counter

Kondisi Tanjung Lesung berangsur-angsur pulih pascatsunami

Kondisi Tanjung Lesung berangsur-angsur pulih pascatsunami

Direktur Operasional Banten West Java (BWJ) Tourism Development selaku pengelola KEK Tanjung Lesung Kunto Wijoyo di Tanjung Lesung Beach Hotel, Pandeglang, Banten. (Cornea Khairany)

Tanjung Lesung, Pandeglang, Ba (ANTARA) - Banten West Java (BWJ) Tourism Development selaku pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung menyatakan kondisi Tanjung Lesung secara keseluruhan saat ini sudah pulih sekitar 50 hingga 60 persen.

“Pasca bencana tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 lalu, sekarang ini, sesuai data yang kami punya, Tanjung Lesung sudah recovery (pulih) sekitar 50 sampai 60 persen, terus berangsur-angsur pulih,” kata Direktur Operasional BWJ Tourism Development Kunto Wijoyo di Tanjung Lesung Beach Hotel, Pandeglang, Banten, Sabtu.

Menurut dia, pembangunan infrastruktur bukan menjadi masalah utama di kawasan tersebut. Bagian paling sulit dalam memulihkan kawasan Tanjung Lesung pasca tsunami, sambung dia, yaitu mengembalikan kepercayaan masyarakat dan juga wisatawan.

“Membangun infrastruktur itu tidak masalah. Yang paling sulit adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat dan juga wisatawan, bahwa saat ini kawasan wisata Tanjung Lesung sudah aman untuk dikunjungi kembali,” ujar Kunto.

Untuk mengembalikan kepercayaan tersebut, dia menuturkan pihaknya melakukan upaya-upaya tertentu.

Pertama, yaitu dengan terus-menerus melakukan promosi wisata Tanjung Lesung, sambil memberikan pemahaman kepada masyarakat dan wisatawan bahwa tidak ada masalah pasca tsunami di kawasan wisata tersebut.

“Kedua, kami juga terus mempererat kerja sama dengan pemerintah dan para pelaku usaha di bidang pariwisata. Pemerintah mau membantu 100 persen, terutama dari Pemerintah Kabupaten Pandeglang. Kemudian, para pelaku usaha pariwisata juga ikut berpartisipasi memulihkan wisata Tanjung Lesung,” tutur Kunto.

Sementara itu, dia mengungkapkan untuk lebih meningkatkan kepercayaan masyarakat, saat ini sedang dibangun suatu teknologi sistem peringatan dini di bibir pantai untuk mendeteksi perubahan permukaan air laut dengan perimeter sejauh 200 kilometer.

“Alat pendeteksi itu sangat canggih, namanya radar wera, berasal dari Jerman, persembahan dari PT Terindo. Radar ini merupakan satu-satunya dan pertama yang digunakan di Indonesia. Shelter untuk radar itu masih dalam pembangunan, kira-kira dua minggu lagi selesai,” ungkap Kunto.

Lebih lanjut, dia menambahkan setelah shelter tersebut selesai dibangun, nantinya akan ada sejumlah tenaga ahli dari Jerman yang akan memberikan pelatihan (training) kepada SDM Indonesia mengenai radar tersebut.

Baca juga: Tiga perusahaan berkomitmen jadikan Tanjung Lesung berkelas dunia

Baca juga: Menpar targetkan satu juta wisatawan Tanjung Lesung jika tol selesai


Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

PLN UID Banten kampanyekan penggunaan kompor listrik ke warga

Komentar