counter

Program studi harus sesuai kebutuhan pasar, sebut Menristekdikti

Program studi harus sesuai kebutuhan pasar, sebut Menristekdikti

Argitha Aricindy mahasiswi semester 6 Prodi Pendidikan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan akan mengikuti ajang nasional pada Pemilihan Mahasiswa Berprestasi di Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. (FOTO ANTARA/Istimewa)

Sejumlah prodi yang telah dimoratorium untuk dibuka seperti di bidang pendidikan dan sosial. Untuk itu, ke depan akan lebih didorong untuk pembukaan prodi di bidang sains dan teknologi
Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan program studi (prodi) yang dibuka dan dikembangkan perguruan tinggi harus sesuai dengan kebutuhan pasar dan zaman.

"Program studi yang ada bukan 'bussiness as ussual', program studi yang ada sekarang itu masa lalu yang dipertahankan terus, ini kami sudah ubah , prodi yang akan dipilih adalah prodi yang dibutuhkan oleh 'demand' oleh pasar," katanya kepada wartawan usai acara pengumuman Klasterisasi Perguruan Tinggi Tahun 2019 di Gedung Ristekdikti, Jakarta, Jumat.

Nasir mengatakan prodi  yang berkembang ke depan harus mampu mencetak luluan pendidikan tinggi yang terampil dan menjawab kebutuhan dunia kerja.

"Kalau kita ada lulusan yang tidak dibutuhkan oleh 'market' (pasar) itu kan masalah dan nanti jadi pengangguran, maka ada beberapa prodi saya mulai moratorium," ujarnya.

Dia mengatakan sejumlah prodi yang telah dimoratorium untuk dibuka seperti di bidang pendidikan dan sosial. Untuk itu, ke depan akan lebih didorong untuk pembukaan prodi di bidang sains dan teknologi.

"Oleh karena itu dosen prodi geser ke prodi yang dibutuhkan masyarakat sekarang," katanya.

Dia mengatakan prodi di bidang digitalisasi masih sangat rendah seperti tentang "coding" dan "artificial intelligence", padahal dibutuhkan pasar. Untuk itu, perlu dicetak lebih banyak prodi di bidang tersebut.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan sumber daya manusia (SDM) lulusan pendidikan tinggi (PT) harus dapat berdaya saing tinggi hingga di tingkat regional dan global.

"Untuk tingkat pendidikan tinggi kita harus berani mencanangkan target tinggi bahwa SDM lulusan pendidikan tinggi kita harus kompetitif di tingkat regional dan global," kata Presiden dalam pidato kenegaraan dalam rangka HUT Ke-74 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di depan Sidang Bersama Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Tahun 2019 di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Senayan Jakarta, Jumat.

Jokowi mengatakan keterampilan vokasional yang akan dibutuhkan pasar (emerging skills) harus sudah dilatihkan sejak pendidikan menengah.

Selain itu, Jokowi menuturkan SDM Indonesia harus kompetitif dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang inovatif, menguasai "emerging skills" yang mampu mengisi "emerging jobs" dan membangun "emerging business".

Baca juga: Kemristekdikti lakukan moratorium prodi ilmu keperawatan

Baca juga: ITS terima prodi sosial lewat SBMPTN

Baca juga: Kemristekdikti cabut moratorium prodi kedokteran

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

RI – Inggris siapkan Rp37 miliar untuk riset penyakit menular

Komentar