counter

Artikel

LGS, inovasi agar air bekas limbah tambang layak dikonsumsi

Oleh Afut Syafril Nursyirwan

LGS, inovasi agar air bekas limbah tambang layak dikonsumsi

Pekerja mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di smelter PT. Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Sabtu (30/3/2019). Produsen nikel matte itu menargetkan produksinya sebesar 75.000 ton di 2019, atau sedikit lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebesar 74.806 ton sejalan dengan selesainya perbaikan pembangkit listrik penyuplai tenaga. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/pd. (ANTARA FOTO/BASRI MARZUKI)

Air limbah tambang nikel yang sudah diolah dengan sistem LGS, dipastikan sudah aman bagi lingkungan, bahkan sudah layak konsumsi bagi manusia seperti air PDAM.
Jakarta (ANTARA) - Terbukanya lahan, tercemarnya sungai-sungai, dari bening menjadi kecoklatan atau bahkan tergenang cairan kimia, matinya ekosistem lingkungan, beberapa hal yang terbayang dari munculnya pemikiran dari pertambangan.

Eksploitasi seakan menjadi hal yang tabu di mana seharusnya tidak dilakukan, apabila dampaknya hanya memberi keburukan bagi lingkungan dan masyarakat. Namun, cerita berbeda muncul dari kegiatan pertambangan.

Ada yang berbeda dari kegiatan pertambangan yang dilakukan salah satu perusahaan internasional yang melakukan kegiatan eksploitasi di Indonesia, khususnya eksploitasi mineral dengan jenis nikel.

PT Vale Indonesia, memberikan skenario yang berbeda dari dampak pertambangan yang ada di pulau yang juga memiliki nama lain Celebes itu. Masih mengenai nikel, nampaknya Sulawesi menjadi salah satu bumi yang memiliki kekayaan alam bahan dasar pembuatan baterai tersebut.

Tambang nikel langsung bersentuhan dengan perut bumi, menggunakan peralatan berat dalam membedah bumi serta mengeruk apa yang terkandung di dalamnya, bahkan menggunakan bantuan air bertekanan tinggi dalam proses pelembutan tanah agar mudah dalam proses eksploitasi.

Lalu apa yang berbeda dari kegiatan penambangan tersebut? Senior Manager Communication PT Vale Indonesia, Bayu Aji dengan lugas menyebutkan bahwa, sistem inovasi LGS atau Lamella Gravity Settler merupakan kegiatan pemurnian limbah air tambang nikel yang mampu menjernihkan air hingga menjadi tidak berbahaya bagi lingkungan.

“Air limbah tambang nikel yang sudah diolah dengan sistem LGS, dipastikan sudah aman bagi lingkungan, bahkan sudah layak konsumsi bagi manusia seperti air PDAM,” kata Bayu kepada ANTARA.

Lebih lanjut, Bayu menjelaskan LGS adalah membangun serta mengoperasikan kolam pengendapan dengan teknologi yang efisien dan efektif. Bayu menyebutkan PT Vale menjadi perusahaan tambang yang pertama di Indonesia yang menerapkan teknologi tersebut.

Dengan skema penyaringan air limbah bersistem LGS, tingkat kebersihannya disinyalir mampu menjadikan limbah air tambang lebih bersih hingga 10 kali lipat dibandingkan dengan pengendapan dalam kolam dengan media embung-embung seperti biasanya.

Fasilitas LGS memiliki pengendapan penyaringan hingga tiga kali lapisan, perbedaan utama adalah memiliki filter cloth dan lamela unit pada lapisan kedua untuk menyaring lagi pada endapan kedua di air yang sudah terlihat jernih sekalipun.

Nantinya pembuangan tersebut ketika sudah bersih dari limbah akan dikembalikan ke alam melalui aliran Danau Matano di Sorowako, Sulawesi Selatan. "Pada tahun 2018 tingkat TSS atau limbah yang disaring mampu terkumpul 80 ton. Padahal sebelum menggunakan LGS, pada tahun 2015 limbah TSS mencapai 1.164 ton," ujar Bayu.

LGS itu sendiri telah diterapkan sejak tahun 2016, dan sudah meningkatkan penurunan limbah hingga 15 kali lipat hingga 2019. Air buangan limbah tersebut juga kembali diteruskan pada pembangkit listrik tenaga air yang dikelola oleh PT Vale sendiri.

Baca juga: PT Vale bangun sarana baku mutu pengelolaan air

PT Vale memiliki tiga PLTA yang mampu menghasilkan 10,7 MW, di antaranya dialirkan kepada masyarakat Kabupaten Luwu Timur melalui PLN. Secara terintegrasi, LGS terhubung dengan 17 kolam pengendapan yang berasal dari aliran Pakalangkai Waste Water Threatment yang berkapasitas 16 juta meter kubik.

