Laporan dari Tanah Suci

Pencarian Tapsirin terus dilakukan di Tanah Suci tanpa batas waktu

Pencarian Tapsirin terus dilakukan di Tanah Suci tanpa batas waktu

Kabid Linjam PPIH 2019 Jaetul Muchlis memastikan pencarian Tapsirin terus dilakukan di Tanah Suci tanpa batas waktu (Hanni Sofia)

Mekkah (ANTARA) - Pencarian terhadap Tapsirin, anggota jamaah dari Kloter PLM 11 dari Embarkasi Palembang dijanjikan untuk terus dilakukan di Tanah Suci tanpa ada batas waktu.

“Pencarian akan terus dilakukan. Segala potensi yang ada. Koordinasi dan komunikasi sampai masa operasional PPIH. Nanti estafet ke perwakilan Indonesia di Arab Saudi. Ini sudah protap( prosedur tetap). Pencarian tanpa batas waktu dan tanpa akhir. Dengan perwakilan yang di Arab Saudi (akan meneruskan),” kata Kepala Bidang Perlindungan Jamaah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2019, Jaetul Muchlis, di Muzdalifah, Mekkah, Sabtu.

Pihaknya menyatakan tidak pernah mengistilahkan Tapsirin hilang hanya belum diketahui keberadaannya karena terpisah dari rombongan.

Tapsirin terpisah rombongan saat mabit (bermalam) di Muzdalifah pada 9 Zulhijah pukul 23.00 waktu setempat saat rombongannya akan berangkat dari Muzdalifah ke Mina.

Pria berusia 82 tahun itu memohon izin ke toilet dan pamit termasuk kepada istrinya namun setelah ditunggu beberapa waktu tidak kembali.

Rombongannya kemudian tetap berangkat tanpa Tapsirin dan memprediksi pria itu ikut rombongan lainnya berangkat ke Mina.

Baca juga: Agar tak tersesat di Masjidil Haram

“Dan bisa kita pastikan, saya terakhir keluar Muzdalifah jam 8.30 pagi, kami sudah sweeping tidak ada jamaah yang tertinggal. Muzdalifah clear,” katanya.

Saat mendapati ada anggota jamaah yang terpisah rombongan, Jaetul kemudian menyisir dan mencari secara bertahap.

“Dari petugas kloter, rombongan itu sendiri, mencari di maktab-maktab di Mina. Mereka menyisir dari maktab 50 sampai 60. Belum diketahui keberadaannya. Maka melapor ke satuan tugas Mina. Saya informasikan ke seluruh satuan Armuzna. Mulai dari Mina, pos stationer 11 titik di Mina, kemudian diinformasikan ke tim haramain,” katanya.

Sementara menurut istri Tapsirin yang telah mendarat di Tanah Air pada 27 Agustus 2019, sang suami dalam kondisi fisik yang sehat dan tak ada rekam medis terdata di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) terkait dirinya, artinya Tapsirin belum pernah menggunakan fasilitas kesehatan di KKHI.

“Cuma dengan usia 82 tahun, kondisi Muzdalifah banyak orang, bisa disorientasi. Dari informasi anaknya memang beliau ada sedikit riwayat demensia atau disorientasi,” katanya.

Jaetul mengaku telah melakukan berbagai cara namun ia tetap berharap Tapsirin ditemukan dalam keadaan selamat.

“Setelah jamaah haji clear pada 6 September nanti, kita sweeping lagi. Bisa jadi beliau ada di Haram dengan pakaian ihram. Kami masih berharap. Kita berharap dan mohon doa semua pihak. Semoga ada titik terang,” katanya.

Secara khusus, Jaetul menyampaikan kepada keluarga Tapsirin bahwa PPIH telah mengerahkan segala potensi dan berusaha keras menemukan Tapsirin.

Ia menegaskan, pencarian akan diperluas dan berulang karena boleh jadi komposisi jamaah di RS atau imigrasi setiap saat bisa berubah.

“Maka saya berharap keluarga tetap berdoa supaya diberikan yang terbaik dan petugas diberikan kekuatan. Mudah-mudahan ada hikmah luar biasa. Sehingga PPIH sampai akhir penugasan dan tetap memiliki tanggung jawab moral penuh untuk mencari anggota jamaah pisah rombongan,” katanya.

Baca juga: Laporan dari Mekkah - Jamaah tersesat di Mina

Baca juga: Laporan dari Mekkah - Ketika jamaah haji tersesat

Pewarta: Hanni Sofia
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Akhir 2019, akumulasi dana haji mencapai 122 T

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar