counter

Artikel

Harapan dan ambisi menjadikan NTT pemasok utama garam nasional

Oleh Kornelis Kaha

Harapan dan ambisi menjadikan NTT pemasok utama garam nasional

Sejumlah pekerja sedang bekerja di tambak garam yang dikelolah oleh PT Timor Livestock Lestari di desa Nunkurus Kabupaten Kupang, NTT (20/8/2019).ANTARA FOTO/Kornelis Kaha.

NTT ini akan menjadi provinsi yang hebat akan garam jika dikelola dengan sangat baik
Kupang (ANTARA) - Indonesia sampai dengan saat ini masih saja mengimpor garam industri dari luar negeri dengan jumlah impor mencapai 3,7 juta ton per tahun.

Hal ini karena produksi garam industri di Indonesia baru mencapai 1,1 juta ton per tahun, padahal Indonesia adalah negara maritim yang luas lautnya lebih luas dari luas daratan.

Saat ini daerah-daerah di Indonesia Timur seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) misalnya memiliki panas yang cukup bagus, sehingga dapat menghasilkan garam yang baik dan mempunyai potensi besar untuk memproduksi garam industri dengan jumlah yang besar.

Beberapa pihak termasuk pemerintah NTT sendiri menyakini bahwa jika dikelola secara baik tentu akan bisa membantu memperkecil impor garam yang selama ini dilakukan

Di kabupaten Kupang saja, terdapat kurang lebih 10.000 hektare lahan garam yang dapat dikembangkan menjadi area tambak garam.

Bagi masyarakat di Kabupaten Kupang, garam adalah "emas putih" yang menghasilkan uang yang nantinya dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam kunjungan kerjanya ke lokasi tambak garam tersebut Rabu (21/8) mengatakan bahwa jika tambak garam itu dikelola secara baik maka akan menjadi mata pencaharian masyarakat di daerah itu.
 
Presiden Joko Widodo (kanan) sedang berbincang-bincang dengan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kiri) dan Gubernur NTT Viktor B Laiskodat saat petakan tambak garam yang dikelolah oleh PT Timor Livestock Lestari di desa Nunkurus Kabupaten Kupang, NTT (21/8/2019). Menurut Jokowi garam yang dihasilkan di kawasan itu bisa menjadi garam industri dan jika dikembangkan lagi mampu menjadi garam konsumsi.ANTARA FOTO/Kornelis Kaha.


Secara keseluruhan, potensi lahan tambak garam di NTT mencapai 60.000 hektare dan paling sedikit 21.000 hektare dapat realisasikan dalam waktu 2-3 tahun ke depan.

Dari lahan seluas 21.000 hektare tersebut produksi garam akan mencapai 2,6 juta ton per tahun. Namun kata Presiden dari yang ia tinjau di lokasi tambak garam Nunkurus masih jauh dari yang ditargetkan.

"Di sini baru 10 hektare yang dikembangkan dari 600 hektare. Untuk mencapai 21.000 hektare masih sangat jauh sekali," kata dia.

Hal utama, menurut Presiden,  yang harus diperhatikan dalam produksi garam itu adalah investor. Jokowi menilai bahwa pembuatan pabrik garam membutuhkan investor dengan nilai investasi yang sangat besar. Bayangkan saja, untuk investasi tambak garam di Desa Nunkurus saja nilai investasinya mencapai Rp110 miliar.

"Produksi garam itu memerlukan investasi yang tidak sedikit. Di Nunkurus ini adalah investasi yang pertama dikerjakan. Tahun depan akan selesai dikerjakan 600 hektare," kata dia.

Hal yang paling penting lagi, menurut Jokowi, adalah pembangunan tambak garam di sebuah daerah juga harus mengikutsertakan masyarakat guna meningkatkan kesejateraan masyarakat setempat.

"Petani tambak harus diikutsertakan. Jadi mereka tidak hanya bekerja tetapi juga memiliki lahan itu seperti saham sehingga nanti penghasilan masyarakat di sini bisa lebih baik," tutur dia.


Lebih Bagus.

Presiden Jokowi saat meninjau lokasi tambak garam Nunkurus sempat ditunjukan perbandingan antara garam dari Madura, Surabaya, dan Australia.

