counter

Menumbuhkan perbankan syariah melalui industri wisata halal

Oleh Juwita Trisna Rahayu

Menumbuhkan perbankan syariah melalui industri wisata halal

Sekretaris Perusahaan BNI Syariah Rima Dwi Permatasari (dua dari kiri), bersama Pemimpin Divisi Dana Ritel BNI Syariah, Bambang Sutrisno (dua dari kanan); Direktur PT Arrayyan Multi Kreasi, Bambang Hamid Sujatmoko (paling kiri); dan Pgs. Pemimpin Divisi Haji dan Umroh BNI Syariah, Nanang Wahyudi (paling kanan) dalam konferensi pers Islamic Tourism Expo 2019. (ANTARA/ Juwita Trisna Rahayu)

Dari sisi pangsa pasar perbankan syariah di negeri dengan penduduk Muslim terbesar dunia ini masih di angka 5,7 persen atau jauh dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia, yakni di atas 21 persen.
Jakarta (ANTARA) - Perbankan syariah mulai berkembang di Indonesia, terutama sejak terbit Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah sebagai landasan hukum sekaligus upaya untuk mendorong pertumbuhan yang lebih cepat.

Otoritas Jasa Keuangan mencatat pertumbuhan aset perbankan syariah per Juni 2019 mencapai Rp486,8 triliun,  naik 11,02 persen year on year dari Juni 2018 yakni Rp433,2 triliun.

Total pembiayaan perbankan syariah pada Juni 2019 mencapai Rp121,3 triliun (60,12 persen), naik 12,4 persen dari Juni 2018 yang Rp106 triliun (56,59 persen).

Namun, dari sisi pangsa pasar perbankan syariah di negeri dengan penduduk Muslim terbesar dunia ini masih di angka 5,7 persen atau jauh dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia, yakni di atas 21 persen.

Tentunya, untuk lebih memperluas pangsa pasar syariah diperlukan upaya serius dari berbagai pemangku kepentingan, baik dari pemerintah, perbankan serta pelaku usaha.

Salah satu pendekatan yang lumrah dalam memasarkan perbankan syariah, yakni melalui pendekatan produk yang dikemas dengan paket yang terbilang selalu laris, yakni haji dan umrah.

Salah satu bank syariah dengan pangsa pasar terbesar di Indonesia, yakni BNI Syariah menangkap peluang tersebut dengan menggelar pemeran umrah, haji, dan wisata halal terbesar bertajuk Islamic Tourism Expo 2019 pada 30 Agustus hingga 1 September 2019.

Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo mengatakan dengan ajang tersebut pihaknya bisa terus mengembangkan ekosistem halal di Indonesia.

“Melalui BNI Syariah Islamic Tourism Expo 2019, BNI Syariah tidak hanya berperan sebagai lembaga intermediasi keuangan, namun juga sebagai agregator bisnis dan kolaborator bagi segenap ‘stakeholder’,” katanya.

Baca juga: OJK dorong pertumbuhan perbankan syariah dengan gelar Expo iB Vaganza

Jumlah pengunjung BNI Syariah Islamic Tourism Expo 2019 ditargetkan 30.000 orang, meningkat 25 persen dibanding 2018.

Transaksi di ajang ini ditargetkan sebesar Rp126 miliar, meningkat 17 persen dari tahun sebelumnya.

Pada ajang yang sama di 2018 BNI Syariah berhasil mencatat total realisasi bisnis sebesar Rp108,6 miliar yang terdiri dari pembiayaan produktif sebesar Rp56,7 miliar; pembiayaan konsumtif Rp51,2 miliar, dan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp577,6 juta.

Berbalut wisata halal, ajang tersebut menggabungkan ratusan pelaku usaha terkait yang menyokong kegiatan haji dan umrah, mulai dari penyedia jasa hotel, transportasi, visa, katering dan telekomunikasi; perusahaan penyelenggara resmi perjalanan umrah dan haji khusus; serta perwakilan negara-negara sahabat dari tujuan wisata halal yang datang dari negara-negara di Timur Tengah, Central Asia, Eropa dan Asia.

Industri halal termasuk wisata halal memiliki potensi yang besar menurut riset Global Islamic Finance Report 2017, yaitu sebesar 10 miliar dolar AS.

"Kami berharap dapat mempertemukan para pemangku kepentingan dari negara-negara tujuan wisata halal di dalam satu kegiatan pameran bertaraf internasional serta mengedukasi masyarakat mengenal perjalanan haji dan umrah," kata Sekretaris Perusahaan BNI Syariah Rima Dwi Permatasari.

