counter

BJ Habibie wafat, IA-ITB: komunitas iptek kehilangan panutan

BJ Habibie wafat, IA-ITB: komunitas iptek kehilangan panutan

FOTO DOKUMENTASI. Menteri Negara Riset dan Teknologi B.J. Habibie (kiri) menjelaskan kepada tamunya Menteri Perdagangan dan Industri Finlandia Esko Ollila tentang pesawat helikopter dan pesawat CN235 hasil produksi pabrik Industri Pesawat Terbang Nurtanio yang dikerjakan putra/putri Indonesia dalam suatu pertemuan di Gedung BPP Teknologi, Jakarta (26-1-1983). Presiden ke-3 Republik Indonesia B.J. Habibie wafat pada hari Rabu (11/9/2019) pukul 18.05 WIB di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. (ANTARA FOTO/P02/wsj).

Saya kira itu yang paling penting dari semua karyanya, yaitu menciptakan anak-anak iptek yang luar biasa banyak
Jakarta (ANTARA) - Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) menyatakan wafatnya Presiden ke tiga Indonesia BJ Habibie membuat komunitas ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) kehilangan tokoh panutan.

“Kami, komunitas iptek baik dari ITB, BPPT, semuanya, kehilangan tokoh besar yang kalau bisa dibilang sebelumnya tidak ada lagi,” kata Ketua IA ITB Ridwan Djamaluddin yang dihubungi di Jakarta, Rabu malam.

Ridwan menyebut jasa Habibie amat banyak. Pasalnya, selain menciptakan produk teknologi, mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi itu juga telah melahirkan ribuan insan intelektual yang akan melanjutkan perjuangannya.

“Saya kira itu yang paling penting dari semua karyanya, yaitu menciptakan anak-anak iptek yang luar biasa banyak,” imbuh Ridwan yang juga menjabat sebagai Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Kemenko Kemaritiman itu.

Ridwan berharap kiprah Habibie yang dikenal atas jasanya dalam teknologi kedirgantaraan itu bisa menjadi contoh yang diteruskan ke generasi mendatang.

Ia juga menyoroti peran Habibie yang tidak hanya peduli pada teknologi, tetapi juga dalam demokratisasi. Ridwan berharap perjuangan Habibie bisa terus dilanjutkan di masa mendatang.

B.J. Habibie meninggal dunia dalam usia 83 tahun pukul 18.05 di RSPAD Gatot Subroto di Jakarta pada Rabu. Menurut putranya, Thareq Kemal Habibie, dia berpulang karena faktor usia.

Habibie yang lahir di Parepare, Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1936 itu wafat akibat masalah pada jantungnya.

Habibie belajar keilmuan teknik mesin di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (sekarang ITB) pada 1954. Pada 1955–1965, Habibie melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di RWTH Aache, Jerman Barat, menerima diplom ingenieur pada 1960 dan gelar doktor ingenieur pada 1965 dengan predikat summa cum laude.

 

Baca juga: Habibie wafat, dunia kedirgantaraan nasional kehilangan sosok besar
Baca juga: Tokoh Muda Sulut : Habibie bukti kecerdasan intelektual
Baca juga: Habibie wafat - PKPI: Habibie teknokrat sejati yang sulit tergantikan


 

Pewarta: Ade irma Junida
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Masyarakat berziarah ke makam Habibie

Komentar