Ketum Himppera sebutkan minat masyarakat akan rumah subsisi tinggi

Ketum Himppera sebutkan minat masyarakat akan rumah subsisi tinggi

Ketua Umum DPP Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himppera) Endang Kawijaya (tengah) didampingi DPD Himppera Bali Wayan Jayantara.(Antaranews Bali/Komang Suparta/2019)

Denpasar, Bali (ANTARA) - Ketua Umum DPP Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himppera) Endang Kawijaya menyebutkan rumah subsidi masih cukup diminati masyarakat Indonesia, terbukti saat pengembang melakukan pembangunan sudah banyak yang  memesannya.

"Kalau berdasarkan data, bahwa masyarakat Indonesia sangat membutuhkan rumah subsidi tersebut. Sejak pemerintah meluncurkan program rumah subsidi tersebut, warga semakin meningkat yang mendaftar untuk mendapatkan rumah itu," kata Endang Kawijaya di sela pembukaan "Himppera Property Expo 2019" di Denpasar, Bali, Senin.

Ia mengatakan rumah subsidi tersebut tersebar di seluruh daerah di Indonesia. Namun untuk di Bali terjadi perbedaan karena  harga tanah yang lebih mahal dibanding di daerah lain, seperti di Jawa.

"Kalau di wilayah Jawa mendapat rumah subsidi dengan harga Rp104 juta per unit. Sedangkan di Bali bisa dengan harga Rp158 juta per unit. Untuk pengambilan rumah tersebut ada ketentuan dan persyaratan berlaku," katanya.

Sementara itu, Ketua DPD Himppera Provinsi Bali Wayan Jayantara mengatakan pihaknya ingin menyosialisasikan rumah MBR (masyarakat berpenghasilan rendah). Karena banyak warga belum memahami tentang rumah tersebut, termasuk juga persyaratan.

"Kami akan memberi informasi secara terbuka dan rinci. Mengenai apa itu syarat rumah MBR kepada masyarakat Bali. Target realisasi pada pameran kali ini yang berlangsung selama sepekan hingga 25 Agustus mendatang sebanyak 250 ribu unit," katanya.

Ia mengatakan kuota secara nasional masih tersisa sekitar 14.000 unit rumah MBR. Sedangkan di Bali saja  daftar tunggu mencapai 400 ribu agar bisa terealisasi. Dengan kuota perbandingan 100 ribu unit non-subsidi, dan 300 ribu bersubsidi atau rumah MBR.

"Kami melakukan pembangunan hampir di seluruh daerah di Bali, kecuali di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Untuk membangun rumah MBR kami menggunakan lahan tegalan. Kami menghindari lahan produktif. Dalam mendapatkan lahan kami bekerjasama dengan semua pihak, termasuk juga Badan Pertanahan Nasional (BPN)," ujarnya.




 

Pewarta: I Komang Suparta
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar