Penggunaan "tumbler" tekan sampah plastik dideklarasikan Muaragembong

Penggunaan "tumbler" tekan sampah plastik dideklarasikan Muaragembong

Camat Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat Junaefi (belakang-tengah) bersama siswa perwakilan sekolah dasar (SD) saat mendeklarasikan penggunaan "tumbler" guna menekan volume sampah di wilayah pesisir itu. (FOTO ANTARA/Pradita Kurniawan Syah).

Deklarasi penggunaan "tumbler" dan wadah makan ini dilakukan untuk menekan volume sampah plastik di daerah pesisir
Cikarang, Bekasi (ANTARA) - Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat mendeklarasikan penggunaan tumbler atau botol minum dan wadah makan di seluruh sekolah daerah itu guna menekan sampah plastik.

"Deklarasi penggunaan tumbler dan wadah makan ini dilakukan untuk menekan volume sampah plastik di daerah pesisir," kata Camat Muara Gembong, Junaefi di Cikarang, Sabtu.

"Muara Gembong ini kan wilayah pesisir dan paling ujung Kabupaten Bekasi. Jangan sampah plastik ini hanyut di laut," tambahnya.

Selain didukung Pemerintah Kabupaten Bekasi, Kecamatan Muara Gembong juga dibantu oleh pihak swasta berupa pemberian bantuan tumbler dan wadah makan tersebut.

"Total 50 persen sekolah sudah dibagikan tumbler dan wadah makan muridnya. Kemarin SDN 02 Pantai Mekar dapat 150," katanya.

Gerakan itu diyakini Junaefi mampu menekan volume sampah plastik di wilayah Muara Gembong.

Ia memberi contoh satu siswa menghasilkan lima sampah plastik dalam sehari mereka jajan. Jika dikalikan jumlah siswa di satu sekolah yakni 150 siswa maka jumlah sampah plastik dalam sehari di satu sekolah saja mencapai 750 sampah plastik.

"Kemudian dikalikan 30 hari total 22.500 sampah plastik dalam satu bulan, itu hanya satu sekolah," katanya.

Selain upaya tersebut, warga kecamatan setempat juga akan diberikan pembinaan terkait kebersihan lingkungan dan pengurangan sampah plastik.

"Warga kita memang masih minim kesadaran. Maka kita terus beri pelatihan-pelatihan cara mengelola sampah di lingkungannya, baik sampah rumah tangga khususnya sampah plastik," katanya.

Kecamatan Muara Gembong juga berencana membangun bank sampah agar sampah yang bernilai ekonomis bisa dijual ke bank sampah.

"Jujur sampah warga kami itu tidak diangkut truk sampah, kalaupun ada hanya beberapa bulan sekali saja karena kan lokasinya jauh sekali," katanya.

"Jadi sampah diolah secara tradisional, mulai dimusnahkan dibakar, ditimbun, dan dijadikan pupuk kompos," demikian Junaefi.

Baca juga: Bekasi jadi lokasi penerapan aspal plastik, ditinjau Menteri Luhut dan Basuki

Baca juga: "Coastal clean up" ekowisata mangrove Muaragembong Bekasi

Baca juga: Pemkot Bekasi dorong pengolahan sampah menjadi aspal plastik


Pewarta: Pradita Kurniawan Syah
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Styrofoam dominasi 0,59 juta ton sampah masuk laut Indonesia

Komentar