Menurut dia, garam yang ada di Nunkurus adalah garam yang lebih bagus dari tiga daerah penghasil garam tersebut.

"Hasilnya di sini lebih bagus, lebih putih, dan bisa masuk ke garam Industri, kalau diolah lagi bisa menjadi garam konsumsi," tutur dia.

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto optimistis garam industri potensial dihasilkan di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dibidik sebagai produsen garam industri sebagai subtitusi impor.

“Dengan mengganti garam industri impor, pemerintah akan menghemat devisa,” kata Airlangga.
 
Presiden Joko Widodo (kanan), Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (ketiga kanan) dan Gubernur NTT Viktor B Laiskodat (kedua kanan), Ibu negara Iriana Joko Widodo (ketiga kiri) ibu gubernur NTT Julie Laiskodat (kedua kiri) dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat meninjau petakan tambak garam yang dikelolah oleh PT Timor Livestock Lestari di desa Nunkurus Kabupaten Kupang, NTT (21/8/2019). Menurut Jokowi garam yang dihasilkan di kawasan itu bisa menjadi garam industri dan jika dikembangkan lagi mampu menjadi garam konsumsi.ANTARA FOTO/Kornelis Kaha.


Pemerintah saat ini terus mendorong peningkatan produktivitas dan kualitas garam dalam negeri, sehingga bisa terserap sesuai kebutuhan dunia industri.

Dengan adanya investasi masuk akan terjalin sinergi antara sektor industri dengan para petani garam.

“Langkah sinergi tersebut, tentunya akan meningkatkan kesejahteraan para petani garam dalam negeri, sekaligus guna menjamin ketersediaan garam sebagai bahan baku dan bahan penolong bagi sektor industri,” tuturnya.

Namun berbagai upaya yang diharapkan itu bisa berjalan jika ada campur tangan dari pemerintah daerah itu sendiri.


Target NTT

Potensi garam di NTT memang sangatlah luar biasa. Untuk Pulau Timor saja terdapat tiga kabupaten yang memiliki potensi garam yang sangat bagus.

Tiga kabupaten itu adalah Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Utara, dan Kabupaten Malaka. Tiga kabupaten ini adalah kabupaten yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.

Selain tiga kabupaten itu ada pulau tambak garam yang tersebar di Kabupaten Sabu Raijua, Rote Ndao dan Nagekeo.

Pemerintah NTT sendiri optimis bahwa provinsi tersebut dalam beberapa tahun ke depan mampu menyumbangkan garam untuk mengurangi impor garam industri secara nasional.
 
Presiden Joko Widodo (tengah) didamping Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kiri) dan Gubernur NTT Viktor B Laiskodat usai meninjau lokasi tambak garam yang dikelolah oleh PT Timor Livestock Lestari di desa Nunkurus Kabupaten Kupang, NTT (21/8/2019). Menurut Jokowi garam yang dihasilkan di kawasan itu bisa menjadi garam industri dan jika dikembangkan lagi mampu menjadi garam konsumsi.ANTARA FOTO/Kornelis Kaha.


Dengan banyaknya potensi garam di NTT itu, Gubernur NTT Viktor Laiskodat menargetkan pada tahun 2023 paling tidak NTT bisa menyumbangkan 1 juta ton garam untuk nasional.

"Kami harapkan pada tahun 2023 nanti, 1 juta ton garam bisa kita hasilkan dan disumbangkan ke nasional," kata Karo Humas Pemprov NTT Marius A Jelamu.

Gubernur NTT Viktor B Laiskodat dalam setiap kesempatan selalu menyampaikan bahwa cuaca panas yang diberikan Tuhan kepada provinsi itu adalah anugerah, karena mampu membantu menghasilkan garam yang banyak di NTT.

Oleh karena itu menurut dia provinsi berbasis kepulauan itu akan menjadi penyumbang garam terbesar bagi Indonesia karena sejumlah daerah di provinsi itu penghasil garam.

"NTT ini akan menjadi provinsi yang hebat akan garam jika dikelola dengan sangat baik," ujarnya.





 

Oleh Kornelis Kaha
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Petani garam di Cirebon gunakan teknik prisma

Komentar