Bupati Hamim jadi kasir PDAM pada hari pelanggan nasional

Bupati Hamim jadi kasir PDAM pada hari pelanggan nasional

Bupati Hamim Pou (kiri) menjadi kasir pada Hari Pelanggan Nasional (HPN) 2019 di PDAM Bone Bolango, Gorontalo, Rabu (4/9/2019). (ANTARA/HO/Humas Pemkab)

dulu saya pernah jualan bakso, es cukur, bawang, cabe dan tomat, ikan kering, kain dan menjadi kernet
Gorontalo (ANTARA) - Bupati Bone Bolango, Hamim Pou menjadi kasir di loket pelayanan PDAM Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo pada peringatan Hari Pelanggan Nasional (HPN) 2019, Rabu.

"Jadi kasir, saya agak kaku dan kurang lancar, dulu saya pernah jualan bakso, es cukur, bawang, cabe dan tomat, ikan kering, kain dan menjadi kernet mobil. Tapi karena sekarang sudah canggih beda dulu yang masih manual saat menerima uang dan memberikan kembalian," ujarnya.

Menurut Hamim, sekarang saat menjadi kasir, Ia harus berhubungan dengan alat canggih sesuai menyebutkan nama pelanggan atau nomor pelanggan diketik di komputer lalu dicetak dan diserahkan kepada pelanggan dan ada juga arsip.

Dengan kecanggihan saat ini, Hamim merasa lebih ada transparansi karena kedua belah pihak yang sama-sama memegang klaim pembayaran.

Terkait pelayanan PDAM, Hamim jelaskan saat ini pihaknya sudah menyiapkan Peraturan Daerah (Perda) dalam hal penyertaan modal, nanti disiapkan sebesar Rp250 miliar sebab di tengah banyaknya PDAM yang sakit justru salah satunya yang sehat adalah PDAM Bonbol.

"Mudah-mudahan terus mencari sumber air baru. Mendekatkan masyarakat dengan sumber air yang menjadi paradigma pelanggan. Semoga transparansi dan jumlah pelanggan meningkat. Sangat ironi ada sungai besar, tapi air masih kurang pemenuhan kita baru 60 persen, padahal di RPJMD 70 persen sekurangnya layanan ke masyarakat terpenuhi,"jelasnya.

Dalam pemenuhan air bersih selama ini masyarakat masih keliru, seolah-olah cenderung hanya PDAM. Padahal banyak pihak seperti di Kementerian Pekerjaan Umum ada Pamsimas.

Hanya saja yang menjadi keprihatinan Bupati adalah kepatuhan pelanggan membayar, dan masih suka paradigmanya gratis.

"Idealnya harga air Rp6 ribu per kubik, tapi untuk masyarakat hanya Rp3 ribu, serta masih ada sepertiga pelanggan yang belum membayar dari 14 ribu pelanggan yang ada," katanya.

Ia menilai, jika semua pelanggan patuh membayar maka PDAM bisa menambah jaringan.

Sementara itu, Direktur PDAM Bone Bolango Yusar Laya mengatakan, pihaknya menjadikan hari pelanggan sebagai momentum menghargai pelanggan dengan memberikan cinderamata. Bahkan setiap pelanggan yang bayar tepat waktu juga diberikan souvenir.

"Ini semata-mata bentuk apresiasi kami ke pelanggan," ujarnya.

Dia akui dari 14 ribu pelanggan saat ini, tinggal 10 ribu aktif, ini penyebabnya tak lain di musim kering saat ini membuat parah kondisi instalasi pengolah air (IPA) di Suwawa Selatan dan Kabila Bone.

"Bayangkan hampir seribu pelanggan tidak aktif di Kabila Bone sekitar 700an itu aktif hanya seratus karena air yang biasanya 20 liter per detik tinggal 2,5 liter," kata dia, lagi.

Kondisi seperti itu juga terjadi di IPA Botupingge dan Ulantha. Oleh karena itu PDAM memasok air dengan mobil tanki.

"Bahkan yang seharusnya kita layani hanya pelanggan yang kena imbas, tapi ini kita layani semua. Ini karena disamping misi perusahaan juga misi sosial kemanusiaan," pungkasnya.

 

Pewarta: Adiwinata Solihin
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Presiden nilai pers semakin dibutuhkan

Komentar