counter

Jepang pertimbangkan sosok pembawa obor Olimpiade etape terakhir

Jepang  pertimbangkan sosok pembawa obor Olimpiade etape terakhir

Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach berjabat tangan dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada seremonial peringatan 'One Year to Go" penghitungan mundur hingga Olimpiade pada 2020 di Tokyo Internasional Forum di Tokyo, Jepang, Rabu (24/7/2019). (REUTERS/ISSEI KATO)

Tokyo (ANTARA) - Dengan Olimpiade Tokyo kurang dari satu tahun ke depan, spekulasi berkembang di Jepang mengenai siapa yang akan menjadi pembawa obor terakhir untuk menyalakan bejana di Stadion Olimpiade baru, dalam ritual tradisional yang dimulai setiap Pertandingan.

Beberapa orang memprediksi atlet Jepang yang terkenal, seperti mantan pemain bisbol Ichiro Suzuki, akan mendapat kehormatan. Yang lain mengatakan bisa saja orang biasa, tetapi melambangkan sosok penting.

Game Pemulihan

Sosok yang terpilih untuk menyalakan api pada tahun 1964, ketika Tokyo menjadi tuan rumah Olimpiade, adalah Yoshinori Sakai, seorang atlet mahasiswa berusia 19 tahun yang lahir di Hiroshima pada 6 Agustus 1945, tepat pada hari bom atom AS dijatuhkan di kota tersebut - pilihan yang dimaksudkan untuk menyoroti rekonstruksi luar biasa Jepang pasca-perang.

Kali ini, Perdana Menteri Shinzo Abe ingin Olimpiade memamerkan pemulihan Jepang dari gempa bumi, tsunami, dan krisis nuklir Fukushima 2011, sehingga memicu spekulasi bahwa pilihan itu bisa berupa anak muda atau atlet yang baru muncul dari kawasan timur laut yang hancur.

Penyelenggara Olimpiade mengatakan mereka tidak akan mengungkapkan identitas pembawa obor akhir sampai obor tersebut tiba di stadion dengan siaran langsung televisi, ditonton oleh miliaran pemirsa.

Atelt Terkenal

Pegulat peraih medali emas tiga kali, Saori Yoshida, adalah salah satu kemungkinan yang sering disebut di media setempat. Somah terkenal di Jepang, perempuan pegulat itu memenangkan 13 gelar Kejuaraan Gulat Dunia terus-menerus, melampaui sembilan besar Rusia Aleksandr Karelin

Kandidat lain yang sering disebut adalah bintang bisbol internasional Shohei Ohtani. Pemenang penghargaan American League Rookie of the Year tahun lalu dan kadang-kadang dibandingkan dengan Babe Ruth, yang legendaris, karena ia dapat melempar dan mencapai level elit.

Memilih seorang pemain bisbol mungkin merupakan persetujuan untuk kemunculan kembali olah raga tersebut di kancah Olimpiade setelah dihapus pada tahun 2012 dan 2016.

Yuzuru Hanyu, sosok kesayangan di Jepang, yang menjadi orang pertama dalam lebih dari 50 tahun yang memenangkan medali emas untuk seluncur indah juga tokoh yang dibicarakan. Dia berasal dari Sendai, kota utara yang dilanda tsunami 2011.

Mantan juara Olimpiade lainnya yang ikut dipertimbangkan termasuk juara judo tiga kali Tadahiro Nomura dan raja gaya dada Kosuke Kitajima. Surat kabar Asahi Shimbun juga menyebut Naoko Takahashi, peraih medali emas maraton wanita, selain Yoshida, Nomura, dan Kitajima.

Keanekaragaman dan Pemuda

Dalam upaya untuk menunjukkan Jepang menjadi masyarakat yang lebih beragam, penyelenggara dapat memilih bintang tenis yang sedang naik daun Naomi Osaka, yang ayahnya adalah orang Haiti dan ibu dari Jepang.

Atau, dengan persetujuan untuk masa depan, mereka bisa memilih pegolf berusia 20 tahun Hinako Shibuno, yang memenangkan Women's British Open bulan ini dalam acara LPGA pertamanya, wanita Jepang pertama yang menjadi pemenang utama dalam 42 tahun.

"Kali ini, pastilah Shohei Ohtani atau Naomi Osaka atau Hinako Shibuno," kata Toshihiro Ishikawa yang berusia 80 tahun, yang menyaksikan upacara pembukaan di Olimpiade 1964 dari kursi di stadion nasional yang sekarang sudah tidak ada.

"Mereka memiliki masa depan yang cerah di depan mereka. Jika orang seperti itu menaiki tangga dan menyalakan kualdron, itu akan mencerahkan seluruh bangsa."

Lari beranting obor

Untuk menekankan pemulihan Jepang dari bencana 2011, setelah api Olimpiade disulut di Yunani, lalu akan diterbangkan menuju ke pangkalan udara Matsushima, kawasan yang dilanda tsunami.

Kemudian dibawa sebagai obor secara beranting selama empat bulan akan dimulai pada 26 Maret di J-Village, sebuah pusat pelatihan sepak bola di Fukushima yang berfungsi sebagai pangkalan operasi garis depan bagi pekerja yang memerangi krisis di pembangkit listrik tenaga nuklir setelah krisis di tiga reaktor.

Sekitar 10.000 orang akan berpartisipasi dalam lari beranting obor ini di seluruh Jepang menjelang 24 Juli-Agustus. 9 Olimpiade. Masing-masing diatur untuk berjalan sekitar 200 meter (220 yard).

Mereka yang ingin berpartisipasi harus mendaftar pada akhir Agustus melalui satuan tugas di masing-masing 47 prefektur Jepang atau melalui perusahaan yang mensponsori lari berantai ini.

Sumber: Reuters

Baca juga: Perenang internasional resah suhu perairan Jepang memanas

Baca juga: Solidaritas Jepang untuk peraih 6 emas renang Asian Games 2018

Baca juga: Panitia sakit kepala saat Tokyo kepanasan menjelang Olimpiade 2020


 

Penerjemah: Maria D Andriana
Editor: Chaidar Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Yogyakarta, siapkan Atlet panjat tebing menuju Olimpiade Tokyo 2020

Komentar