Pengembangan lainnya dalam efisiensi, PT Vale Indonesia juga mengembangkan inovasi teknologi berupa boiler listrik yang telah menggantikan model sebelumnya yang memakai bahan bakar HSFO (High Sulfur Fuel Oil).

"Ini inovasi terbaru yang menggantikan tenaga diesel, yang jelas boiler ini berarti lebih ramah lingkungan, karena tidak ada emisi gas buang," kata Bayu Aji.

Boiler merupakan salah satu alat krusial dalam produksi nikel PT Vale. Uap yang dihasilkan alat ini berguna untuk proses atomisasi di burner rotary dryer dan reduction kiln, memanaskan sulfur yang digunakan pada proses reduction kiln dan berfungsi untuk memanaskan pipa bahan bakar.

Selain itu, ujar dia, kinerja boiler ini juga dinilai lebih efisien dan mampu menghemat biaya operasional secara signifikan.

Boiler listrik PT Vale ini mampu memproduksi uap sebesar 11,37 ton per jam-nya, serta diproyeksi mampu beroperasi selama 8.424 jam per tahun.

Biaya produksi uap dengan boiler listrik adalah 1,63 dolar As/ton steam hour. Sedangkan biaya listriknya dari PLTA milik PT Vale Indonesia adalah 2,45 dolar AS/Mwh.
Boiler ini mampu menghemat biaya produksi uap sebesar 5.029.933 dolar AS per tahun atau setara dengan Rp70.419.060.785 per tahun.

Baca juga: Vale Indonesia kembangkan inovasi boiler listrik

Pada tingkat inovasi keberlanjutan, peningkatan produksi, perusahaan asal Brazil ini turut menggandeng Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (Tekmira) Kementerian ESDM untuk melakukan Tes Aglomerasi dalam rangka peningkatan produksi.

Proyek senilai Rp3,4 miliar tersebut akan mengerjakan tes aglomerasi pada sampel debu dan ore di perusahaan yang berlokasi di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Kepala Puslitbang Tekmira, Hermansyah menyatakan kerja sama antar kedua belah pihak bertujuan untuk mendaur ulang debu dan ore secara lebih efektif dan efisien sehingga dapat meningkatkan efektifitas daur ulang debu rotary kiln (tungku putar).

Tes aglomerasi sendiri dilakukan terhadap debu dari rotary kiln proses reduksi bijih nikel melalui peletasi, pembriketan atau ekstruksi agar dapat didaur ulang dalam rotary kiln kembali. "Tes ini mampu mengurangi jumlah debu dan meningkatkan produktivitas rotary kiln," jelas Hermansyah.

Puslitbang Tekmira akan melakukan serangkaian tes laboratorium untuk menentukan metode aglomerasi yang paling tepat dan sesuai untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses. Di samping tes, para peneliti juga akan melakukan studi, analisa kimia serta simulasi untuk mendapatkan hasil terbaik.

PT Vale Indonesia adalah perusahaan pertambangan yang mengoperasikan tambang nikel open pit dan pabrik pengolahan di Sorowako, Sulawesi Selatan. Produk yang dihasilkan berupa nikel laterit/saprolit yang diolah menjadi nikel matte. Perusahaan yang dulu dikenal sebagai PT International Nickel Indonesia Tbk. (PT Inco) ini menjadi produsen nikel terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi 75.000 metrik ton per tahun.

Hasil tambang perusahaan yang mulai beroperasi sejak tahun 1968 ini menyumbang pasokan nikel dunia sebesar 5 persen. Melalui berbagai teknologi dan tambahan investasi, PT Vale Indonesia menargetkan peningkatan produksi tahunan menjadi 90 ribu metrik ton nikel matte dalam lima tahun ke depan.

Nikel banyak dikombinasikan dengan logam lain untuk membentuk campuran yang dikenal karena fleksibilitas dan ketahanannya terhadap oksidasi dan korosi. Logam ini mampu mempertahankan karakteristiknya bahkan dalam suhu ekstrem. Nikel digunakan dalam berbagai produk, seperti televisi, baterai isi ulang, koin, peralatan makan bahkan gerbong kereta.

Baca juga: Vale gandeng Puslitbang Tekmira tes aglomerasi
Baca juga: Vale Indonesia bukukan EBITDA 235 juta dolar

Oleh Afut Syafril Nursyirwan
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Upaya KKP dalam keberlanjutan SDI

Komentar