Direktur Utama Arrayan Multi Kreasi, selaku mitra agen perjalanan haji dan umroh, Bambang Hamid Sujatmoko mengatakan pihaknya sudah lama bermitra dengan BNI Syariah dalam transaksi paket haji dan umroh.

Dengan mengikuti ajang tersebut, pihaknya ingin mempermudah masyarakat untuk menjalankan ibadah haji dan umroh, terutama dari sisi pembayarannya.

“Kami ingin mempermudah masyarakat dalam menjalankan ibadah, datangilah travel umroh yang terpercaya dan memiliki izin,” katanya.

Baca juga: Pangsa pasar kecil, BI serukan perluas jangkauan perbankan syariah

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengirim jamaah umrah terbesar di dunia, yakni sekitar satu juta orang setiap tahun.

Selain itu, kuota haji Indonesia saat ini terbesar di dunia dengan 231.000 orang per tahun.

“Penyumbang jamaah umrah terbesar kedua setelah Pakistan, yang lebih murah karena jaraknya yang dekat dan menawarkan paket yang murah,” katanya.

Ia menyebutkan Pakistan masih unggul dalam jumlah jamaah umrah dan haji karena menawarkan paket yang lebih terjangkau, yakni untuk sewa tempat tinggal kisaran 30 real, sementara orang Indonesia dengan sewa hotel 180 real.

Untuk itu, Bambang berharap Indonesia bisa lebih bersaing dengan negara-negara dengan penduduk Muslim terbesar lain dalam penyelenggaraan haji dan umrah, terutama lewat kemudahan pembayaran dengan bank syariah.

Agar Berkelanjutan

Menurut Pakar Perbankan Syariah Institut Pertanian Bogor Irfan Syauqi Beik, menggelar pameran atau expo untuk menggerakkan wisata halal adalah salah satu metode yang bisa menggerakan ekonomi syariah.

“Yang menjadi PR kita adalah bagaimana membuat interkoneksi pariwisata halal dengan melibatkan pemangku kepentingan dalam transaksi keuangannya menggunakan perbankan syariah,” ujarnya.

Jadi, dengan adanya interkoneksi antarbisnis, seperti perhotelan, agen perjalanan, katering dan sebagainya yang didorong dalam bertransaksi lewat bank syariah, maka akan memperluas pangsa pasar perbankan syariah itu sendiri.

Namun, Irfan mengimbau pendekatan produk ini dibarengi dengan peningkatan layanan serta inovasi teknologi yang tidak kalah dengan bank konvensional.

Apabila tidak, masyarakat akan dengan mudah beralih ke produk bank konvensional yang juga dengan cepat mengembangkan produk serta layanannya.

“Tipikal masyarakat Indonesia ini ada yang konvensional loyalis, syariah loyalis dan ‘floating mass’ di tengah-tengah atau masa rasionalis yang dominan sehingga kalau pendekatannya produk  kita akan bisa mempertahankan masyarakat rasional itu ketika kita bisa menawarkan layanan yang lebih baik. Kalau enggak, mereka beralih ke konvensional,” katanya.

Untuk itu, dia menyarankan perbankan melakukan pendekatan pemahaman karena dinilai lebih efektif dan berkelanjutan sehingga masyarakat akan lebih loyal dalam memilih produk-produk perbankan syariah.

Berdasarkan survei OJK terkait literasi masyarakat terhadap perbankan syariah yakni masih rendah sekitar delapan persen.

“Karena itu pendekatan pemahaman ini menjadi penting karena orang akan berbuat sesuai dengan yang dipahaminya. Juga akan mempengaruhi persepsi masyarakat sekaligus ‘willingness to participate’ (kesediaan untuk berpartisipasi) masyarakat di dalam pengembangan syariah,” katanya.

Selain juga harus didukung dengan regulasi yang lebih membuka ruang bagi bank-bank syariah untuk berkembang pesat serta sumber daya manusia (SDM) yang memiliki pemahaman yang utuh terhadap peluang serta pengembangan inovasi perbankan syariah, terutama di sektor riil.
Baca juga: Transaksi Festival Ekonomi Syariah Sumatera 2019 tembus Rp2,1 triliun

Oleh Juwita Trisna Rahayu
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tak ada SARA dalam konsep wisata halal Danau Toba

Komentar