BKSDA Kalteng translokasi orangutan seberat 90 kilogram

BKSDA Kalteng translokasi orangutan seberat 90 kilogram

Orangutan jantan seberat 90 kg berusia 25 tahun yang dievakuasi BKSDA Kalteng pada 30 Agustus lalu. ANTARA/Dok. BKSDA Kalteng.

Kami mengimbau masyarakat segera melaporkan jika melihat ada orangutan atau satwa liar lainnya
Sampit (ANTARA) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah berhasil melakukan translokasi orangutan raksasa seberat 90 kilogram di Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah, namun dibutuhkan waktu sekitar dua jam untuk mengevakuasi satwa langka bernama latin pongo pygmaeus itu.

"Translokasi itu harus dilakukan untuk memindahkan orangutan ke tempat yang lebih baik," kata Komandan Pos Jaga BKSDA Sampit Muriansyah di Sampit, Rabu.

Tindakan rescue atau penyelamatan itu dilakukan di Desa Desa Bagendang Hilir Kecamatan Mentaya Hilir Utara pada 30 Agustus lalu namun baru dirilis BKSDA Kalimantan Tengah melalui akun media sosial mereka. Postingan itu pun mendapat tanggapan positif dari netizen.

Baca juga: Delapan orangutan kembali dilepasliarkan ke TNBBBR Katingan

Awalnya ada laporan dari warga bernama Tri bahwa ada orangutan berukuran besar berkeliaran di sekitar kebun sawit miliknya pada 29 Agustus. Menurut Tri, orangutan itu sudah terlihat dalam dua bulan di sekitar kebun miliknya.

Laporan itu langsung ditindaklanjuti oleh tim WRU SKW II BKSD Kalimantan Tengah bersama OF UK yang tiba di lokasi sekitar pukul 23.00 WIB. Tim harus bekerja keras menangkap orangutan jantan berusia 25 tahun. Sekitar dua jam atau pukul 01.00 WIB pada 30 Agustus, orangutan itu akhirnya berhasil dievakuasi setelah dilumpuhkan dengan tembakan bius.
Tim BKSDA Kalteng saat mengevakuasi orangutan besar di Desa Bagendang Hilir pada 30 Agustus lalu. ANTARA/BKSDA Kalteng

Setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan, orangutan dibawa ke kantor SKW II BKSDA Kalimantan Tengah di Pangkalan Bun. Akhir Agustus, orangutan ditranslokasi di Suaka Margasatwa Lamandau.

"Di lokasi ditemukannya orangutan itu kondisinya parah. Alih fungsi hutan jadi kebun, diperparah dengan kebakaran lahan. Otomatis, orangutan lari ke kebun warga karena relatif aman dari kebakaran dan ada makanan walaupun sebenarnya umbut sawit itu bukan makanan utama orangutan," kata Muriansyah.

Baca juga: Orangutan kelaparan rusak kebun nanas warga Sampit

Muriansyah mengatakan, Minggu (18/8) sore lalu pihaknya juga mendapat informasi bahwa warga Desa Bagendang Hilir Kecamatan Mentaya Hilir Utara ada menangkap orangutan berukuran besar. Beberapa hari sebelumnya memang sudah ada informasi kemunculan orangutan di kawasan itu.

Tim BKSDA kemudian mempersiapkan peralatan untuk mengevakuasi orangutan tersebut. Saat hendak berangkat, tim mendapat informasi lanjutan bahwa orangutan tersebut terlepas dan kabur.

Orangutan masuk ke kebun warga diduga karena habitat mereka rusak akibat alih fungsi lahan dan kebakaran lahan. Kebun warga menjadi sasaran karena relatif masih ada tanaman yang bisa mereka makan, namun kondisi ini memicu konflik antara orangutan dengan manusia.

"Kami mengimbau masyarakat segera melaporkan jika melihat ada orangutan atau satwa liar lainnya. Pihaknya segera menindaklanjutinya agar satwa itu bisa dievakuasi dengan cara yang benar sehingga tidak sampai terluka atau mati," ujarnya.

Baca juga: Warga Sampit serahkan orangutan setelah dirawat tujuh tahun

Pewarta: Kasriadi/Norjani
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar