counter

Gita Gutawa bicara pembangunan manusia Indonesia

Gita Gutawa bicara pembangunan manusia Indonesia

Gita Gutawa. ANTARA/Yogi Rachman

... yang lebih penting dari sekadar akademik, yakni keahlian. Misalnya kita perlu mengasah keterampilan, kreativitas, negosiasi, multi tasking, kecerdasan emosi, dan sebagainya...
Jakarta (ANTARA) - Penyanyi Aluna Sagita Gutawa atau yang akrab dipanggil Gita Gutawa menyampaikan pandangannya soal revolusi industri 4.0 kaitannya dengan pembangunan manusia Indonesia.

"Revolusi Industri 4.0 tidak hanya sebatas mengadopsi teknologi untuk penyelenggaraan pendidikan," kata Gita dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat.

Gita yang menghabiskan masa kuliahnya di Inggris itu mengatakan bahwa sistem pendidikan secara utuh harus ikut beradaptasi dengan perkembangan teknologi, mulai dari kurikulum, cara mengajar, sistem pengajaran, dan sebagainya.

"Intinya, bagaimana sekolah itu tersistem secara baik," ujar lulusan S2 London School of Economics and Political Science LSE itu.

Menurut pelantun lagu Harmoni Cinta itu, di era digital ini banyak pekerjaan yang akan tergeser diganti dengan robot. "Mari kita belajar sebanyak-banyaknya," katanya.

Juga baca: Belajar ala Gita Gutawa, sendirian atau berkelompok?

Juga baca: Gita Gutawa rajin buka KBBI dalami bahasa Indonesia

Juga baca: Gita Gutawa menikmati peran di belakang layar

Ia menilai pada 2020 banyak bermunculan profesi yang tak terduga, misalnya analis data dan ilmuwant, spesialis kecerdasan buatan dan mesin pembelajaran, spesialis perangkat lunak dan pengembang aplikasi dan analis, spesialis big data, spesialis informasi digital, dan sebagainya.

Untuk itu, ia mengajak para hadirin untuk berinvestasi pada skil demi menyongsong masa depan.

"Ada yang lebih penting dari sekadar akademik, yakni keahlian. Misalnya kita perlu mengasah keterampilan, kreativitas, negosiasi, multi tasking, kecerdasan emosi, dan sebagainya," ungkapnya.

Ia mencontohkan pengalaman hidupnya. Menurut dara kelahiran Jakarta 11 Agustus 1993 ini bakat dan kemampuan bermusiknya diasah melalui kebiasaan latihan dan lingkungan yang mendukung.

“Sejak kecil diajak papah ke tempat-tempat kreatif, dan akhirnya tertarik. Kreativitas itu bisa dilatih, bukan karena papahku musisi lalu aku musisi. Semua berawal dari kebiasaan dan latihan. Situasi sekitar juga sangat membantu. Sekolah-sekolah juga mengubah caraku berpikir, berdialog, dan sebagainya," katanya dalam Seminar Pra-Munas KAGAMA XIII bertajuk Pendidikan Bangsa dalam Menyiapkan SDM Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0.

Seminar ini merupakan rangkaian kegiatan Pra-MUNAS KAGAMA XIII di Bali pada 15-17 November 2019. Rangkaian seminar ini berlangsung di lima kota dan lima pulau (Semarang, Balikpapan, Medan, Manado, dan Bali) selama Agustus-November, yang diakhiri dengan FGD di Yogyakarta untuk merumuskan rekomendasi hasil seminar.


 

Pewarta: Tasrief Tarmizi
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar