counter

Tari Piring dan Poco-Poco pikat masyarakat ASEAN di Pyongyang

Tari Piring dan Poco-Poco pikat masyarakat ASEAN di Pyongyang

Warga Indonesia dan komunitas ASEAN di Korea Utara menari Poco-Poco pada acara "ASEAN Night Gathering" di Restoran Ryugyonggwan di Pyongyang, Korea Utara pada 24 Agustus 2019. (KBRI Pyongyang)

Jakarta (ANTARA) - Tari Piring dan Poco Poco yang dibawakan warga Indonesia di Korea Utara pada ASEAN jamuan makan malam di Restoran Ryugyonggwan berhasil memikat masyarakat ASEAN di Pyongyang.

Jamuan makan malam ASEAN atau "ASEAN Night Gathering" itu merupakan puncak perayaan Hari Ulang Tahun ke-52 ASEAN yang diadakan oleh Komite ASEAN di Pyongyang, menurut keterangan tertulis dari KBRI Pyongyang yang diterima di Jakarta, Rabu.

"Inti dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan solidaritas dan nilai-nilai ASEAN sebagai suatu keluarga, yaitu bagaimana kita masyarakat anggota ASEAN saling mengenal, saling memahami dan bekerja sama untuk ikut memajukan kerja sama ASEAN di Korea Utara," kata Duta Besar RI untuk Korea Utara Berlian Napitupulu.

Baca juga: KBRI Pyongyang bantu koperasi petani di Korea Utara

Anggota Komunitas ASEAN di Pyongyang adalah para perwakilan dari Kedutaan Besar Indonesia, Kedutaan Besar Kamboja, Kedutaan Besar Laos, dan Kedutaan Besar Vietnam.

ASEAN Night Gathering merupakan inisiatif Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Ketua ASEAN Committee in Pyongyang (ACP). Malam ASEAN itu dimaksudkan untuk meningkatkan solidaritas dan kekompakan antarstaf kedutaan dan masyarakat negara-negara anggota ASEAN yang ada di Pyongyang, Korea Utara.

ASEAN Night Gathering merupakan acara puncak dari rangkaian peringatan HUT ke-52 ASEAN di Korea Utara setelah sebelumnya diselenggarakan "ASEAN Friendly Games" di KBRI Pyongyang pada 8 Agustus 2019.

Baca juga: Pengunjung Pyongyang International Trade Fair gemari produk Indonesia

Menurut Dubes Berlian, ASEAN dengan 640 juta sumber daya manusia telah menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia dan blok ekonomi terbesar keempat di dunia. Namun, ASEAN tidak boleh mudah berpuas diri, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi dunia yang cukup berat saat ini.

"Potensi sosial ekonomi ASEAN tersebut tidak dapat dikembangkan secara maksimal jika tidak ada kesatuan dan we-feeling di antara masyarakat ASEAN. Untuk itu, sekali lagi saya tekankan agar dalam acara ini kita semua harus berbaur menyatu dan mengenal satu sama lain dengan lebih dekat. Setiap meja harus diisi oleh masyarakat dari empat negara ASEAN. Perbedaan bahasa jangan jadi hambatan, tapi bisa diatasi kalau ada kemauan dan kebersamaan," ujar dia.

Tari Poco-Poco yang dibawakan warga Indonesia menjadi pamungkas setelah penampilan dari perwakilan kedutaan besar negara ASEAN lainnya, yakni tarian selamat datang Robam Choun Por (Blessing Dance) dari Kamboja, tari Basalad Liladlila yang menceritakan kisah kasih di antar manusia dari Laos, dan dua tarian dari Vietnam Mot Thoang Que Huong (A Glimpse of Motherland) dan Mua Meo yang merupakan tarian khas dari etnis Meo.

Acara menjadi makin meriah saat warga negara Indonesia mengajak para hadirin untuk menari Poco-Poco bersama.

Baca juga: Indonesia dukung stabilitas-perdamaian di Semenanjung Korea

Baca juga: Peran Indonesia dalam perdamaian Semenanjung Korea diapresiasi

Pewarta: Yuni Arisandy Sinaga
Editor: Azizah Fitriyanti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jokowi terima penghargaan tertinggi AFEO

Komentar