counter

70 tahun usia RRC: pasang surut hubungan dengan Indonesia

70 tahun usia RRC: pasang surut hubungan dengan Indonesia

Associate Profesor Dr. Murpin Josua Sembiring, S.E., M.si, Rektor Universitas Ma Chung Kota Malang-Jawa Timur

Oleh : Murpin Josua Sembiring*

Hubungan persahabatan Tiongkok-Indonesia telah terjalin sejak abad ke-12 Jauh sebelum bangsa Eropa masuk ke Indonesia, Tiongkok sudah lebih dulu ada di Nusantara hingga terjadi akulturasi budaya dengan beragam kerjasama yang tidak hanya didasari sifat saling menguntungkan namun juga saling berbagi nilai-nilai demokrasi, hak asasi manusia, teknologi pangan dan pengolahannya, seni dan kebudayaan sehingga hubungan historis yang panjang ini dapat semakin baik antara Tiongkok- Indonesia untuk memberi dampak positif bagi masyarakat kedua negara serta saatnya bersama-sama menciptakan kesejahteraan bersama di masa mendatang mengingat hubungan kemitraan strategis yang komperhensif antara Tiongkok dan Indonesia terus maju dan berkembang serta kondisi saat ini merupakan era terbaik dalam sejarah hubungan kedua negara.

Kulturisasi budaya dan penyebaran agama

Terbukti banyaknya peninggalan-peninggalan seperti di Bali yang dipengaruhi kebudayaan Tiongkok. Banyak tempat peribadatan saling berdampingan citranya antara etnis Tiongkok dengan Bali, dengan benda-benda peninggalan Tiongkok seperti uang kepeng yang masih digunakan dalam prosesi budaya Bali yakni upacara agama Hindu. Beberapa tarian Bali juga dipengaruhi oleh seni budaya Tiongkok seperti tari baris, barong ket atau barong landung.

Suku Betawi sebagai penduduk asli kota Jakarta juga memiliki musik khas tradisional seperti gambang kromong, yang merupakan musik khas orang-orang Tionghoa. Tari Jaipong dengan pakaian khas penari yang mirip dengan pemain Opera di Beijing. Sebutan “Lu” (kamu) dan “gue” (saya) dari dulu hingga saat ini sangat popular di Jakarta bahkan ditiru banyak wilayah diseluruh Indonesia dan kata tersebut berasal dari rumpun dialek bahasa yang dituturkan orang Tiongkok di kawasan Fujian suku Hokkian. Perkawinan campur Nusantara-China menjadi faktor terserapnya budaya peranakan, termasuk adaptasi bahasanya, teknologinya, kulinernya dsb.

Dalam karyanya Nusa Jawa: Silang Budaya Lombard memperlihatkan pentingnya pengaruh budaya Tionghoa ini. Bukan saja bagi masyarakat Asia Tenggara tetapi juga masyarakat Jawa. Besarnya pengaruh ini tak saja mewarnai pembentukan aspek kebudayaan, melainkan juga kehidupan sehari-hari.

Budaya Tionghoa tidak saja telah mempengaruhi perkembangan teknik produksi dan budi daya berbagai komoditas seperti gula, padi, arak, tiram, udang, garam, dan lain-lain, juga membawa pengaruh besar pada perkembangan sistem kongsi, teknik kemaritiman, perdagangan, dan sistem moneter di Jawa.

Sejarawan Indonesia, Slamet Mulyana dalam disertasinya tentang Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara itu membangun sebuah hipotesa, bahwa agama Islam secara historis dibawa masuk ke tanah Jawa oleh para ulama etnis Tionghoa. Para ulama ini, yang di Jawa populer disebut “Wali Songo”, diyakini berasal dari Champa (Kamboja atau Vietnam). Tak salah jikalau mantan Presiden ke-4 BJ Habibie bahkan pernah mengatakan: “Hadiah terbesar bangsa Tionghoa kepada Indonesia adalah agama Islam". Pernyataan ini dikatakan saat Habibie memberikan ceramah di Masjid Lautze, Pasar Baru, Jakarta, pada Jumat 29 Agustus 2013. Bicara budaya etnis Tionghoa, boleh dikata hidup dan berkembang seirama dengan perkembangan politik di tanah air.

Pasang surut Beijing-Jakarta.

