counter

Menkeu: kinerja defisit anggaran terpengaruh lemahnya penerimaan

Menkeu: kinerja defisit anggaran terpengaruh lemahnya penerimaan

Dokumentasi foto - Menteri Keuangan Sri Mulyani memberi penjelasan usai menghadiri Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Rabu (3/7/2019). (Antara/Katriana)

Realisasi defisit anggaran ini juga lebih tinggi dari periode yang sama 2018 sebesar Rp151, triliun atau 1,02 persen terhadap PDB.
Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa  kinerja defisit anggaran hingga 31 Juli 2019 sebesar Rp183,7 triliun atau 1,14 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) masih terpengaruh oleh lemahnya penerimaan negara.

"Realisasi defisit tidak serendah yang kita rencanakan karena penerimaan negara lebih lemah dan belanja negara yang sangat kuat," kata Sri Mulyani dalam jumpa pers perkembangan APBN KITA di Jakarta, Senin.

Sri Mulyani menjelaskan realisasi defisit anggaran ini juga lebih tinggi dari periode yang sama 2018 sebesar Rp151, triliun atau 1,02 persen terhadap PDB.

"Meski realisasi lebih tinggi dari 2018, namun masih lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata tiga tahun terakhir," ujarnya.

Ia menambahkan penerimaan negara terutama pendapatan sektor perpajakan yang hanya tumbuh 3,9 persen, dibandingkan tahun lalu tumbuh 14,6 persen, telah memberikan dampak kepada defisit anggaran.

Baca juga: Menkeu: Banyak badan usaha curang laporkan data ke BPJS Kesehatan

Realisasi penerimaan perpajakan hingga akhir Juli 2019 tercatat baru mencapai Rp810,7 triliun atau 45,4 persen dari target Rp1.786,4 triliun.

Di sisi lain, tambah Sri Mulyani, realisasi belanja Kementerian Lembaga telah tumbuh positif hingga 11,7 persen diikuti transfer ke daerah yang juga tumbuh 4,9 persen.

Realisasi belanja Kementerian Lembaga telah tercatat mencapai Rp419,9 triliun atau 49,1 persen dari pagu Rp855,4 triliun dan transfer ke daerah Rp433,2 triliun atau 57,2 persen dari pagu Rp756,8 triliun.

Untuk mengatasi lesunya penerimaan dan menekan tingginya defisit anggaran, pemerintah telah menerbitkan pembiayaan utang Rp234,1 triliun atau 77,6 persen dari target Rp359,3 triliun.

"Sebagai antisipasi risiko global, pemerintah telah menerapkan strategi front loading, sehingga pembiayaan utang tumbuh 10,5 persen," kata Sri Mulyani.

Ia mengatakan pemerintah terus menjaga dinamika ekonomi agar komponen APBN tetap tumbuh positif dan defisit anggaran terjaga pada kisaran Rp296 triliun atau 1,84 persen dari PDB sesuai target.
Baca juga: Defisit APBN 2020 ditargetkan Rp307,2 triliun

Pewarta: Satyagraha
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

PKL kota Bandung akan dikenakan pajak

Komentar