counter

Iritasi kulit-mata akibat asap dialami warga Pekanbaru dampak karhutla

Iritasi kulit-mata akibat asap dialami warga Pekanbaru dampak karhutla

Petugas kesehatan melayani pasien dengan keluhan penyakit akibat kabut asap karhutla di Puskesmas Simpang Tiga Pekanbaru, Riau, Selasa (10/9/2019). ANTARA FOTO/Rony Muharrman/aww.

Pekan kedua September 2019, Riau memasuki fase terburuk kabut asap dampak dari karhutla. Catatan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berada pada level sangat tidak sehat
Kota Pekanbaru (ANTARA) - Sejumlah warga Kota Pekanbaru, Provinsi Riau kini banyak mengalami iritasi kulit dan mata akibat terpapar kabut dan asap dampak kebakaran lahan dan hutan (karhutla) bersamaan dengan musim kemarau yang melanda daerah itu sejak beberapa bulan terakhir.

"Sejak beberapa bulan terakhir, kasus iritasi kulit dan mata, makin bertambah dan pasien yang datang berobat mengeluhkan gejala yang sama, terasa perih di kulit, dan gatal-gatal," kata dr Maya dari Puskesmas Langsat, Kota Pekanbaru, Selasa, di Pekanbaru.

Menurut dia gejala gatal-gatal yang dirasakan pasien lebih karena adanya partikel-partikel dari bahan-bahan yang bakar mengandung bahan berbahaya dan ketika dibawa angin menempel di kulit.

Bagi kulit yang tergolong sensitif, katanya, berisiko mudah mengalami iritasi dan pasien yang berobat terdampak asap di Puskesmas Langsat, Kelurahan Kampung Tengah, Kecamatan Sukajadi, Kota Pekanbaru itu terbanyak.

Sedangkan yang kedua adalah ISPA setelah iritasi mata dan iritasi kulit.

"Untuk pasien iritasi kulit mengalami gejala gatal-gatal pada sejumlah bagian tubuh, menjalar, bahkan susah tidur karena gatal di tubuh harus digaruk sehingga membutuhkan pengobatan segera," katanya.

Pasein iritasi kulit telah diberikan obat CTM atau "chlorphenamine maleate" yang memiliki kandungan lengkap antibiotik dan meransang pasien untuk beristirahat, namun demikian warga diimbau tetap mengonsumsi makanan bergizi, banyak minum air putih, kurangi aktivitas di luar rumah.

Jika masih ada aktivitas di luar rumah, katanya, sebaiknya memakai masker, guna mengurangi riiko makin parah terpapar kabut dan asap. Selain itu, bagi ibu-ibu yang akan menjemur pakain setelah dicuci sebaiknya di dalam rumah saja.

Sebab, katanya menambahkan kain dijemur di luar rumah, katanya lagi berpotensi sejumlah partikel yang dikandung asap dan kabut akan hinggap di kain dampaknya kulit berpotensi iritasi saat pakaian tersebut terpakai atau terhirup dan bisa ISPA.

Resti Dian Putri (49), warga Pekanbaru mengakui dirinya hingga malam susah tidur, karena sekujur tubunya terasa gatal-gatal sejak siang hari, padahal tidak pernah memakan makanan yang bisa mengakibatkan seperti orang alergi.

"Aneh, saya tidak pernah makan makanan yang bisa membuat alergi seperti udang, ikan asin atau lainnya, tiba-tiba terasa gatal begini, untung cepat dibawa ke Puskesmas sehingga rasa cemas tidak makin bertambah," katanya.

Pekan kedua September 2019, Riau memasuki fase terburuk kabut asap dampak dari karhutla. Kualitas udara di Kota Pekanbaru pada Selasa (10/9), seperti mengulang memori kelam yang pernah melanda wilayah itu pada 2014-2015 silam.

Sementara itu berdasarkan catatan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, berada pada level sangat tidak sehat, dan ini sangat membahayakan kesehatan.

Baca juga: BEM Universitas Riau desak pemerintah cepat atasi Karhutla

Baca juga: Gubernur Riau perintahkan buat posko kesehatan antisipasi kabut asap

Baca juga: Asap karhutla pekat, puluhan siswa SDN 153 Pekanbaru terserang ISPA

Pewarta: Frislidia
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

40 hektare lahan di pinggir Pekanbaru ludes terbakar

Komentar