Bayu Krisnamurthi usung "smart" swasembada pangan, ini penjelasannya

Bayu Krisnamurthi usung "smart" swasembada pangan, ini penjelasannya

Dosen Fakultas Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) Bayu Krisnamurthi. (ANTARA/Ade Irma Junida)

Kita punya kesulitan produksi kedelai, kenapa tidak kita punya saham di perusahaan pertanian AS...
Jakarta (ANTARA) - Dosen Fakultas Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) Bayu Krisnamurthi mengusulkan konsep smart swasembada pangan dengan mendorong pengusaha membuka lahan pertanian di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Bayu dalam diskusi Food Security Forum bertajuk “Mengidentifikasi Perubahan yang diperlukan dalam Rantai Distribusi Beras Indonesia” di Jakarta, Rabu, mengatakan konsep swasembada pangan tidak bisa ditinggalkan, namun diperlukan pendekatan baru dalam konsep tersebut.

“Saya pribadi ingin menawarkan new swasembada atau smart swasembada. Bagaimana kalau kita impor dari 100 ribu hektare tanaman padi di Burma, tapi itu punya kita. Kenapa tidak kita akuisisi perusahaan di Vietnam, sehingga kita jadi pemain terbesar, kita atur perdagangannya,” kata Bayu Krisnamurthi.

Menurut Bayu, hal itu perlu dilakukan karena sebagai negara tropis, Indonesia sangat berisiko menghadapi masalah pertanian seperti hama dan penyakit sehingga perlu memiliki cadangan pasokan.

Konsep tersebut, lanjut dia, juga perlu dilakukan karena daya dukung Pulau Jawa sebagai lumbung beras nasional yang terus menurun. Dari sisi biaya, upaya untuk melakukan intensifikasi lahan juga dinilai akan sangat memberatkan. Dengan demikian, konsep smart swasembada pangan yang diusungnya akan memberikan dampak efisiensi biaya.

“Kita harus dorong entrepreneur muda, juga pengusaha nasional yang sudah mapan, agar melihat peluang-peluang ini. Kalau tidak bisa mulai bertanam, mungkin jadi trader, jual beli internasional dulu,” katanya.

Menurut Bayu, konsep tersebut pun akan dapat diterapkan untuk swasembada daging sapi yakni dengan memiliki peternakan di Australia. Hal serupa juga bisa dilakukan dengan membeli saham perusahaan pertanian yang memproduksi kedelai.

“Kita punya kesulitan produksi kedelai, kenapa tidak kita punya saham di perusahaan pertanian AS, orang mereka bentuknya PT, kita beli saja sahamnya, dan kita impor kedelai milik kita sendiri,” katanya.

Baca juga: Bayu Krisnamurthi: Masyarakat kian sejahtera, permintaan beras berubah

 

Pewarta: Ade irma Junida
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Percepatan tanam padi di lahan gambut

Komentar