counter

SDM Unggul Indonesia Maju

Di Museum Fatahillah, 200 penari lestarikan Tari Cokek

Di Museum Fatahillah, 200 penari lestarikan Tari Cokek

Sekitar 200 penari dari berbagai komunitas dan kalangan melestarikan tari Cokek di pelataran Museum Fatahillah yang merupakan akulturasi budaya Betawi, Cina dan Sunda yang nyaris hilang. (ANTARA News/Muhammad Zulfikar)

Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 200 penari dari berbagai komunitas dan kalangan melestarikan tari Cokek di pelataran Museum Fatahillah yang merupakan akulturasi budaya Betawi, Cina dan Sunda yang nyaris hilang.

"Kita menggagas acara ini untuk mengembalikan lagi arti tari cokek yang sebenarnya," kata Ketua Indonesia ID Eva Simanjuntak, di Jakarta, Minggu.

Ia menjelaskan tari cokek saat ini mulai distorsi karena adanya anggapan tari tersebut erotis dan lainnya padahal tidak demikian.

Baca juga: DKI Jakarta terus kembangkan kawasan Kota Tua

Sejatinya tari cokek digunakan untuk menyambut tamu di wihara namun keberadaan akulturasi tiga budaya itu mulai hilang karena adanya anggapan miring dari pihak tidak bertanggung jawab.

Padahal, kata dia, seluruh gerakan tari cokek penuh dengan makna dan memiliki arti filosofi tersendiri. Sebagai contoh gerakan souja itu semuanya harus dari hati, gerakan tangan ke atas menandakan semuanya harus seizin tuhan.

"Kemudian ada juga gerakan yang sejatinya mengajarkan kita untuk selalu berpikir jernih dan positif," ujarnya.

Pelaksanaan tari cokek juga sekaligus untuk merayakan keberagaman Indonesia. Para penari berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda dari anak-anak, remaja, orang tua, bahkan nenek-nenek.

"Karena kita beragam, kita berkebhinnekaan, maka kita menjadi Indonesia," ujarnya.

Para peserta Flash Mob Jakarta Cokekan ini juga menantang kota lain untuk melaksanakan hal yang sama dengan tarian daerahnya masing-masing.

Sejauh ini sudah lima kota yang menjawab tantangan merayakan keberagaman ini, yakni Kota Bandung, Makassar, Solo, Mataram dan Medan.

Kota Bandung bahkan sudah siap melaksanakan dua minggu setelah Flash Mob di Jakarta dengan jumlah peserta yang kurang lebih sama dengan Jakarta.

Baca juga: Dewan Kesenian Jakarta gelar "Telisik Tari"

Baca juga: Tari Cokek bukan erotisme

Baca juga: Budayawan: ada pergeseran makna Tari Cokek Betawi


 

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Nurul Hayat
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Akulturasi budaya pernikahan Muslim India dan Minang

Komentar