counter

ThorCon kembangkan pembangkit thorium pertama di Indonesia

ThorCon kembangkan pembangkit thorium pertama di Indonesia

Kepala Perwakilan ThorCon International Pte Ltd Bob Sulaeman Effendi menjelaskan tentang rencana perusahaan perancang reaktor tersebut membangun pembangkit listrik berbahan bakar thorium di Jakarta, Jumat (23/8/2019). (ANTARA/Faisal Yunianto).

Thorium merupakan energi baru terbarukan, yang termasuk bahan bakar nuklir alternatif selain uranium.
Jakarta (ANTARA) - ThorCon International Pte Ltd berencana mengembangkan pembangkit listrik berbahan bakar thorium (PLTT) pertama di Indonesia dengan tiga daerah menjadi opsi lokasinya yaitu Kalimantan Barat, Riau, dan Bangka Belitung.

Perusahaan perancang reaktor yang berkantor pusat di Florida, Amerika Serikat, (AS) itu menggandeng PT PAL Indonesia untuk membangun reaktor thorium dari pembangkit listrik berkapasitas 500 megawatt (MW) bernama Thorium Molten Salt Reactor (TMSR) 500.

"Desain PLTT ThorCon dinilai layak oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) karena sesuai dengan spesifikasi yaitu aman, murah serta mudah dalam pengoperasian maupun pemeliharaannya," kata Kepala Perwakilan ThorCon International di Indonesia, Bob Sulaeman Effendi dalam diskusi dengan wartawan di Jakarta, Jumat.

Thorium merupakan energi baru terbarukan, yang termasuk bahan bakar nuklir alternatif selain uranium.

Bob mengatakan apabila semuanya berjalan lancar, pembangkit thorium yang menelan investasi Rp17 triliun ini bisa mulai dibangun tahun 2023 dan beroperasi pada 2026 atau 2027. "Konstruksi unit pembangkit pertama bisa memakan waktu tiga tahun, tetapi untuk unit selanjutnya satu tahun," katanya.

Untuk pengembangan tahap pertama, lanjut Bob, kemungkinan thoriumnya harus diimpor. "Namun pada tahap 2 rencananya akan dibangun reaktor pembiak dan pada tahap 3 bisa menggunakan thorium hasil pembiakan tersebut sehingga tidak perlu impor lagi," katanya.

Menurut Bob Effendi, pembangkit ThorCon jauh lebih murah dibandingkan PLTU batubara yang banyak tersebar di Indonesia. Produksi listriknya hanya 3 sen dolar AS per kWh, sedangkan pembangkit batubara 5 sen dolar per kWh.

Dengan begitu harga jualnya juga rendah yaitu 0,069 dolar AS/kWh atau di bawah rata-rata BPP nasional sebesar 0,077 dolar AS/kWh. BPP ini merupakan acuan untuk penentuan harga jual listrik dari produsen listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) ke Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Bob memberikan sejumlah alasan pembangkit ThorCon bisa murah. Antara lain karena reaktornya bertekanan rendah atau sama dengan tekanan pipa air di rumah tangga. Kemudian tidak memakai komponen khusus nuklir, pembuatan bahan bakarnya mudah dan murah serta dibangun di galangan kapal dengan efisiensi tinggi sehingga cuma butuh waktu 10 bulan.

PLTT ini akan dibangun dengan menggunakan model desain struktur kapal yang dibangun oleh Daewoo Shipyard & Marine Engineering (DSME) di Korea Selatan.

Bob mengatakan dari opsi tiga provinsi, saat ini masih dikaji daerah mana yang paling tepat sebagai lokasi PLTT pertama di Indonesia. Tiga daerah tersebut, menurut Bob, punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. "Bisa juga proses pemilihan daerahnya dikaitkan dengan rencana pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan," ujarnya.

Bob menjamin reaktor TSMR500 yang dikembangkannya memiliki sistem keselamatan tinggi dan menjadi bagian terpadu dari desain. "Karena itu kejadian seperti Fukushima dan Chernobyl dijamin tidak akan terjadi," katanya.
Baca juga: Deputi BUMN ingatkan PLN tinggalkan energi fosil, maksimalkan EBT
 

Pewarta: Faisal Yunianto
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar