya sering menyelam di Pantai Ternate dan melihat sampah plastik bertebaran dimana-mana, termasuk di atas permukaan terumbu karang," kata salah seorang pemerhati lingkungan di Malut Djafar di Ternate, Jumat.

Sampah plastik di perairan Pantai Ternate itu umumnya merupakan sampah rumah tangga yang dibuang di selokan atau kali yang kemudian hanyut ke laut saat hujan turun.

Menurut dia, untuk mengatasi sampah di perairan Pantai Ternate itu, selain harus dilakukan pembersihan, juga harus ada upaya penyadaran kepada masyarakat agar tidak lagi membuang sampah plastik secara sembarangan.

Baca juga: Puteri Indonesia kampanyekan pengurangan plastik

Baca juga: Sudin LH Jakbar prediksi besek bambu kurangi sampah plastik 40 persen


Pemerintah Kota Ternate juga harus mengeluarkan regulasi, misalnya dalam bentuk peraturan daerah yang melarang pusat perbelanjaan modern, termasuk para pedagang di pasar tradisional untuk menggunakan kantung plastik saat melayani pembeli.

Kebijakan kantung plastik prabayar seperti yang pernah diterapkan pemerintah pusat kepada pusat perbelanjaan modern, menurut Djafar, bukan solusi terbaik untuk mengurangi penggunaan katung plastik karena masyarakat tetap menggunakan kantung plastik karena harganya murah yakni paling tinggi Rp1.000 per kantung.

Di Ternate, termasuk di daerah lainnya di Malut, memiliki kearifan lokal yang digunakan masyarakat saat pergi berbelanja di pasar yang disebut saloi dan ini perlu dihidupkan kembali karena bisa mengalihkan masyarakat dari penggunaan kantung plastik saat berbelanja di pasar. Saloi adalah tas khas dari kayu, bambu, atau rotan.

Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Kota Ternate Thamrin Marsaoly mengakui keberadaan sampah plastik di perairan Pantai Ternate yang semakin mengkhawatirkan itu, sehingga harus ada tindakan bersama dari semua pihak untuk mengatasinya.

Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Kota Ternate sendiri sudah menerima surat edaran dari Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk melakukan sosialisasi pengurangan pemanfaatan kantung plastik di masyarakat dan dalam menindaklanjutinya telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak seperti Pramuka serta sejumlah elemen masyarakat untuk membersihkan sampah plastik di berbagai lokasi di Ternate.*

Baca juga: Nelayan sebut sampah plastik sebabkan perairan pantai Marunda dangkal

Baca juga: Walhi: perlu kebijakan tegas atasi masalah plastik sekali pakai

Pewarta: La Ode Aminuddin
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kolam ikan dari sampah plastik minuman kemasan

Komentar