Era Deng Xiaoping pada 1977, suara-suara pro-normalisasi hubungan diplomatik Jakarta-Beijing kembali mencuat di Indonesia dengan tokoh sentralnya Adam Malik dan Mochtar Kusumaatmaja (Departemen Luar Negeri Indonesia) saat itu, yang ingin memperjelas bahwa Indonesia adalah negara dengan politik non-blok. Begitu pula dengan kalangan usahawan dalam negeri melalui normalisasi hubungan Jakarta-Beijing, Indonesia akan leluasa menggalakkan ekspor ke Tiongkok, yang secara tak langsung bisa menggairahkan industrial domestic, namun baru bisa tercetus pada tahun 1990 dan memunculkan keinginan kuat pemerintah Indonesia untuk memainkan peran penting dalam masalah-masalah internasional diantaranya menjadi pemimpin organisasi negara-negara non-blok (GNB), hasrat Indonesia untuk menggalakkan ekspor non-migas agar komoditi non-migas tidak hanya memasuki pasar Jepang atau Barat namun juga ke Tiongkok sebagai salah satu negara berpenduduk terbanyak di dunia, menyimpan potensi pasar yang besar bagi produk-produk Indonesia. Faktor pendukung jalur perdagangan Internasional tentu Indonesia dengan potensi kekayaan laut dan posisi jalur perdagangan lautnya yang sangat luas dan strategis pantas diperhitungkan dunia, Indonesia punya laut sangat luas bisa mempersulit negara manapun bila mempersulit Indonesia.

Di era kepemimpinan Presiden SBY cukup banyak kesepakatan terkait pengembangan ekonomi, budaya serta pendidikan. Indonesiapun belajar keberhasilan RRC memberantas “budaya” korupsi yang sudah mengakar di RRC baik oleh aparatur maupun masyarakatnya dengan cara yang menarik adalah melalui culture approaching yang dijunjung tinggi, sektor pendidikan dan tindakan tegas dan keras tanpa kompromi terhadap para pelaku korupsi sangat berdampak pada kemajuan Tiongkok karena mereka sangat yakin akar masalah terpuruknya sebuah negara dan sengsara rakyatnya karena oleh ulah para koruptor. Indonesia perlu banyak belajar keberanian Tiongkok untuk menindak tegas dan keras bahkan hukuman mati bagi para Koruptornya. Kultur Indonesia dengan RRC sesama bangsa Asia yang positip dan layak ditiru tidak akan terlalu jauh berbeda terlebih proses kulturalisasi sudah terjadi sejak dahulu kala.

Kemitraan strategis antara RI-RRC dalam kesejarahannya, kulturisasi seni dan budaya antar negara dll seharusnya mampu menguatkan fundamental ekonomi, penguatan kultural yang positip dan peningkatan kerjasama dibidang pendidikan dan teknologi untuk peningkatan mutu SDM kedua negara yang lebih luas dan nyata ke depan. Presiden SBY pernah mengungkap bahwa kelak Tiongkok dapat menjadi pionir 'Asian Century' dan “the real super power” sebuah tatanan masyarakat benua Asia yang berasaskan pembangunan demi kesejahteraan bersama, maka akan terjalin relasi dinamis dan harmonis antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Satu jalinan yang berlandaskan kepercayaan, sikap saling menghormati dan saling memahami budaya serta kepentingan masing-masing (Republika, 31 Juli 2005) dan hubungan dinamis dan harmonis ini harus dirancang dengan baik program-program yang massip dan dilanjutkan oleh generasi muda/millennial Indonesia dengan cara kekiniannya.Menonjolkan dan mempromosikan kesamaan serta kedekatan budaya, terutama di kalangan anak muda dapat menguatkan hubungan negara-negara Asean, khususnya Indonesia dengan Tiongkok yang telah terjalin sejak bertahun-tahun yang lalu. Indonesia juga layak belajar strategi Tiongkok menghasilkan orang-orang kaya baru di middle class, para pebisnis start up/usaha micro yang begitu massip dan terukur sehingga pertumbuhan ekonomi Tiongkok meningkat dengan garansi pemerataan ekonomi rakyatnya terjawab. Selamat Hari Kemerdekaan ke-70 tahun berdirinya Republik Rakyat China (RRC) biarlah tetap menjadi saudara yang baik dan tulus bagi kemajuan Indonesia.

Penulis:
Associate Profesor Dr. Murpin Josua Sembiring, S.E., M.si
Rektor Universitas Ma Chung Kota Malang-Jawa Timur

Email: murpin.sembiring@machung.ac.id

Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar