counter

Tanaya Beatty minta Johnny Depp beramal untuk suku Indian

Tanaya Beatty minta Johnny Depp beramal untuk suku Indian

Aktris Tanaya Beatty (Instagram/@tanayabeatty)

Jakarta (ANTARA) - Lawan main Johhny Depp di iklan parfum "Sauvage" milik Dior, Tanaya Beatty, meminta sang aktor agar beramal untuk suku Indian, demikian dilansir Variety, Senin (2/9).

Dalam serangkaian unggahan di Instagram berjudul "Just Ad Indian", aktris asal Kanada yang rupanya keturunan suku Indian Da’naxda’xw itu menuliskan pengalaman pribadinya sebagai keturunan First Nations dan secara khusus terlibat di kampanye Dior yang bertemakan suku asli Amerika.

Tulisan Beatty tersebut diunggah 31 Agustus setelah iklan Dior "We are the Land" dikritik. Iklan dalam bentuk film pendek yang disutradarai Jean-Baptiste Mondino itu diunggah ke akun media sosial Dior pada 29 Agustus dan harusnya dirilis pada1 September tetapi, beberapa jam kemudian dihapus akibat kritik.

Baca juga: Dituduh perampasan kebudayaan, Dior tarik iklan parfum Johnny Depp

Dalam "We are the Land" itu Beatty memerankan "sang gadis" yang digambarkan dalam bahasa pemasaran (marketing) sebagai "kehadiran sosok feminin yang seksi dan sensual," membangkitkan stereotip negatif tentang wanita suku asli Amerika.

Aktris film "Yellowstone" itu menulis bahwa sebetulnya dia ragu-ragu untuk mengambil peran itu dan merasa ada konflik batin selama pembuatan film. Menurut dia, perusahaan itu terang-terangan tidak menghormati budaya asli.

"Niatku bukan untuk mempermalukan Dior atau menghina Johnny Depp. Masalahnya jauh lebih besar dari iklan mana pun," tulis Beatty dan menambahkan ia percaya Dio, walau salah arah, punya niat menunjukkan budaya asli Indian.

"Dan ... mungkin aku bahkan mendorong perusahaan parfum tertentu dan si bajak laut kesayangan untuk memberikan sumbangan juga..."

Beatty juga melanjutkan dengan merinci beberapa penghinaan yang diterimanya sebagai aktor keturunan Indian

"Sepanjang sejarah suku Indian dalam film, kami telah menjadi tontonan. Terpinggirkan, dijadikan fetish, digunakan sebagai latar belakang," tambahnya.

Baca juga: Johnny Depp klaim pernah disundut rokok oleh Amber Heard

Selain tuduhan perampasan budaya, kritik terhadap kampanye Dior mempermasalahkan nama wewangian itu sendiri, karena "sauvage" dalam bahasa Prancis berarti "liar" dan "buas," yang menjadi cercaan rasial untuk menggambarkan penduduk asli di seluruh Sejarah Amerika Utara.

"We are the Land" memperlihatkan Depp bermain riff gitar sambil bersandar di Monumen Nasional Arches di Utah dan anggota suku Rose Sioux, Canku Thomas One Star, menampilkan tarian tradisional. Film itu dibuat dalam kemitraan dengan Americans for Indian Opportunity (AIO).

Johnny Depp mengklaim bahwa dirinya adalah keturunan suku asli Amerika di masa lalu, dan pada 2012 dia bergabung dengan keluarga presiden AIO LaDonna Harris, anggota suku Comanche yang berbasis di New Mexico.

Ketika dimintai komentar usai unggahan di media sosial, seorang perwakilan untuk Dior meneruskan siaran pers dari AIO yang menyatakan bahwa "Depp menghubungi keluarga Comanche meminta bantuan mereka untuk memastikan budaya asli digambarkan dengan tepat."

Pernyataan itu menambahkan bahwa kampanye itu merupakan bagian dari inisiatif yang lebih besar "untuk mengubah persepsi salah tentang penduduk asli Amerika, berbagi sejarah Amerika yang akurat, membangun kesadaran tentang penduduk asli Amerika sebagai masyarakat kontemporer dan mempromosikan pandangan dunia adat."

Baca juga: Johnny Depp belum pasti terlibat lagi di "Fantastic Beasts 3"

Perwakilan untuk Depp dan Mondino tidak segera menjawab permintaan komentar dari Variety.

Ini bukan pertama kalinya merek mewah milik LVMH dituduh tidak sensitif budaya. Pada 2018, Dior dituduh "whitewashing" alias memakai orang berkulit putih untuk memerankan karakter kulit berwarna dalam promosi untuk koleksi Dior Cruise 2019, yang diilhami oleh wanita berkulit coklat Meksiko bernama escaramuzas.

Kampanye itu menampilkan Jennifer Lawrence, wajah merek tersebut sejak 2012, yang bukan keturunan Meksiko.
 

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar