Kemenko PMK: Tiga kapasitas perlu dibangun hadapi bencana alam

Kemenko PMK: Tiga kapasitas perlu dibangun hadapi bencana alam

Petugas mengukur amplitudo pergerakan aktivitas Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu yang terekam melalui seismograf di pos pengamatan Gunung Api Tangkuban Parahu Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Cikole, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (2/8/2019). ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/foc. (ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI)

Jakarta (ANTARA) - Asisten Deputi Tanggap Bencana Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Nelwan Harahap mengatakan terdapat tiga kapasitas yang harus dibangun masyarakat dalam menghadapi bencana alam.

"Pertama, bagaimana kita membangun kesadaran di dalam masyarakat," kata dia saat menjadi salah satu narasumber terkait mitigasi bencana alam di Jakarta, Sabtu.

Ia mengatakan setiap masyarakat di Tanah Air harus memiliki kesadaran tinggi bahwa berada di daerah yang rawan bencana alam dengan risiko sedang hingga tinggi.

Di satu wilayah, tidak hanya terdapat satu risiko bencana alam, namun juga berpotensi terjadi bencana alam lainnya. Kemudian yang kedua yaitu masyarakat harus meningkatkan kapasitas terkait pengetahuan tentang kebencanaan.

Baca juga: Kemensos miliki 638 Kampung Siaga Bencana di seluruh Indonesia

Baca juga: BPCB: Tingkat mitigasi bencana masyarakat Liyangan kuno tinggi


Pengetahuan ini ditujukan agar setiap orang mengetahui langkah yang mesti dilakukan saat terjadi bencana alam. Bahkan, Kemenko PMK menilai banyaknya korban jiwa dalam bencana alam disebabkan kepanikan masyarakat.

"Pembunuh terbesar dari bencana itu bukan karena peristiwanya, tapi disebabkan diri kita sendiri yang tidak siap menghadapinya," ujar dia.

Oleh karena itu, masyarakat harus mengetahui langkah yang perlu dilakukan saat terjadi bencana alam dan memahami segitiga kehidupan sebagaimana yang sering dipaparkan oleh Basarnas.

Terakhir, untuk meminimalisir korban jiwa saat bencana alam, masyarakat harus menguatkan kapasitas kearifan lokal dan membangun komunikasi secara cepat. Karena, 'Golden Time' saat peringatan dini hanya berkisar lima menit hingga lima jam serta tergantung jenis bencananya.

"Dalam penelitian, penyelamatan saat situasi bencana itu 96 persen dilakukan oleh korban dan komunitasnya," kata dia.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu membangun jejaring sosial dan saling mengingatkan bila terjadi bencana alam. Sebagai contoh, program Dasawisma yang terdiri dari 10 rumah terdekat saling berkoordinasi saat terjadi musibah.

Baca juga: Kemenko PMK koordinasikan kesiapsiagaan risiko bencana Gunung Anak Krakatau

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mayoritas alat pendeteksi longsor di Gunungkidul rusak

Komentar