counter

Pengamat: pasar Asia jadi potensi tujuan ekspor Indonesia

Pengamat: pasar Asia jadi potensi tujuan ekspor Indonesia

Petugas memasang spanduk ekspor pada sejumlah kontainer berisi komoditas pertanian dan perkebunan yang akan diekspor dalam rangka Program Gerakan Bersama Ekspor Pertanian Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045 di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (3/7/2019). ANTARA FOTO/Aji Styawan/aww. (ANTARA FOTO/AJI STYAWAN)

Jakarta (ANTARA) - Pengamat ekonomi Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi mengatakan kawasan Asia yang saat ini sedang berkembang pesat menjadi potensi tujuan ekspor utama bagi Indonesia.

Fithra dalam pernyataan di Jakarta, Kamis, mengatakan Indonesia perlu meraih peluang di Asia yang diperkirakan menjadi kawasan penyumbang perdagangan global terbesar dalam satu dekade ke depan.

"Tahun 2030 dari sisi output, terutama emerging market di Asia, ada China, ASEAN, Jepang, Korea, dan beberapa negara besar lainnya di Asia, itu bisa menyumbang 33-40 persen output dunia," katanya.

Untuk itu, menurut ahli perdagangan internasional ini, langkah Kementerian Perdagangan bersama pemangku kepentingan terkait untuk menggarap pasar Asia menjadi tepat.

Fithra melihat penguatan kerja sama di pasar tradisional menjadi langkah bijak, khususnya dengan negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara.

Meski demikian, tambah dia, menggarap pasar baru seperti di Timur Tengah dan Afrika juga sangat diperlukan ketika kondisi global masih diliputi ketidakpastian.

"Jadi, kita jangan membatasi diri hanya di Asia Timur karena lebih banyak, lebih baik," ujarnya.

Selain itu, ia mengingatkan pemerintah untuk meningkatkan utilisasi dari kerja sama perdagangan yang sudah disepakati karena pemberdayaan berbagai komitmen tersebut baru sekitar 30 persen.

Dalam kesempatan terpisah, pengamat ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan pembenahan kinerja manufaktur menjadi penting agar pengembangan pasar mudah dilakukan.

"Sebelum perluas pasar harus ada barangnya. Persoalannya adalah barang yang mau kita ekspor yang jadi andalan kita itu selama ini komoditas. Pasar untuk barang komoditas itu ya itu-itu saja," katanya.

Menurut dia, Indonesia akan sulit membahas pengembangan pasar bila mayoritas barang yang dijual berupa komoditas, bukan produk atau barang olahan.

Piter bahkan berpandangan bahwa Indonesia selama ini terlalu fokus pada produksi komoditas sehingga melupakan industri manufaktur.

Baca juga: Kadin berharap Indonesia bisa ekspor waralaba ke luar negeri
Baca juga: Indonesia didorong perluas pasar ekspor ke Hong Kong

Baca juga: Pengamat: penguatan ekspor ke negara Afrika sangat diperlukan
 

Pewarta: Satyagraha
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pengamat ragukan pelaku penyerangan Wiranto terkait JAD

Komentar