counter

SDM Unggul Indonesia Maju

Film bernuansa etnik Indonesia yang mencuri perhatian internasional

Oleh Maria Cicilia

Film bernuansa etnik Indonesia yang mencuri perhatian internasional

Film " Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak" (ANTARA News/HO)

Jakarta (ANTARA) - Industri perfilman Indonesia sudah tidak perlu diragukan kualitasnya karena tidak sedikit yang meraih berbagai penghargaan di festival film internasional. Namun jika dilihat lebih jauh, rata-rata peraih penghargaan tersebut membawa unsur yang "Indonesia banget" dalam filmnya, yakni menonjolkan unsur etnik.

Yayan Ruhian selaku aktor yang pernah terlibat dalam beberapa film Hollywood seperti "Star Wars: The Force Awakens", "Beyond Skyline" serta "John Wick: Chapter 3 - Parabellum", berpendapat bahwa film Indonesia yang mampu menempus pasar internasional rata-rata selalu mengandung unsur etnik.

"Film yang bisa masuk dan dapat respon baik itu adalah karya-karya yang ada unsur etnik Indonesia-nya dan beda dari film lainnya," kata Yayan saat dihubungi Antara, Jumat.

Bintang "Hit and Run" ini juga berharap Indonesia bisa seperti China yang budayanya bisa masuk dalam film-film Hollywood.

"Ya mudah-mudahan ke depannya kita bisa membawa nilai-nilai yang tidak dimiliki negara lain. Contohnya kayaknya hampir dalam sebuah film China selalu ada bentuk-bentuk pengenalan budaya mereka. Kita lihat saja di film Hollywood selalu ada keterlibatan pemain Cina dan budayanya," jelas Yayan.

Beberapa film yang sempat meraih penghargaan di ajang internasional di antaranya adalah;

1. "Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak"
 
Aktris Marsha Timothy memegang Piala Citra berbicara saat menerima penghargaan kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik pada Malam Anugerah Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2018, di Gedung Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (9/12/2018). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/)


Film yang disutradarai oleh Mouly Surya ini memenangi penghargaan NETPAC Jury Award di Five Flavours Asian Film Festival, Polandia pada 2017. Sebelumnya, "Marlina" juga meraih penghargaan sebagai skenario terbaik FIFFS, Maroko dan film terbaik dari Asian Nest Wave, The QCinema Film Festival, Filipina.

Lewat film ini, Marsha Timothy juga mengalahkan Nicole Kidman sebagai The Best Actrees dalam International Fantastic Film of Catalonia di Spanyol. Film "Marlina" sendiri mengambil kisah tentang seorang janda di wilayah NTT yang mempertahankan kehormatannya dari para perampok. Film ini juga menggunakan dialek khas masyarakat suku sana.

2. "Sekala Niskala"
 
Poster film Sekala Niskala . (Ist)


Film ini menyabet penghargaan sebagai film terbaik di Berlin Film Festival 2018, pertama kalinya bagi film Indonesia menang di ajang bergengsi tersebut.

"Sekala Niskala" juga meraih Grand Prize di Tokyo FILMeX International Film Festival 2017 dan Best Youth Feature Film di Asia Pacific Screen Awards 2017.

Film yang disutradarai oleh Kamila Andini itu sangat kental dengan budaya Bali, mulai dari latar belakang tempat hingga dialog berbahasa Bali, bahkan "Sekala Niskala" juga diperankan oleh para seniman asal Pulau Dewata itu.

3. "Turah"
 
Film Turah menggambarkan problema sosial masyarakat di Kampung Tirang di pesisir utara, dekat dengan Pelabuhan Tegalsari, Kota Tegal Jawa Tengah. (qubicle.id)


Film karya sutradara Wicaksono Wisnu Legowo ini menggunakan bahasa Jawa dialek Tegal. Cerita yang diangkat pun tentang konflik sosial di Kampung Tirang, Tegalsari, Tegal.

"Turah" pun meraih banyak penghargaan di luar negeri seperti Singapore International Film Festival 2016, Bengaluru International Film Festival 2017, Asean International Film Festival and Award 2017, Seoul INternational Agape Film Festival 2017, dan Cinemalaya Independent Film Festival 2017.

4. "Humba Dreams"

Film yang disutradarai oleh Riri Riza ini meraih penghargaan di ajang Asian Project Market dan masuk dalam Festival Film Internasional Busan 2017.

"Humba Dreams" mengisahkan perjalanan seorang pelajar film muda di Jakarta yang diminta pulang ke desanya di Pulau Humba (nama lain Sumba).

5. "The Raid"
 
Aktor dan atlet pencak silat Yayan Ruhiyan memperlihatkan salah satu jurus ketika jumpa pers mengenai keikutsertaan film The Raid 2 Berandal dalam Festival Film Sundance di Jakarta, Kamis (12/12). (FOTO ANTARA)


Film aksi yang menampilkan seni bela diri Silat ini mendapat banyak penghargaan di luar negeri seperti The Cadillac People's Choice Midnight Madness Award tahun 2011, Audience Award dan Dublin Film Critics Circle Best Film dalam Festival Film Internasional Dublin Jameson tahun 2012, Prix du Public dalam 6ème Festival Mauvais Genre di Tours Prancis, dan Sp!ts Silver Scream Award pada Festival Film Imagine ke-28 di Amsterdam, Belanda.

Film karya dari Gareth Evans ini menampilkan Iko Uwais, Joe Taslim dan Yayan Ruhian dengan pertempuran sengit yang paling diingat yakni Sersan Jaka dan Mad Dog.

Baca juga: Film "Alkisah si Hiruk Pikuk" nominasi di Festival film di Locarno

Baca juga: Ayu Laksmi: Generasi muda perlu ditularkan sejarah


Lima film di atas hanyalah beberapa karya anak bangsa yang mampu menyabet penghargaan di festival film dunia. Yang terbaru, "Gundala" juga akan hadir di Toronto Film Festival.

Menurut Yayan, kehadiran "Gundala" juga bisa menjadi sebuah budaya baru yang dapat diterima oleh masyarakat dunia khususnya Hollywood.

"Makanya saya senang dengan munculnya "Gundala", "Gatot Kaca", mudah-mudahan itu jadi universe baru yang diterima di industri film dunia," kata pemain "Wiro Sableng 212" itu.

Baca juga: "Hit and Run" raih penghargaan film laga di China

Baca juga: Bekraf sebut syarat film Indonesia agar dilirik investor

Oleh Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar