counter

FKUB: Desa sadar kerukunan simbol perdamaian di bumi Poso

FKUB: Desa sadar kerukunan simbol perdamaian di bumi Poso

Prof Dr KH Zainal Abidin MAg menjadi pembicara pada launching desa sadar kerukunan dirangkaikan dengan dialog merawat perdamaian dan peresmian Tugu FKUB di Desa Tambarana, Rabu (4/9/2019) (ANTARA/Muhammad Hajiji)

Poso, Sulawesi Tengah (ANTARA) - Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah menilai launching desa sadar kerukunan di Kabupaten Poso menjadi simbol perdamaian di daerah tersebut.

"Ini berperan untuk menyampaikan pesan perdamaian kepada masyarakat secara luas selain di bumi Poso, juga di Sulawesi Tengah," ucap Ketua FKUB Sulteng, Prof Dr KH Zainal Abidin MAg, di Poso, Rabu.

FKUB bersama Kementerian Agama dan Pemerintah Daerah Kabupaten Poso menggagas dan membentuk desa sadar kerukunan. Desa Tambarana di Kecamatan Poso Pesisir Utara Kabupaten Poso, dipilih oleh instansi tersebut sebagai desa percontohan kerukunan yang telah dilaunching oleh instansi tersebut melibatkan masyarakat.

Baca juga: Papua Terkini - Mewujudkan perdamaian abadi di Papua

Launching Desa Tambarana sebagai desa sadar kerukunan dirangkaikan dengan dialog merawat perdamaian dan peresmian Tugu FKUB di Desa Tambarana, Rabu.

Prof Zainal Abidin MAg mengemukakan, Desa Tambarana sebelum dipilih dan ditetapkan untuk menjaga desa percontohan sadar akan kerukunan, jauh sebelum itu telah rukun walaupun masyarakat dalam desa itu terdiri dari bermacam suku dan agama.

Baca juga: WI dampingi bekas napi teroris Poso jadi kafilah perdamaian Sulteng

Walaupun demikian, kata dia, pascalaunching FKUB akan melakukan pendampingan, pembinaan secara kontinue dan berkesinambungan di desa itu dengan melibatkan Kementerian Agama dan Pemkab Poso.

"Iya, jadi pendampingan dan pembinaan akan menjadi kegiatan utama di desa tersebut. Masyarakat dari masing-masing agama dan suku akan dilibatkan dalam kegiatan non-ibadah, seperti dialog, seminar, atau kegiatan hari-hari besar nasional," sebut dia.

Baca juga: Organisasi kemahasiswaan: gandeng tokoh adat dalam persoalan Papua

Guru Besar Pemikiran Islam Moder sekaligus Rektor Pertama IAIN Palu itu menyebut lauching desa sadar kerukunan, merupakan gambaran realitas keberagaman dalam kehidupan masyarakat merupakan keniscayaan sosial.

Ia keberagaman ini berimplikasi pada lahirnya perbedaan. Semakin heterogen sebuah masyarakat semakin banyak perbedaan yang muncul. Bahkan dalam komunitas agama yang sama, masih terdapat perbedaan mazhab, dalam mazhab yang sama masih terdapat perbedaan pemikiran, dan seterusnya.

Baca juga: Pakar ingatkan akses internet juga bisa untuk jaga perdamaian di Papua

"Kerukunan tidak diwujudkan dengan menghilangkan perbedaan karena hal itu adalah sebuah kemustahilan.
Kerukunan terwujud justru melalui pengakuan dan penghargaan terhadap wujudnya perbedaan, sehingga tidak melahirkan sikap merasa benar sendiri," katanya.

Selanjutnya, ia menambahkan, mencari titik temu yang dapat menyatukan perbedaan tersebut dalam merajuk kehidupan bersama secara harmonis, maka desa sadar kerukunan merupakan titik temu merajut kehidupan bersama.
Foto bersama Bupati Poso Darmin Agustinus Sigilipu melaunching Desa Tambarana sebagai desa sadar kerukunan, dan meresmikan Tugu FKUB di Kabupaten Poso, didampingi Kepala Kanwil Kemenag Sulteng Rusman Langke, dan Ketua FKUB Sulteng Prof Dr KH Zainal Abidin MAg, Rabu (4/9/2019) (ANTARA/Muhammad Hajiji)

 

Pewarta: Muhammad Hajiji
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Telaga Tambing, wisata keanekaragaman hayati di Poso

Komentar