counter

Tokoh agama ikuti pelatihan cegah kekerasan berbasis gender

Tokoh agama ikuti pelatihan cegah kekerasan berbasis gender

Kepala Sub Bidang Advokasi Penanganan Masalah Sosial mewakili Asisten Deputi Partisipasi Organisasi Keagamaan dan Kemasyarakatan KPPPA, Desi Oktarina, menyampaikan sambutan pada pelatihan pencegahan kekerasan berbasis gender bagi tokoh agama, adat dan masyarakat, di Palu, Senin. (ANTARA/Muhammad Hajiji)

Palu (ANTARA) - Kementerian Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (KPPPA) bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Sulawesi Tengah melatih tokoh agama dari semua agama untuk mencegah terjadinya kekerasan berbasis gender  di Palu, Senin.

"KPPPA mengajak para pengambil keputusan dan perwakilan dari unsur lembaga masyarakat, dari lembaga profesi, dunia usaha, media cetak dan elektronik, organisasi masyarakat dan organisasi keagamaan, untuk bersama-sama bersinergi mengatasi berbagai permasalahan khususnya kekerasan berbasis gender," ucap Asisten Deputi Partisipasi Organisasi Keagamaan dan Kemasyarakatan KPPPA, Meydian Werdyastuti dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Sub Bidang Advokasi Penanganan Masalah Sosial, Desi Oktarina, di Palu, Senin.

KPPPA bersama DP3A Sulteng melibatkan ratusan tokoh agama di Sulawesi Tengah untuk dilatih menjadi ujung tombak akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak dari pendekatan agama.

Baca juga: UNFPA: Terjadi 57 kekerasan seksual dalam masa darurat Sulawesi Tengah

Baca juga: KPPPA: Kekerasan dalam situasi darurat jarang dilaporkan


Meydian Werdyastuti mengatakan pemerintah tidak akan sanggup bekerja sendirian mengatasi tingginya kekerasan terhadap perempuan dan anak.

"Banyak sekali keterbatasan jangkauan yang dihadapi seperti jumlah SDM, anggaran, dan sarana yang terbatas. Selain itu, dengan bekerja bersinergi manfaat yang dihasilkan akan lebih besar dibandingkan dengan bekerja sendiri," kata dia.

Ia menyebut perempuan dan anak adalah isu lintas sektor dan bidang yang sangat strategis. Berhasil tidaknya suatu negara bergantung pada kontribusi yang diberikan oleh perempuan dan anak.

Karena itu, pembangunan pemberdayaan perempuan di Indonesia diarahkan kepada upaya untuk meningkatkan posisi tawar, kompetensi serta peningkatan peran dan kedudukan perempuan di berbagai bidang.

"Inilah hakekat dari kesetaraan gender yang diharapkan terwujud di Indonesia, dengan memberikan akses, memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dan terlibat dalam proses pembangunan yang adil sesuai dengan kebutuhan," sebut dia.

Terkait hal itu Kepala DP3A Sulawesi Tengah Ihsan Basir mengemukakan bahwa keterlibatan tokoh agama sangat penting dan prinsip dalam upaya mengakhiri kekerasan berbasis gender.

"Peran agama yang dimainkan oleh tokoh-tokoh agama sangat memberikan dampak positif kepada masyarakat, dalam pembinaan mental spiritual," ujar dia.

KPPPA bersama DP3A Sulteng melibatkan berbagai narasumber dari akademisi, dan ulama, dalam pelatihan pencegahan kekerasan berbasis gender bagi tokoh agama, adat dan masyarakat, 9 - 11 September 2019, di Palu.

Baca juga: KPKPST-UNFPA latih pendamping penanganan kekerasan berbasis gender
Kepala DP3A Sulteng Ihsan Basir menyampaikan sambutan pada pelatihan pencegahan kekerasan berbasis gender bagi tokoh agama, adat dan masyarakat, di Palu, Senin. (ANTARA/Muhammad Hajiji)

Pewarta: Muhammad Hajiji
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pascabencana, 14 kasus pernikahan dini di kamp pengungsian Pasigala

Komentar